Mendefinisikan Identitas Lewat Budaya Layar, Resensi Identitas dan Kenikmatan karya Ariel Heryanto

identitas dan kenikmatan

Suasana atau apa yang dialami Indonesia pasca 1998, hampir sama dengan Indonesia pasca revolusi kemerdekaan. Masyarakat dihadapkan pada kebebasan, keterbukaan, bebas dari kekangan rezim yang menindas. Dalam suasana itu, ada euforia, mimpi-mimpi indah  dan harapan yang membuncah  soal bagaimana menghadapi jaman baru.

 

Pada masa penindasan di rezim sebelumnya, kelompok-kelompok dalam masyarakat yang bberbeda latar ideologis bisa bersatu menggulingkan kekuasaan yang zhalim. Mereka mempunyai agenda-agenda dan ideal-ideal baru apa yang harus dilakukan setelah rezim tumbang.

 

Namun setelah rezim tumbang dan berbagai kesempatan terbuka, ternyata tidak mudah menyatukan visi dan ideal yang baru. Musuh bersama yaitu rezim yang dahulu ditumbangkan, kini tidak ada. Akhirnya untuk mengisi kekosongan dominasi dan kekuaasaan, berbagai kelompok, elit berjuang sendiri-sendiri. Mereka berusaha mengisi atau mendefinisikan Indonesia yang baru pasca tumbangnya rezim lama. Tak ayal, persaingan-persaingan ini menimbulkan saling curiga dan persaingan wacana yang seru.

 

Berbeda dengan masyarakat pasca revolusi kemerdekaan, masyarakat pasca orde baru lebih tersentuh teknologi. Perkembangan teknologi demikian pesat sehingga menyentuh lebih banyak masyarakat terutama mereka yang berasal dari golongan kelas menengah.  Golongan ini dengan segala sumber daya materi, mampu mengakses perangkat-perangkat digital, membentuk komunitas di dunia maya dan sangat melek informasi. Perkembangan teknologi juga menghadirkan perkembangan media digital yang lebih massif.

 

Dulu pasca revolusi,  soal-soal kebangsaan dan diskusi tentang mendefinisikan Indonesia hanya dibicarakan segelintir elit saja. Mereka adalah para sarjana , tokoh agama dan tokoh adat, , sementara sebagian besar rakyat hanya bersifat pasif. Jika pun terdengar, suaranya hanya terbatas di rapat-rapat kecil saja.

 

Namun kini ketika perkembangan digital media begitu meluas, rakyat, terutama kelompok kelas menengah bisa bersuara dengan lantang dan sangat diperhiitungkan. “Teknologi media sosial telah mendemokratisasi nyaris seluruh  perdebatan public” (hal 12).

 

Karena itu tidak heran berbagai perdebatan untuk mendefinisikan Indonesia baru, terutama antar kelas menengah terus terjadi dan tercermin di media sosial. Perkembangan media juga menjadi alat yang sedemikian cepat menyebarkan budaya popular atau budaya pop. Nah, tidak heran budaya pop kemudian menjadi tempat persaingan untuk merebut dominasi kekuasaan dan kepentingan yang lowong

 

“Dengan adanya kesempatan baru untuk menjangkau sebagian besar penduduk, tak mengherakan jika budaya pop telah menjadi arena pertempuran ideology guna mencapai posisi hegemonis dalam kekosongan kekuasaan nasional,” (hal 17).

 

Buku karya Arie Heryanto ini meneliti politik identitas dan kenikmatan dalam budaya layar muktahir. Bisa juga disebut budaya layar ini sebagai budaya popular.  Fokus penelitiannya ada pada budaya popular  yang mengandung tema Islam, perkembangan film-film Islam yang mencerminkan bagaimana kelompok kelas menengah mencoba menggabungkan antara keinginan menjadi muslim yang soleh sambil sekaligus mengejar kenikmatan-kenikmatan dunia.  Kedua pada fenomena budaya pop Asia, seperti demam K-Pop yang digemari muda-mudi Indonesia.

 

Kemudian Ariel juga membahas  budaya-budaya yang juga ditekan oleh rezim lama dan sisa-sisa sterotip lamanya tidak hilang meski jaman sudah berubah. Munculnya film-film yang membahas peristiwa pembunuhan masal terhadap anggota simpatisan PKI psca 1965, ternyata sulit mendapat perhatian luas masyarakat. Selain itu membahas juga pengekangan terhadap kelompok etnis Tionghoa, yang terakhir soal politik jalanan.

 

Buku ini menyoroti miskinnya wawasan kesejerahan bangsa, akibat pengekangan yang dilakukan rezim. Rezim yang berkuasa mendefinisikan Indonesia, menghilangkan ataau memilah-milah peristiwa yang pantas disebut “sejarah” untuk kepentingan rezim. Akhirnya wacana-wacana yang muncul dalam kehidupan kelas menengah pasca tumbangnya rezim adalah wacana yang dangkal. Buku ini juga, kata Ariel, merupakan kritik  atas politik nasionalistik. Ariel mengatakan yang perlu disadari adalah bangsa ini merupakan bangsa besar yang memiliki warisan besar, dan masarakatnya hidup dalam perlintasan sejarah, pertemuan ideologis yang wajar. Namun kemudian dihancurkan wawasan-wawasan tersebut oleh rezim-rezim yang memilah-milah bagian sejarah untuk ditonjolkan dan menguburkan yang lain.

 

“Di Indonesia, unsur-unsur global (misalnya tradisi Islam, Budah, dan Hindu) dikenal dengan baik (Bab 2-3). Sementara tradisi tersebut dianggap sudah menjadi bagian dari warisan sejarah bangsa sendiri,  popular Jepang dan Korea) dianggap buan bagian dari warisan sejarah bangsa, dan terus menerus dianggap sebagai sesuatu yang asing,” (hal 35). (vidi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s