Trauma Aburizal Bakrie

 

Yang ingin saya ceritakan ini sebenarnya aib. Bahkan kalau tiba-tiba mengingatnya, badan saya bergidik, mulut saya pun sering spontan mengeluarkan suara aneh seperti meringkik. Tetapi kata anjuran psikologi yang saya sering baca di kolom Koran, majalah atau buku pengembangan pribadi, penting juga menceritakan pengalaman yang traumatik.

Jangan berpikir terlalu jauh dulu. Pengalaman traumatic saya  bukan soal pengalaman pelecehan seksual masa kanak-kanak.hehehe. Saya memang pernah mendapatkan pelecehan seksual, tapi itu pas sudah dewasa ketika seorang pria berbaju rapih tapi berwajah berantakan menempel ketat pantat saya di kereta ekonomi yang sebenarnya nggak sempit-sempit banget. Waktu saya berbalik, pria setengah baya itu  menunjukan senyum yang membuat wajahnya malah mengerikan. Tangannya melesat memegang ujung kemeja saya kemudian bilang “Baju kamu bagus” Whueeekkk!!!

Jadi trauma ini bukan soal pelecehan dan kekerasan seksual. Tapi soal berbicara di depan umum.

Jadi suatu hari, tahun 2008 beberapa bulan setelah menjadi wartawan SH, saya meliput diskusi yang  pembicara satau-satunya Aburizal Bakrie aka Ical alias ARB. Calon presiden 2014. Prett.

Saya duduk dan ngobrol dengan Ingrid wartawan Kompas.com, dan saya mengira Inggrid   berbicara soal tidak  perhatiannya Ical sama nasib korban Lapindo. Saya juga mengira Inggrid mengatakan bahwa Ical tidak pernah  mengunjungi Korban Lapindo. Kemudian tanpa cek-ricek dulu dan berdasarkan ingatan saja, saya menduga Ical juga tidak pernah mengunjungi korban Lapindo. Wah ini harus dipertanyakan pikir saya ketika itu.

Pemimpin Redaksi saya ketika Pak Sarifuddin yang kebtulan ada di acara sebenarnya sudah menghampiri bangku saya dan menitip pertanyaan. Tapi saya mengabaikan pertanyaan dari Pemred.

Saat sesi tanya jawab karena melihat saya masih duduk di bangku, akhirnya Pemred saya maju sendiri mengajukan pertanyaannya. Setelah dia, giliran saya maju. Jadi kira-kira begini kata saya, “Selamat sore saya Vidi dari Sinar Harapan (Wah Sinar Harapan lagi- celetuk moderator), saya ingin tanya sebagai menteri kenapa bapak tidak pernah mengunjungi langsung korban lumpur di Sidoardjo?”

Moderator menunjukan wajah bingung. Dari sini saya tahu ada yang salah. ICal cengengesan sambil mengambil mik. “Saya sudah kok mengunjungi korban lumpur Lapindo beberapa kali sebagai menteri….” Kata Ical dan masih banyak lagi, tetapi saya sudah tidak sanggup mendengarnya. “OMG saya sudah mengajukan pertanyaan yang konyol”

Tiba-tiba ruangan diskusi itu serasa berputar. Lampu-lampu kerlap=kerlip di lobi Hotel Sultan itu seolah jadi lampu sorot dan sinarnya ke arah saya semua. Kaki saya lemas. Di belakang terdengar suara cekikikan, entah dari tamu, entah dari wartawan, entah dari pemred saya sendiri. Di depan juga terdengar suara moderator cengengesan.

Dari stand mik tempat bertanya, kembali ke bangku tempat duduk  yang hanya lima langkah tiba-tiba menjadi lama, bergerak seperti slow motion. Saya merasa sangat malu dan semua momen itu  terjadi dalam gerakan lambat. Setelah mencapai kursi saya duduk lemas. Berupaya mengalihkan pikiran saya ke tempat yang sejauh mungkin. Tapi sia-sia.

Setelah acara ditutup, semua orang buyar, ada yang bersalaman dengan sesame peserta diskusi, mengambil cemilan, wartawan menulis berita, doorstop Aburizal Bakrie, sibuk sendiri-sendiri dan sibuk bersama-sama. Pasti juga sudah melupakan pertanyaan saya, tetapi saya tidak bisa melupakan begitu saja menempel terus di kepala saya seperti tiba-tiba punya kutil di hidung sebesar bola tenis. Ke mana melangkah, rasanya ingin menabrak tembok saja, dan bersatu dengan batako, semen dan catnya sekaligus. Apalagi saya dengar seorang wartawan senior SH, yang kebetulan tidak menyadari keberadaan saya nyeletuk, “Ngajuin pertanyaann kok bego begitu,”

Sejak itu saya semakin parno jika ingin berpendapat ataupun  bertanya dalam diskusi. Padahal, kadang-kadang saya gregetan juga pengen bertanya atau ngomong. Tetapi selalu saya merasa tegang, setiap ingin berbicara. Jantung berdegup seperti ada parade militer, Keringat dingin keluar, kebelet pipis, perut melilit. Kalaupun terpaksa harus ngomong, suara saya jadi berayun, kadang ada kadang hilang tercekat di keroncongan. Kata-kata yang sudah tersusun rapih di ingatan, jadi buyar seperti pelajar yang berhamburan di gerbong sekolah. Untuk menemukan lagi kata-kata jadi berat karena konsentrasi pergi seperti anak hilang yang bikin bingung orangtuanya.

Sungguh menggangu terutama buat pekerjaan sebagai wartawan. Kalau mendesak banget ada yang mau ditanya, terpaksa menitip pertanyaan kepada teman di samping. Sukur-sukur kalau dia mau bertanya juga. Yang paling aman menunggu dorstopan.

Sekarang sih sudah mulai hilang ketakutan-ketakutan itu. Bukan hilang sendiri, tetapi saya paksakan-paksakan hilang. Saya meyakinkan diri sendiri kalau saya punya pertanyaan penting untuk didengar dan pendapat yang lebih bagus juga dari orang-orang.

Degup di jantung masih seperti parade, kaki masih gemetaran, yang jarang muncul lagi ialah suara berayun kadang ada, kadang hilang tersebut. Kuncinya, saya keraskan saja suara biar terdengar yakin. Keringat dingin dan perut yang melilit juga tidak ada lagi.

Yang tetap muncul adalah kalau lihat iklan Aburizal Bakrie di TV, lagi-lagi saya bergidik dan meringkik. (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s