Rico

20150720_155731
Rico dan Saya berfoto di depan rumah di Bogor.

Suatu sore  langit jingga. Umur saya 8 tahun dan sedang berlari-larian di lapangan depan rumah. Entah mengejar teman  atau bola, saya lupa.

Sedan biru bapak datang berhenti di muka halaman rumah. Mama keluar dari mobil, mendekap sesuatu di dada. Sesuatu yang dibungkus kain putih. Berjalan pelan, dituntun bapak memasuki pintu rumah.

Melihat mama yang sudah dua hari tak pulang, saya langsung senang. Menyongsong ikut masuk ke rumah lalu ke kamar.

Mama berbaring di sana, di samping mahluk mungil yang dipandanginya. Saya jadi ragu mau mendekat. “Sini, lihat adikmu,” panggil mama.

Saya berjalan ke tepi tempat tidur, memandangi mahluk mungil yang juga sedang dipandangi mama. Saya sering melihat bayi, tapi bayi di depan saya itu yang paling aneh. Merah dan berbulu. Bukan hanya di badannya bahkan sampai ke wajahnya, pipi, kuping sampai dahinya.

Saya tak berani bilang ke mama bahwa adik yang baru saya lihat itu seram. Tapi belakangan mama cerita bahwa ketika anak ke 3 nya itu lahir, dia sendiri teriak ke suster RS PMI Bogor. “Suster kok anak saya berbulu banget”

Saya bertanya ke mama, siapa nama adik baru ku ini. Bapak menjawab dengan mantap Rico Hermes Batlolone! Rico panggilannya.

Rico tumbuh sehat dan montok. Hari ke hari makin cakep. Rico di masa balita, adalah salahsatu balita paling cute, lucu, dan menggemaskan yang pernah saya lihat.

Saya kerap mencuil-cuil pipinya.  Memeluknya erat-erat. Sampai menggigit-gigit kakinya, badannya, lengannya, pahanya bahkan kalau kelepasan karena terlalu gemas, sampai dia menangis.

Di usia 3 tahun, rambut Rico dibiarkan gondrong. Sebagian dikuncir sepanjang bahu. Dengan mudah Rico memikat hati semua orang.  Bisa jadi om-om  atau kakak-kakak sepupu saya iri pada Rico, karena kalau pacar-pacar mereka datang pasti, berebutan menggendong dan memangku Rico.

Saya sendiri kadang memang tidak jadi kakak yang baik. Sering saya mengajak Rico mencari anak tetangga dan mengadunya berkelahi sampai mereka menangis. Lain kali kalau saya kesa
Lain kali kalau saya kesal karena kalah main game, saya jitak dia.

Dulu waktu kecil kalau ditanya cita-cita, Rico lantang menyebut ingin jadi anggota Pemuda Pancasila, seperti rekan-rekan bapak atau om yang gagah jika pakai seragam. Semakin dewasa, bakat Rico semakin terlihat, dia memang senang berorganisasi, tapi tampak lebih menonjol berdagang.

Saya ingat dalam obrolan setengah serius di ruang tamu, kalau tak salah waktu itu Rico masih SMU. Dia tanya saya, apakah serius ingin jadi wartawan? Saya jawa iya. Kemudian dia tanya, “Ico nanti jadi apa yah ka?” Aku jawab, “kalau mau kaya jangan ikuti aku, jadi pedagang atau pengusaha saja,” Bahkan saya mengutip perkataan Nabi Muhammad yang pernah saya dengar dari juru kampanye dalam kampanye sebuah partai di Kalibata. “Setengah dari rezeki itu ada di berdagang,”

Rico memang punya bakat dagang. Dari kecil ada saja caranya dapat uang, menjual mainan, menyewakan playstation, setelah besar makin banyak lagi yang didagangkannya, kemeja, jam tangan,  celana jeans, sepatu. Semakin pelanggannya banyak, Rico sampai bolak-balik Jakarta – Bogor untuk ambil stok barang di Tanah Abang, di Pasar Ular atau di manapun. Kadang saya juga jadi pelanggannya, beli dari dia, kadang dia memberikannya begitu saja. Cuma-cuma.

Setelah lulus kuliah program diploma, Rico sempat bekerja di perusahaan Asuransi. Setiap pagi sebelum matahari muncul, dia harus keluar dari rumah naik kereta listrik ke Jakarta dan sampai rumah saat matahari tenggelam. Rupanya dia tidak betah, tak sampai tiga bulan dia berhenti. Dia melamar kerja di Bogor, agar tidak jauh dari rumah, dan diterima di bagian call center sebuah bang. Tapi Rico tak betah jadi orang gajian, apalagi hampir setiap hari diomel-omeli pelanggan yang kecewa.

Dengan bekal pengalaman organisasi ditambah jaringan saudara-saudaraku, dan orang-orang yang pernah mengenal bapak, Rico merintis usaha di bidang konstruksi dan distribusi di Bogor. Saya gak tahu, berapa banyak penghasilannya per bulan atau per tahun. Tapi
Tapi beberapa waktu lalu dia telepon saya dan menanyakan berapa uang muka rumah yang mau  saya ambil di daerah Citayam? “Oke, kirim nomor rekening yahh nanti Iko tambahin,”

Tak terasa bayi merah berbulu yang kulihat di Sore Jingga itu kini sudah sangat dewasa. Terakhir bertemu, dia minta pendapat soal calon istri yang pas buat dia. “Siapa saja yang kau cinta,” kataku.

Bayi merah berbulu itu, baru saja berulang tahun.  Kini sudah jadi pengusaha, ganteng, dan siap menikah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s