Pemimpin yang Tak Penting

Usai konvensi capres rakyat yang digelar di sebuah gedung olahraga di Balikpapan, bersama Rizal Ramli mengunjungi kantor redaksi Tribun Kaltim. Sepanjang jalan, mantan Menteri Koordinator Perekenomian era Megawati ini banyak bercerita lucu.

Salah satunya soal peninggalan penting seorang Presiden alias legacy. Seorang presiden seharusnya meninggalkan suatu warisan ide yang membuatnya selalu dikenang.

Nah…Soekarno, kata Rizal, mengingatkan kita tentang pentingnya kemerdekaan

Soeharto, mengingatkan kita tentang pentingnya kestabilan politik dan keamanan.

Habibie mengingatkan kita tentang pentingnya teknologi.

Gusdur mengingatkan kita tentang pentingnya pluralisme

Megawati mengingatkan kita tentang pentingnya peran perempuan

Dan SBY?…”Dia mengingatkan kita tentang tidak pentingnya seorang presiden” whuhehehe…

Di Tribun Kaltim, Rizal disambut redaktur pelaksananya yang bernama pak Priyo. Seluruh anggota redaksi mungkin sedang libur (karena hari Minggu), sehingga pak Priyo ini sendirian saja mulai dari menyambut di depan gerbang sampai menyediakan minuman. Bahkan pak Priyo ini juga sendirian mewawancarai Rizal Ramli, merangkap juga jadi fotografer. Saya bingung antara heran dengan sambutan seadanya Tribun Kaltim dan salut juga dengan Redpelnya yang melakukan semua serba sendiri. Rombongan Rizal Ramli sekitar 12 orang disambut dan dilayani seorang diri sama pak Priyo.

Dari kepalanya yang jarang rambut, saya menduga pak Priyo ini orang pintar. Dugaan saya benar sepanjang wawancara, ternyata pak Priyo lebih banyak bicara ketimbang narasumbernya. Bahkan dia lebih sering curhat, ketimbang bertanya.

Curhatnya memang memperlihatkan kekritisan orang yang sudah 23 tahun jadi wartawan. Dia menyatakan keheranannya dengan bupati-bupati di sejumlah daerah di Kalimantan yang lebih banyak berada di Jakarta ketimbang daerahnya sendiri. Para pejabat itu membagakan diri dengan kekayaan alam dan besarnya pendapatan daerah, padahal rakyatnya sengsara. Yang kaya  hanya elit politik dan pengusaha tambang yang mendapat ijin dengan sogokan. Mereka disokong preman lokal yang menekan warga agar tak banyak protes. Infrastruktur pun terbelakang. “Daerah Kalimantan Timur ini kaya energy, tapi mati lampu terus,” ujar Pak Priyo

Bahkan salah satu bupati itu, entah dapat ilham dari mana, berniat menjadi calon presiden. Dia menjadi salah satu peserta konvensi rakyat. Untuk kepentingan kampanye, kata Priyo, bupati ini pun membeli pesawat jet pribadi. Padahal, kabupaten yang dipimpinnya termasuk parah pembangunannya.

“Jalanan banyak yang rusak, satu-satu kawasan yang bagus di kabupaten tersebut, hanya komplek bupatinya saja,” ujar pak Priyo. Bahkan, di kalangan warganya sendiri, bupati tersebut dikenal dengan julukan “Bang Thoyib”. Ini karena si Bupati lebih sering berada di Jakarta, ketimbang di daerahnya sendiri. (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s