Joachim yang Menggemaskan

Joe, sudah lama bapak tak menulis tentangmu. Terakhir tahun 2015, ketika kamu masih janin. Waktu itu bapak amat bahagia karena bakal memiliki bayi.

Sekarang pun aku sangat bahagia melihat kamu tumbuh lucu dan menggemaskan. Sungguh, kamu melebihi semua mimpi-mimpi dan harapanku.

Aku dulu berandai-andai bakal seperti apa rupa wajah anakku dan tingkah lakunya. Ternyata kau melebihi semua harapan. Lebih tampan dari imajinasiku, lebih lucu dari bayanganku, lebih cerdas dari dugaanku.

Aku begitu takjub melihat kau bernyanyi. Sebelum usiamu dua tahun, kau sudah menghapal banyak sekali lagu. Bernyanyi dengan sangat riang saat kau bermain. Bahkan dengan nada yang selaras. Setiap kali bapak memainkan gitar dan membawakan irama lagu anak-anak kesukaanmu, kamu langsung ikut bernyanyi dengan nada serupa petikan gitar. Ibumu begitu yakin kau berbakat jadi penyanyi.

Kami tak tahu mengapa begitu cepatnya kau mengenali nada. Aku menduga karena sejak kamu di kandungan, ibumu sudah memperdengarkan musik-musik klasik. Dia membeli headphone besar dan menempelkannya di perut. Aku sempat merasa konyol melihat tingkah ibumu. Kupikir, manalah mungkin jabang bayi bisa mendengar dari balik perut. Tapi ternyata setiap mama lakukan itu, kamu akan bergerak-gerak dalam perut, menendang-nendang.

Bisa jadi, kemampuanmu menyanyi juga karena kebiasaan kami membuaimu dengan nyanyian sebelum tidur. Joe, mamamu pencipta lagu yang hebat. Sudah banyak lagu dia ciptakan karena bosan dengan lagu Nina Bobo, pengantar tidur yang itu-itu saja. Salahsatu lagu ciptaannya yang aku suka, begini syairnya.

Joachim kesayangan mama

Sahabat kecilku

Tidurlah, tidur

Di pelukan mama

Tidurlah anakku…”

Aku pernah mendengar, anak usia dua tahun seharusnya sudah bisa menghafal 30 kata. Tapi joe, bahkan sebelum usia dua tahun kamu sudah mengetahui ratusan kata dan konsep-konsepnya. Di jalan raya, kamu sering menunjuk hampir semua jenis kendaraan dan menyebutkan namanya. Bahkan alat berat seperti eskavator, traktor, dan crane pun kamu tahu bedanya.

Kamu tahu membedakan mana truk sampah, truk box, truk kontainer dan truk molen di jalan raya, padahal kami hanya menunjukannya lewat buku. Suatu hari kamu bikin bapakmu ini takjub karena kamu mendebatku. Itu terjadi ketika aku menolak mengajakmu jalan-jalan. Aku bilang di dalam mobil panas Kamu bilang, nyalain AC . Aku bilang ,AC mati. Lalu kamu balas, naik motor saja.

Aku pikir kecerdasanmu pasti datang dari ibumu. Memang pernah aku baca Joe, sebuah artikel yang bilang kecerdasan seorang anak biasanya menurun dari ibu. Begitu juga kemampuan mendebat itu, bapak yakin juga pasti turun dari ibumu. Asli! Sulit berdebat dengan ibumu Joe. If you know what i mean joe. Hehe

Mungkin juga kemampuan itu tak menurun begitu saja, tapi memang karena cara ibumu mendidik. Dia selalu menekankan aku agar selalu mengacuhkanmu, mengindahkanmu, menghiraukanmu. Komentar sesepele apapun harus kami tanggapi. Tidak boleh mengabaikan pertanyaanmu. Mengajakmu bicara seperti menghormati orang dewasa berbicara.

Ibumu marah kalau aku mengajakmu bicara dengan gaya cadel. Ibumu ingin kami mengucapkan sebuah kata dengan benar. Meskipun kamu menyebut mobil dengan “din-din”, tapi kami harus tetap menyebutnya “Mobil”. Orang rumah rasanya pernah kena marah ibumu karena menirukanmu berbicara cadel. Padahal Joe, semua orang pun tahu mengajak bicara todler dengan gaya cadel itu lucu dan menggemaskan, tapi tetap saja tak boleh.

Ibumu juga sering mengingatkanku, jangan membohongimu dalam pembicaraan seremeh apapun. Kemukakan alasan-alasan yang baik. Misalnya, jangan menyelinap ke luar rumah hanya karena khawatir kamu merengek minta ikut. Bilang saja terus terang kalau harus meninggalkannya untuk bekerja. Meski berat, kami harus terbiasa menatap matamu yang tak rela ditinggalkan.

Kami ingin jadi orangtua yang bisa dipercaya Joe. Itu sebabnya kami juga membiasakan diri tidak mengucapkan janji yang tak bisa ditepati. Dan jika sudah berjanji harus ditepati. Kamu anak yang sudah bisa menagih janji. Bapak ingat pernah berjanji mengajakmu jalan-jalan sore ke Giant dekat rumah. Niatku hanya membujukmu agar tidur siang sesuai jadwal. Saat kau terlelap, kupikir selesai urusan, . Ternyata setelah bangun, kamu menuntutnya.

Dengan cepat, kamu “melahap”buku-buku yang kami belikan. Buku-buku favorit, kamu bolak balik berulangkali sampai halamannya rusak. Kami senang, kamu begitu antusias melihat buku dan menikmati gambar-gambarnya.

Kami memang sebenarnya kurang setuju dengan kebiasaanmu menonton video youtube sambil makan, tapi kami menyerah agar kamu tak makan sambil

berjalan. Dokter gizi di RS Hermina Jatinegara sudah memperingatkan, anak harus duduk saat makan! Sekarang kami melihat hasilnya, pipimu mulai tembam.

Joe, ketika kamu tersenyum itu adalah senyum terbaik di dunia. Tak pernah aku merasakan ada senyum yang sesempurna itu. Mungkin aku berlebihan, karena mungkin semua ayah di seluruh dunia punya kesan serupa soal senyum anak-anak mereka. Tapi ketika melihat senyummu, langsung atau lewat foto dan video yang kuabadikan, mendadak hatiku damai. Benar Joe, ada damai menyelimutiku. Sontak aku ingin melupakan permusuhan dengan siapapun. Tidak ingin menyakiti siapapun, karena teringat semua orang betapa menyebalkannya pun mereka, pasti pernah jadi anak-anak seperti kamu yang punya senyuman menawan dan menggemaskan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s