Imigran

Supir Taxi itu memperkenalkan diri dengan nama Muhammad. Begitu mendengar, kami dari Indonesia, dia langsung mengucapkan “Selamat, apa kabar? bagus”

Dia pun bercerita sebelum tiba di Australia, dia pernah tinggal di Indonesia selama 6 bulan. “Waktu itu saya datang, presidennya Abddurahman Wahid. Saya pergi ketika Megawati soekarnooputri become presiden,” katanya.

Di Indonesia, dia tinggal di Puncak, Bogor dan kemudian ke Surabaya. Dia terpaksa meninggalkan negerinya Afganistan yang dilanda peperangan. “Indonesia bagus. Afganistan tidak bagus, banyak perang,” katanya dalam Bahasa Indonesia yang patah-patah.

Setelah Indonesia, dia pindah ke Australia dengann menggunakan perahu. Saya langsung paham, dia dulu adalah manusia perahu yang lari mencari suaka. Saya tidak bisa membayangkan penderitaan seperti apa dalam perahu itu. Terkatung-katung di lautan lepas, panas terik, kurang makan, kurang air, hantaman ombak yang bisa bikin linglung. Mereka terpaksa lari dari negeri asal yang berantakan, ke negeri baru untuk memulai kehidupan baru.

Beruntung, pemerintah Australia pada masa itu masih toleran kepada para imigran. Muhammad akhirnya bisa menetap dan menjadi warga negara Australia. Tinggal di ibu kota Canberra. “Tapi kota ini tidak bagus. Semuanya soal uang. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan,” ujarnya.

Supir Taxi lain yang kebetulan kami tumpangi, berasal dari Pakistan. Saya tidak sempat menanyakan namanya dan juga tidak melihat tanda pengenalnya. Tapi dia berasal dari Pakistan, dan tampak mempunyai kekecewaan kepada negara-negara Islam.

Kepada kami dia mengkonfirmasi, apakah mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam? Kami membenarkan. Staf Australian Electoral Comission (Lembaga Penyelenggara Pemilu  Australia) Bram Marolop yang asli Batak menambahkan, penduduk Indonesia beragam agama, tapi ya. Islam adalah agama mayoritas.

Si supir kemudian bertanya lagi, “Pasti banyak korupsi di sana,”

Saya tertawa. Marolop  langsung menyanggah “korupsi itu isue di semua negara, bukan cuma Indonesia,”

Rupanya si supir tidak mau kalah, dia mengatakan negara-negara yang mayoritas muslim adalah negara-negara yang korup. Dia mencontohkan negara asalnya, Pakistan dan sejumlah negara-negara Islam lain.

Marolop membalasnya juga dengan sengit. “What about Italia? they aren’t muslim country. But coruption level also high”

Perdebatan terus berlangsung sampai tiba di tujuan. Si supir masih keukeh dengan pendapatnya bahwa negara-negara mayoritas Islam adalah negara korup. Aku berpendapat, korupsi bukan karena pelakunya beragama tertentu, tapi karena kesejahteraan. Marolop juga yakin korupsi tidak ada hubungannya dengan jumlah  penganut agama tertentu.

Taxi pergi, dan aku sadar satu-satunya yang beragama Islam dalam Taxi tadi mungkin hanya si supir, tapi yang membela negara-negara Islam dijelek-jelekan justru kami. Ahh, barangkali kami hanya tidak terima saja orang luar mencela Indonesia, atau yang kami bela sebenarnya adalah akal sehat.

Namun saya pun mengerti, imigran yang datang ke Australia ini adalah korban tragedi-tragedi di negeri asal mereka. Mereka datang dengan luka dan kekecewaan. Muhammad bilang Afhanistan tempat lahirnya sendiri, tidak bagus. Supir Taxi dari Pakistan barusan bahkan menggeneralisasi semua negara muslim korup.

Mereka tiba di Australia. Negeri Sejahtera yang jauh dari perang. Negeri yang luas, makmur, tertib. Mereka kemudian membandingkannya dengan negeri asal  mereka, dan mengambil kesimpulan yang serampangan.

Saya sendiri terpesona melihat keteraturan, ketertiban, dan keindahan Canberra dan akhirnya membandingkan juga dengan Jakarta. Namun ketika membandingkan, ah saya malah semakin ingin pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s