Korban Banjir

 

Waktu menunjukan pukul setengah 3 pagi. Saya bergegas meninggalkan kantor, tidak mengacuhkan gerimis dan angin malam.Pokoknya harus segera pulang. Rumah kebanjiran!

Taxi burung biru saya datang. “Utan kayu pak, cepet”

“Waah maaf mas gak bisa, jalan ke utan kayu kebanjiran,”

Gawat! Saya membayangkan Deytri, pasti lagi kerepotan sendirian. Mungkin sedang panik mengangkat-angkat barang agar tidak terendam.  Saya langsung merasa bersalah karena tidak  di rumah.

Terpaksa saya balik  ke kantor mengeluarkan “Panda” motor bebek andalan.  Dengan kecepatan tinggi melesat. Gerimis dan angin malam menusuk lewat celah-celah sweater yang basah.

Pemandangan mencekam terlihat  di perempatan  Matraman. Banjir merendam hampir seluruh bagian jalan. Tingginya sedengkul orang dewasa, saya memaksa menerobosnya. Setelah lewat, Panda mulai batuk-batuk mungkin karena  mesinnya kemasukan air. Sempat mogok berkali-kali.

Di gang masuk kontrakan,  sudah ramai orang. Ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda  sedang repot menyingkirkan sampah-sampah. “Tadi banjir mas, tapi sekarang sudah surut,” kata seorang tetangga.

Jalanan muka kontarakan saya terendam sampai sedengkul. Di rumah, saya mendapati Deytri sedang beres-beres.  Ruang tamu sudah dipel. Tetapi buku-buku terpaksa di pindahkan ke ruang tidur yang letaknya lebih tinggi. Kata Deytri, air sempat masuk ke ruang tamu dan merendam sebagian buku-buku yang letaknya di rak bagian bawah.

Tidak berapa lama hujan kembali deras. Saya terpaksa harus memindahkan Panda ke tempat motor di ruang belakang rumah bapak yang punya kontrakan. Repot sekali karena selain hujan deras, kunci Panda kecemplung di air. Saya harus meraba-raba kunci tersebut di air. Kemudian sepanjang jalan gang, terendam air. Jika tidak hati-hati, bisa terperosok di selokan yang cukup dalam.

Untunglah banjir itu tidak semakin besar. Hanya tipis menggenangi ruang tamu. Ini pertamakalinya saya merasa menjadi korban banjir. Saya membayangkan repotnya orang-orang yang daerah rumahnya menjadi langganan banjir. Bukan hanya merendam ruang tamu, bahkan sampai atap. Bagaimana repotnya mereka menyelematkan barang-barang elekronik, baju, surat-surat berharga.

Saya dan Deytri belum berpegalaman menghadapi banjir. Kalau saja air masuk lebih tinggi lagi, pasti kami panik. Bingung melakukan apa, tak tahu menyelematkan apa selain diri sendiri. Atau mungkin ditambah menggerutu kepada Gubernur DKI Jakarta yang populer itu. (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s