Anak Ideal

Jo
?

Jo, barusan saat makan pagi di sebuah hotel di Balikpapan, kawanku bertanya, “Apa yang kamu harapkan dari anakmu yang bakal lahir nanti?”

 

“Aku harapkan anakku tidak seperti aku”

 

Jo, kakekmu dulu sering membangga-banggakan dirinya kepadaku. Dia anak petani miskin di sebuah kampung antah berantah di bagian terluar Indonesia. Kerja keras dan kegigihan hidup membuatnya bisa merantau ke Jawa.

 

Kerasnya hidup membentuk dia jadi pribadi yang pemberani, disiplin (kecuali soal makanan), dan cerdik. Dalam usia yang masih sangat muda (25 tahun) kakekmu jadi pimpinan  organisasi pemuda di Bogor yang disegani di masa Orde Baru.

 

Sebelum usianya 40 tahun, dia menjadi ketua salah satu asosiasi pengusaha di Bogor.  Aku juga punya keyakinan, melihat semua karakter kakekmu, andai saja umurnya lebih panjang dan tidak meninggal dunia di awal 40-an, dia bisa jadi pengusaha yang lebih besar lagi.

 

Sedangkan aku Nak, tidak banyak yang bisa dibanggakan. Aku adalah anak biasa dari keluarga kelas menengah. Cenderung manja sejak kecil, pemalu dan penakut.

 

Prestasi sekolah pun biasa-biasa saja, tidak seperti kakekmu yang pernah jadi satu-satunya siswa di kecamatan yang lulus sekolah dasar, atau seperti nenekmu yang langganan juara kelas.

 

Aku telah  banyak kalah dalam hidup. Bukan sekadar kalah prestasi atau pencapaian, tapi yang paling menyakitkan adalah kekalahan karena tak sanggup berjalan dengan prinsip-prinsip yang sebelumnya ku yakini. Aku sudah banyak mengkhianati diri sendiri dan orang lain. Berulangkali kompromi dengan kemunafikan.

 

Karena itu satu-satunya yang kuharapkan adalah kau tidak seperti aku nak. Di media sosial, aku pernah bilang ingin anak anakku seperti ibunya saja. Punya karakter dan kecerdasan seperti ibunya. Itu bukan candaan atau rayuan gombal, walaupun banyak yang menganggapnya demikian. Aku bersungguh-sungguh. Di dalam ibumu, aku melihat berbagai macam karakter kebaikan yang unggul. Jujur, murah hati, setia, tepat janji dan sangat banyak sifat baik yang tidak bisa kuimbangi. Kalau ada satu-satunya yang kuharap bisa kau ikuti dariku adalah keberuntunganku.

 

Hidup, meskipun banyak hal brengsek, mendatangiku, tapi juga telah banyak bermurah hati. Keluargaku (kakekmu, nenek, ua Nona, bongso Riko) adalah yang selalu kusyukuri dan kubanggakan. Ibumu adalah hal terbaik berikutnya yang datang padaku. Aku masih takjub, betapa ajaibnya Tuhan menjodohkan orang. Dari milyaran perempuan di muka bumi dengan begitu banyak karakter, sikap, pengalaman hidup, kepercayaan, kenapa ibumu yang datang padaku dan terasa sangat pas melengkapiku?

 

Jo, kau adalah hal terbaik berikutnya yang akan datang padaku. Kuatlah di Rahim sana. Tak sabar hatiku menunggumu. Sudah banyak kegagalan menghampiriku.Tapi aku bertekad tidak ingin menjadi bapak yang gagal.

 

Hubungan bapak dan anak tidak akan selalu mudah Jo. Aku merasakannya.  Ketika anak-anak aku  bisa bergelayut manja pada bapakku. Dia selalu memperkenalkanku dengan bangga kepada teman-temannya, dan kami bisa berbicara seperti kawan. Lalu datang juga masanya ketika aku beranjak dewasa dan merasa dia tidak lagi memahamiku, apapun yang kulakukan selalu salah dan membuatnya kecewa. Harapannya yang dijejalkan kepadaku, tidak sanggup aku jalani dan aku merasa bukan lagi seorang anak yang ideal.

 

Nak, bagaimana pun naik turunnya hubungan kita nanti, apapun yang akan datang menghampirimu, jangan pernah merasa sebagai anak yang tidak ideal. Kau akan selalu ideal buatku. Selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s