Hitung Cepat

Pemungutan suara pemilu presiden 2014 sudah selesai. Orang-orang mengira pemenangnya bisa langsung diketahui, sehingga publik bisa “move on”. Tidak lagi perang dukungan yang kadang berlebihan sampai menjurus ke caci maki.

Nyatanya, masalah baru muncul. Pemenang pemilu tidak bisa langsung dipastikan. Sebab hasil hitung cepat yang biasanya jitu memprediksi hasil perhitungan sebenarnya, ternyata berbeda-beda. Sebanyak delapan lembaga menyatakan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla ialah pemenang pilpres. Sebaliknya empat lembaga, justru mengunggulkan Prabowo – Hatta.

Perang wacana muncul kembali. Dunia maya, sosial media riuh lagi dengan perdebatan soal hasil hitung cepat. Dua kubu sama-sama menuding, pihak lain menggunakan lembaga survei bayaran. Kredibilitas lembaga-lembaga survei serta stasiun televisi yang menayangkannya, dipertanyakan.

Memang secara logis, jika menggunakan metodologi menghitung yang sama, seharusnya hasil survei antar lembaga tidakk berbeda. Kenyataan bahwa ada hasil yang berbeda, menimbulkan kecurigaan bahwa ada lembaga yang berbohong, atau paling tidak salah dalam metodologinya.

Siapa yang telah berbohong atau salah?

Tentu menjawabnya bukan pertanyaan mudah. Pengujian yang profesional perlu dilakukan, dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kompeten. Bukan masyarakat awam biasa.

Namun paling tidak, masyarakat bisa berpegang kepada kredibilitas dan rekam jejak lembaga-lembaga yang bersangkutan. Soal kredibilitas ini bisa ditemui dengan brwosing internet. Memang ada lembaga-lembaga survei yang selama ini punya reputasi tidak baik. Misalnya memain-mainkan hasil survei, atau salah memprediksi dengan selisih hitung besar.

Saya sendiri mencium ketidakberesan dengan pengalaman meliput hasil survei berbagai lembaga sejak 2009. Ada lembaga-lembaga yang memang tampak jelas keberpihakannya. Misalnya dia secara berlebihan menonjolkan nama tokoh tertentu sebagai yang paling populer, padahal kenyataan di lapangan tidak terlihat seperti itu. Biasanya setelah merilis survei, lembaga-lembaga tersebut membagi-bagikan uang kepada wartawan. Ada lembaga survei yang memprediksi partai tertentu memenangkan pemilu dengan elektabilitas mencapai 25 persen suara nasional. Nyatanya menurut hasil perhitungan pemilu yang resmi dikeluarkan KPU, suara partai tersebut tidak sampai setengahnya.

Ada lembaga survei yang sejak dulu, sejak pemilu 2009 memang berlebihan dalam menonjolkan tokoh tertentu. Mereka boleh bilang hal yang manis-manis soal integritas, tetapi sesama wartawan yang sering atau pernah meliputnya, biasanya hanya senyum-senyum nyinyir. Tahu sama tahu saja tentang maksud lembaga pimpinan lembaga survei tersebut. Ada juga yang jelas-jelas pemilik lembaga surveinya adalah pendukung utama capres tertentu.

Di kubu capres tertentu, saya lihat ada lembaga survei yang seperti itu. Uniknya mereka menuding kubu lain menggunakan survei bayaran. Padahal mereka juga menggunakannya. Mereka mengkritik kubu lain yang telah mengkalim menang atas dasar hasil hitung cepat. Padahal setelah mereka mengkritik, mereka pun mengklaim menang berdasarkan hasil survei yang dibayari sendiri. Saya menyebut ini seperti orang yang menyalah-nyalahkan orang yang memakai pelacur, padahal dia juga berlangganan pelacur.

Karena kerasnya pertentangan soal lembaga survei ini, akhirnya himbauan paling terbaik ialah menunggu hasil perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Lembaga tersebut bakal mengumumkan pemenang pilpres pada 22 Juli 2014 mendatang. Secara normatif, memang menunggu real count KPU memang yang paling bijak. Tetapi jangan lupa, hitung cepat diadakan sebagai dasar untuk mencurigai adakah permainan dalam hitung-hitungan KPU sebenarnya. Jika ada dua versi tentu masyarakat menjadi bingung. Apapun hasil pemilu, pasti menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Apapun hasilnya, dikhaatirkan KPU akan mendapat tudingan telah bermain untuk memanipulasi hasil pemilu. Ini bahayanya, kredibilitas sebuah lembaga penting dalam demokrasi bisa menurun. Apapun hasilnya. Sama saja dengan mengkompori masyarakat untuk menggugat hasil pemilu. Mengadu domba sesama masyarakat, membuat sesama kita saling mencurigai.

Kekhawatiran saya yang lain adalah, hasil hitung cepat lembaga bayaran ini digunakan untuk mengulur waktu bagi pihak tertentu yang sudah tahu dirinya kalah, untuk kemudian “berbelanja” suara kepada penyelenggara pemilu daerah. Jadi mereka tidak menyerah, setelah sadar akan kalah mereka kemudian membentuk opini publik seolah-olah menang. Dalam proses itu mereka pun “berbelanja” suara di daerah agar hasilnya sesuai dengan prediksi survei. (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s