Tentang Informasi yang Simpang Siur di Mako Brimob

Saya meliput peristiwa rusuh di rutan Mako Brimob sejak Rabu (9/5) siang, sampai Kamis pagi saat Wakapolri Komjen Syafruddin mengumumkan seluruh operasi tuntas.

Awalnya jurnalis berkumpul di jalan raya depan Gereja GPIB Gideon. Rabu sore, kami pindah ke Direktorat Satwa Mabes Polri, sekitar 100 meter di samping Mako Brimob. Sebagian, memilih tetap di jalan depan gereja untuk memantau keluar masuk kendaraan.

Seluruh area depan gerbang Mako Brimob steril dalam radius sekitar 300 meter. Orang awam, tidak bisa seenaknya melintas. Area itu dijaga petugas bersenjata lengkap dengan rompi anti peluru. Saya juga lihat ada sekitar tiga baracuda di jalanan. Rumah dan pertokoan di sepanjang area tersebut, tutup.

Kami jurnalis tidak leluasa meliput. Teman saya Aldo kena bentak karena salah masuk ke area depan Mako. Saya juga ditegur saat mengarahkan kamera handphone ke arah gerbang.

Titik terdekat jurnalis dengan lokasi peristiwa ialah di direktorat Satwa. “Pasti terdengar dari sini kalau ada suara tembak menembak,” kata seorang petugas di direktorat satwa.

Karena itu, informasi soal peristiwa di dalam, praktis hanya dari pihak kepolisian. Memang ada informasi lain yang beredar di antara kami, tetapi sulit dipertanggungjawabkan karena sifatnya rumor. Salahsatunya ialah kabar seluruh napi teroris di dalam mako brimob, sudah dieksekusi.

Persoalannya, informasi dari polisi dengan dua corong utama, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto dan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigjen M Iqbal memang kerap berubah-ubah, tidak konsisten, dan tidak lengkap.

Misalnya soal waktu pertamakali bentrok pecah, sempat menyebut pukul 19.30 wib. Di lain waktu Irjen Setyo Wasisto bilang sore hari sudah terjadi tembak menembak. Sementara warga, bilang mulai mendengar tembakan pukul 20.00 wib.

M Iqbal juga sempat bilang polisi sudah mengendalikan situasi. Tetapi malamnya, Setyo Wasisto mengatakan seluruh Rutan sudah dikuasai tahanan. Kronologis peristiwa pun, tak pernah lengkap penjelasannya, misalnya bagaimana enam petugas dengan senjata lengkap bisa terbunuh?

Sejumlah informasi juga dututupi. Misalnya soal isi negosiasi. Timbul kesan, polisi menyembunyikan informasi.

Ketika sekitar 11 malam, Irjen Setyo mengabarkan para petugas meninggal dengan luka gorok di leher, saya bertanya dari mana para pelaku dapat golok? ” Nah itu juga saya belum tahu,” kata Setyo.

Saat Kamis sekitar pukul 1 dini hari, Setyo mengabarkan satu sandera atas nama Brigadir Iwan Sarjana sudah bebas, ditukar dengan makanan. Saya tanya lagi, kalau itu sandera terakhir mengapa polisi tidak langsung melakukan tindakan tegas? Kata Setyo, Iwan memang sandera dari pihak kepolisian. Apakah artinya ada sandera lain dari napi? Jawaban yang diberikan Setyo tak jelas. Dia juga tak menjawab soal berapa porsi makanan untuk para napi.

Bahkan kadiv humas itu pun tak tahu persis jumlah bangunan yang ada di dalam. Dia sempat bilang Napi sudah menguasai seluruh rutan. Tetapi dia tampak kebingungan ketika kami bertanya bagaimana nasib tahanan non teroris seperti Basuki Tjahaja Purnama? Sempat bilang Basuki Tjahaja Purnama dalam kondisi aman, tetapi di kesempatan lain Setyo mengaku belum bisa memastikan nasib tahanan lain.

Beberapa wartawan saya lihat terus mencecar, sehingga Setyo dengan jengkel bilang ” Saya tidak ada di dalam, saya juga harus tanya dulu!”

Sebenarnya Humas Polisi tidak menutup diri. Setyo dan M Iqbal ada satu gedung bersama wartawan. Setelah selesai konfrensi pers mereka melayani semua pertanyaan. Siaran langsung dengan televisi pun dilayani. Tapi persoalannya, memang tidak semua pertanyaan mereka bisa jelaskan dengan tuntas. Mengapa? Karena informasi yang didapat Setyo dari dalam pun sepertinya tidak lengkap.

Di timline sosial media, saya lihat banyak orang menghubungkan ketikdakonsistenan cerita polisi sebagai indikasi adanya “permainan”, bahkan ada yang menilai skenario pengalihan isue. Padahal menurut saya itu hanya cermin, Humas Polri tidak siap menghadapi krisis.

Kurang koordinasi misalnya terlihat dari penyebutan kata “negosiasi” selama wawancara dengan media, berulangkali Setyo dan M Iqbal bilang ada “Negosiasi” dengan napi. Belakangan hal itu dibantah keras Wakapolri Komjen Syafruddin sebagai pelaksana operasi. ” Tidak ada yang namanya negosiasi. Kami berikan ultimatum!” Lah?

Sejak awal memang seharusnya kata negosiasi tak perlu keluar dari mulut polisi. Haram hukumnya kekuatan negara bernegosiasi dengan kejahatan (Meskipun fakta di lapangan, memang ada negosiasi).

Sjafrudin juga yang meluruskan soal penyebutan nama Rutan. Bahwa itu adalah Rutan Cabang Salemba di Mako Brimob Kelapa Dua. Sebelumnya, selama dua malam drama tersebut tak pernah ada koreksi dari polisi ketika media massa dan sosial media menyebut namanya “Rutan Mako Brimob”.

Koordinasi berantakan juga terlihat saat wartawan diijinkan mendekat ke lapangan utama Mako Brimob, beberapa saat setelah operasi dinyatakan selesai. Sudah sampai ke pinggir lapangan, Petugas Brimob justru menghalau mengusir wartawan, bahkan menghardik salah seorang petugas Humas dengan keras. “Keluar, di sini masih ada bahan peledak!” Kata petugas itu.

Di sisi lain saya melihat banyaknya bolong dalam penjelasan polisi karena mereka juga harus memberi penjelasan sambil tetap menjaga citranya agar jangan sampai timbul kesan mereka lalai dan ceroboh mengurus napi. Ada informasi-informasi sensitif yang mereka mau jaga.

Terbukti, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian sendiri yang harus mengakui bahwa Rutan di dalam Mako Brimob itu memang tidak didesain untuk level penjagaan maximum. Gudang bukti senjata ternyata berada dalam satu gedung yang sama dengan tahanan. Padahal para napi teroris ini tergolong berani dan terlatih. Penjelasan Kapolri makin membuat masuk akal kenapa peristiwa ini sampai terjadi. Betul, masih banyak lubang dalam cerita. Karena itu polisi “berhutang” penjelasan detail agar tidak timbul spekulasi-spekulasi liar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s