Tentang Sedih di Victoria Park

Tentang Sedih di Victoria Park. Saya mau merekomendasikan buku ini, bukan karena penulisnya, Fransisca Ria Susanti adalah bos saya di kantor. Juga, sumpah! bukan dalam upaya menjilat atasan atau cari muka. Amit-amit lah. Tetapi buku ini memang menarik untuk dibaca terutama untuk melihat persoalan buruh migran Indonesia di Hongkong.

Sebagai gambaran enaknya buku ini dibaca, saya nyaris membacanya lima jam non stop. Sampai-sampai harus menunda pekerjaan, dan juga rela tidak mengantar pacar pulang. Asyik terus mantengin buku ini dari jam 5 sore sampai 11 malam.

Soal menulis, reporter Sinar Harapan, memang harus mengambil ilmu lebih banyak dari Fransisca Ria Susanti alias Mbak Santi ini.  Jauh sebelum bertemu, saya  sudah mengagumi tulisan-tulisan kirimannya dari  Hongkong yang dimuat di Sinar Harapan.

Santi memang pernah tinggal di Hongkong selama 2006 –  2010. Di sana dia jadi akrab dengan kehidupan buruh migran. Dengan persoalan-persoalan kehidupan mereka.

Santi merekam kisah getir mereka dalam tulisan yang enak dibaca, renyah, mengaduk-ngaduk emosi dan perasaan. Santi menceritakan mimpi-mimpi para perempuan muda kita yang merantau jadi babu di negeri orang. Kemudian soal bagaimana mereka terjerat berbagai kecurangan yang dilakukan agen tenagga kerja dan majikannya. Biaya penempatan tenaga kerja yang menncekik banyak membuat buruh migran selama beberapa bulan menerima gajih sangat rendah. Belum lagi perlakuan majikan yang semena-mena seperti memperlakukan binatang (bahkan ada TKW yang diperlakukan lebih hina dari binatang)

Tak salah jika redaktur eksekutif SH ini  memberi judul Tentang Sedih di Victoria Park. Isi buku ini memang  melulu soal kesedihan, nyaris tanpa cerita bahagia. Bukan sekadar menulis soal kehidupan di hongkong, dia juga menceritakan jalan hidup para buruh sampai akhirnya ‘terdampar’ di bekas koloni Inggris itu.  Saya sampai penasaran, apakah selama dia hidup di sana tak pernah dengar kisah manis atau succes story buruh. Misalnya semacam TKW yang sungguh-sungguh bisa bangun rumah di kampung, beli sawah, menerima gaji utuh dan keluarganya tak berantakan.

Mungkin cerita itu ada, tapi sebagai wartawan tentu saja Santi ingin lebih menggambarkan celah-celah yang dimanfaatkan oknum-oknum busuk yang memeras keringat buruh migran kita dan menjadikan mereka budak. Ada ketidakjelasan aturan, ada korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang harusnya melindungi buruh.

Di bagian akhir, Santi menyampaikan ironi yang pedih soal kebanggan nasionalisme para buruh itu. Suatu hari pada 17 Agustus 2008 dia menyaksikan ratusan buruh dengan inisiatif sendiri menyelenggarakan upacara bendera peringatan HUT RI di Victoria Park. Mereka menggelar upacara dii taman itu karena tak bisa mengikuti upacara di KJRI.

Perwakilan buruh migran itu sampai mengajukan permohonan dulu untuk tak sampai setengah jam mengadakan acara. Sebuah ironi, padahal negara yang mereka puja itu bersikap acuh tak acuh pada nasib mereka sendiri. Mereka pahlawan, tetapi dilupakan, bahkan dirampok.

Santi sempat mengingat wawancara dengan salahsatu buruh migran yang cerita soal kerinduannya  pulang ke Indonesia.” Setiap tujuh belasan begini saya selalu pengen pulang kampung. Tapi saya tahu ndak mungkin pulang. Kalau saya pulang, kerja apa di sana. Ijazah cuma SD. Malah jadi beban pemerintah. Kasihan pemerintah,”

Damn! Kasihan pemerintah? Pemerintah yang begini bobrok yang tak sanggup menjamin pendidikan putra-putrinya. Yang tak sanggup menyediakan pekerjaan dengan gaji layak sehingga warganya yang lulusan SD itu  harus terlunta-lunta cari kerja jauh di negeri orang. Dan yang paling kurang ajar, pemerintah yang tidak bisa melindungi buruh migran dan malah tutup mata terhadap  perampok buruh yang justru jadi penghasil devisa besar buat negara.

Tetapi buruh tak dikenal yang berasal dari Pacitan, kampung halaman SBY itu masih bisa bilang “Kasihan Pemerintah” (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s