Tentang Belanja Kelas Menengah Semu

20160719_024554Kelas Menengah di Indonesia merupakan obyek yang menarik untuk diteliti dan dipahami. Mengapa? Karena dipercaya, masyarakat yang berkarakter “menengah” ini tumbuh signifikan, dan saat ini merupakan kelompok masyarakat paling banyak secara jumlah.
Sebenarnya siapa itu kelas menengah? Ada banyak pengertian dan definisi. Jika merujuk pada rata-rata pengeluaran atau konsumsi, maka Bank Dunia memberi definisi bahwa kelas menengah ialah mereka yang membelanjakan 2 hingga 20 dollar per hari. Definisi ini yang umumnya dipakai.
Jika merujuk pada jumlah itu, maka tentu saja “kelas menengah” adalah kelompok masyarakat di Indonesia yang jumlahnya terbesar yaitu mencapai 75 persen dari total keluarga. Namun, definisi ini juga rawan gugatan. Sebab, jika itu digunakan maka sebenarnya kelompok masyarakat yang nyaris miskin, di tubir jurang menjadi miskin, masuk dalam kelompok kelas menengah.
Sebagai ilustrasi, kelompok yang mengeluarkan 2 dollar, dengan nilai tukar saat ini berarti sekitar 28 ribu rupiah. Artinya dalam sebulan, mereka menghabiskan kurang dari 900 ribu rupiah. Padahal di Jakarta, upah Rp 1,8 juta per bulan saja sudah dibawah upah minimum provinsi.
Di dalam buku Consuming Indonesia, Consumption in Indonesia in the Early 21st Century, pemyuntingnya Kurawa Aiko dan William Bradley Horton memberi kategori “Kelas Menengah Semua” atau Pseudo Middle Class.
Kelas menengah semu ialah mereka yang berupaya mengikuti gaya hidup kelas menengah, namun tidak mempunyai daya beli seperti kelas menengah sebenarnya atau genuine middle class. Mereka ini adalah individu atau rumah tangga yang daya konsumsinya 2 sampai 6 dollar setiap hari. Nah, mereka yang sebenarnya di pinggir-pinggir untuk menjadi miskin inilah yang jumlahnya paling banyak di Indonesia.
Meskipun hampir miskin, namun mereka tetap mau mengideentifikasikan diri sebagai kelas menengah. Carannya dengan mengikuti gaya hidup, meengkonsumsi apa yang dikonsumsi kelas menengah sebenarnya seperti membeli barang-barang lux atau gadget terbaru.
Keinginan untuk tampak sebagai kelas menengah genuine ini, tak lepas dari kultur gengsi di masyarakat Indonesia. Gengsi adalah keinginan untuk dipandang lebih tinggi status sosialnya, melalui kepemilikan barang-barang mewah. Misalnya mobil, sepeda motor, atau telepon genggam dan alat-alat elektronik terbaru dinilai dapat menaikan status seseorang.
Akhirnya, uang kelas meneengah ini lebih banyak dihabiskan bukan untuk kebutuhan-kebutuhan yang primer, tetapi justru kebutuhan-kebutuhan sekunder misalnya kepemilikan baramg-barang yang mewakili simbol kelas menengah genuine.

Persoalannya, kelas menengah genuine punya daya beli yang cukup untuk mengikuti gaya hidup mengkonsumsi barang atau fasilitas yang mengutamakan citra dan kenyamanan. Sedangkan, kelas menengah semu cenderung memaksakan diri.
Namun kelas menengah semu dimungkinkan untuk mengikuti gaya kelas menengah genuine karena pasar memang membuka diri untuk mereka. Berbagai fasilitas keuangan dan strategi penjualan diupayakan untuk menarik mereka untuk membelanjakan uang.
Sebagai contoh dulu, tahun 1980-an, motor adalah barang mewah yang hanya dimiliki keluarga kelas menengah genuine saja. Harga motor tunai pun mahal. Namun sekarang, fasilitas pembayaran motor dibuat dengan sistem kredit bahkan dengan uang muka yang murah dan kemudahan2 lainnya,sehingga kini hampir setiap rumah tangga punya sepeda motor.
Demikian juga di industri mobil yang semakin lama, bermunculan jenis-jenis mobil murah yang tujuaannya memang untuk mengambil ceruk pasar kelas menengah yang semakin luas. Dulu restoran cepat saji sepperti KFC atau McDonald, identik dengan kelas menengah atas, namun kini ada menu-menu murah, sehingga kelas menengah semu bisa membeli sambil menikmsti sensasi sebagai kelas menengah sebenarnya di restoran cepat saji.
Kenapa industri perlu meenyesuaikan diri dengan mereka? Simple, karena kelas menengah semu ini ialah yang terbanyak di Indonesia.
Nah buku ini sih intinnya memperlihatkan bagaimana kelas menengah semu ini membelanjakan uangnya, apa yang menurut mereka penting dan kepuasan seperti apa yang ingin mereka dapatkan. Cerita soal perilaku kelas meneengah ini misalnya tergambar dari kehidupan masyarakat sebuah rukun tetangga di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di situ digambarkan betapa pendidikan merupakan hal yang prioritas bagi orang tua kelas menengah semu. Mereka berusaha mendapatkan sekolah yang terbaik buat anaknya, mengikutkan mereka dalam les-les dan bimbingan belajar bahkan kursus renang, seperti yang biasanya merupakan gaya konsumsi kelas menengah genuine. Mereka rela mengeluarkan uang lebih besar unntuk pendidikan anak, meskipun misalnya, kondisi rumah mereka atau toilet mereka memprihatinkan.
Menarik juga ternyata anak-anak dari keluarga kelas menengah semu ini, berhasil naik menjadi kelas menengah genuine melalui pendidikan.
Di sisi lain, buku ini juga bercerita soal bagaimana “pasar” bergerak mengikuti tumbuh kembangnya kelas menengah. Misalnya dengan munculnya perumahan-perumahan kelas menengah dan kota-kota satelit di pinggiran Jakarta. Hal lain, munculnya pasar-pasar modern dengan bangunan permanen yang lambat laun menggantikan pasar traditional dengan kios-kios dari kayu.
Ada sembilan bagian yang isinya mengupas soal konsumsi kelas menengah. Sesuai judulnya buku ini memang menarik untuk melihat bagaimana konsumsi kelas menengah, khususnya kelas menengah semu dan melihat lebih jelas bagaimana perilaku-perilaku mereka dan bagaimana pasar mengikuti perkembangan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s