Cerita Dua Hari Jadi Redaktur

Dua hari ini saya ketiban tanggungjawab pegang halaman politik. Redaktur saya sedang tugas ke Bali, meliput Kongres PDI Perjuangan. Asistennya liburan keliling Asia Tenggara. Saya menggantikan, karena paling senior di desk politik.

Seperti redaktur, tugas saya menerima berita reporter di lapangan, mengeditnya menjadi lebih rapih dan mencemplungkan ke kanal berita. Saya juga menentukan isue politik apa yang pantas naik di edisi cetak.

Sebenarnya ada satu lagi kewenangan redaktur yaitu mengarahkan reporter di lapangan mengenai apa saja yang penting untuk diliput. Tapi saya sungkan menyuruh teman-teman karena status saya cuma pelaksana tugas.
Gaptek

Ternyata tidak mudah melaksanakan tugas ini. Pertama saya terkendala soal teknologi. Kantor kami belakangan menggunakan aplikasi CMS ( content management system). Sistem ini memudahkan reporter mengirim berita-berita online. Saya sudah belajar sedikit-sedikit mengirim berita lewat CMS, tapi itu di akun reporter. Ketika menggunakan akun redaktur, ternyata lebih ribet.

Misalnya setiap berita yang diupload perlu dilengkapi foto. Nah harus cari sendiri fotonya dengan mengubek-ubek laman kantor berita Antara atau file foto Sinar Harapan. Setelah diupload, kita juga harus mengisi kolom keterangan foto. Kemudian foto yang sudah diupload harus dimasukan lagi ke CMS.

Dalam CMS sendiri banyak kolom yang harus diisi. Ada kolom judul, Kolom nama penulis, kolom upper deck, kolom teks berita, kolom waktu tayang, kolom tagar berita, kolom jenis berita, kolom asal berita, bahkan kolom penilaian reporter juga harus diisi redaktur. Semuanya dikerjakan satu per satu.

Jika salahsatu saja kolom luput diisi maka berita bakal gagal terkirim. Kalau kita lupa mengubah ukuran foto yang didownload agar sesuai kapasitas, komputer langsung heng dan semua tulisan hilang. Saya pernah mengalami ini dan betul-betul menguras emosi. Dengan CMS, redaktur harus betul-betul teliti. Dan sebenarnya, pekerjaan mengupload berita ini membosankan.

Kendala kedua adalah pada saat mengedit berita yang datang dari reporter di lapangan. Ini juga menguras otak. Bersyukurlah kalau berita yang dikirim sudah rapih tata bahasanya. Redaktur hanya tinggal memoles sedikit.

Namun ternyata banyak berita masih kacau tata bahasanya. Logika kalimat tidak nyambung, typo dimana-mana, termasuk tak akurat menyebut nama narasumber. Ini mungkin konsekuensi keharusan menulis berita cepat untuk mengisi online. Belum lagi bila beritanya kurang kuat nilai beritanya, atau kurang memancing pembaca, redaktur mesti memutar otak lagi untuk mengubah sudut pandang berita.

Kehalian mencari sudut pandang berita, dan judul ini penting. Karena semua wartawan SH terbiasa dengan gaya cetak, maka sulit membuat angle atau judul yang sesuai dengan karakter pembaca media online.

Bisa saja redaktur cuek dan tinggal menyemplungkan ke CMS. Tidak perlu berlelah-lelah mengubah tulisan lebih menarik. Tapi saya tidak sanggup melakukan itu. Saya ingin yang lepas ke publik benar-benar angle yang paling menarik dengan struktur kalimat berita paling baik.

Untuk itu makanya perlu ketelitian, sekaligus juga kecepatan melakukannya. Nah masalahnya, saya orang yang kurang teliti. Banyak berita yang setelah tayang, saya ambil lagi dan diedit ulang agar lebih bagus.

Menjahit
Untuk mengurus halaman cetak, jauh lebih susah. Saya harus “menjahit” lagi berita kiriman reporter yang telah dibuat dalam bentuk berita online. Mencari angle terbaik, paling baru, paling hangat, paling relevan.

Sepertinya gampang karena hanya mengurut-ngurutkan saja. Tapi ternyata tidak. Persoalannya, berita kiriman reporter sering berbeda tema. misalnya reporter A, kirim berita online bertema pilkada, terus dia kirim lagi berita bertema pertahanan, kemudian reporter yang lain kirim soal isue konflik partai atau isue politik lain. Karena dikirim untuk online berita mereka kerap tidak lengkap. Jika tidak lengkap, tentu tidak layak muat. Tapi untuk menyuruh lagi reporter mendalami dengan wawancara satu dua narasumber lain, saya tidak enak. Itu tadi, karena status saya yang hanya Plt redaktur. Terpaksa saya sendiri juga yang mengangkat telepon mencari narasumber lain atau mencari berita-berita terkait di kantor berita Antara. Soal lain adalah reporter mengirim berita yang temanya sama sekali tidak layak muat.

Jangan Menggerutu
Moral cerita (jika memang moral dibutuhkan.hehe), menjadi redaktur itu ternyata tidak mudah. Di lapangan, saya seringkali menemukan reporter mem”bego-begoin” redakturnya, mencibir kerja redaktur yang dibilang lamban, salah edit, melintir dsb.

Tapi reporter sendiri jarang mengoreksi dirinya sendiri, misalnya membuat berita yang tidak lengkap, salah ketik bahkan kerja hanya sekadar untuk mengejar kuota. Malahan sekarang saya merasa bersalah karena sering jadi reporter model begitu. Padahal banyak juga pasti kerjaan saya yang mengecewakan redaktur.

Redaktur paling rajin sekalipun bakal kerepotan jika reporter di lapangan malas-malasan.Apalagi, jika reporter hanya membuat satu berita dan tak lengkap pula. Redaktur pasti pusing jika reporter membuat berita yang tidak menarik dan tidak update. Redaktur pasti jengkel melihat kesalahan ketik dan penulisan nama narasumber yang sebenarnya elementer tetapi berulang-ulang.

Tetapi redaktur pun sebenarnya akan lebih mudah, jika dia tidak hanya duduk menerima berita dari reporter. Sebaliknya, dia bisa memkasimalkan kewenangannya dengan memerintahkan kemana saja anak buah harus meliput dan isue apa saja yang perlu diliput. kalau dia mengontrol demikian, pekerjaanya pasti lebih mudah karena berita yang muncul bakal sesuai dengan keinginan. Demikianlah, saya mau ngedit dulu yah…(vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s