Selamat Yah Telah Tiada

 

Di tengah-tengah suasana duka cita karena peristiwa kematian, kadang ada saja yang bikin ketawa. Salahsatunya siang ini, saat salah seorang tetangga kami di Bogor meninggal dunia.

Tetangga ini bukan tetangga biasa. Sempat  jadi besan keluarga kami. Dulu kakak sepupuku yang namanya Kris menikah dengan putri dari bapak yang meninggal itu. Menikah muda, beda agama pula.

Aku masih kanak-kanak waktu mereka menikah, tetapi  merasakan juga “dinginnya” hubungan orangtuaku dengan keluarga besannya itu. Sejak awal orangtuaku tidak setuju pernikahan itu lantaran pernikahan dilangsungkan secara Islam. Ibuku ingin Kris yang dibesarkannya dari umur 9 tahun itu menikah di gereja. Akhirnya orangtuaku tidak bersedia datang ke pengucapan ijab Kabul.

Dari pernikahan itu, lahir dua keponakanku. Tetapi sayang keluarga itu tidak bertahan. Singkat cerita mereka-bercerai. Mungkin sekitar 15 tahun lalu.

Nah tadi setelah mendengar pengumuman dari toa masjid, ibuku langsung berangkat melayat bersama tetangga yang lain. Setelah itu dia telepon kakak sepupuku si Kris untuk melayat bekas mertuanya. Kebetulan Kaka Kris  juga sedang ada keperluan di rumah kami. Awalnya Kris ragu untuk datang melayat. Dia ini memang dari dulu dikenal penakut. Kalau ada yang meninggal,  hampir tidak mau datang. Kalaupun datang, berusaha tidak  memandang jenazah atau peti mati.

Tetapi setelah didesak ibuku, akhirnya dia jalan juga. “ Itu kan bekas mertuamu, orangtuamu,” kata mama.

Kris pergi bersama Nona adik perempuanku. Masuk ke rumah, bersalaman dengan orang-orang, dan tiba akhirnya bersalaman dengan putri tertua keluarga itu, bekas iparnya. Maksudnya menyamapaikan ucapan dukacita, namun mungkin karena grogi yang tanpa alasan, ucapan di mulut malah kacau.

“Selamat ya teh, telah tiada” (whaaaaatttt???)

Si Nona yang menyadari kekacauan itu langsung cepat-cepat membisikan  ucapan dukacita yang lebih takzim. Kris pun pulang dengan garuk-garuk kepala, heran dengan kekonyolannya sendiri.

Lain lagi cerita tanteku beberapa tahun lalu waktu melayat salahseorang kerabat yang meninggal. Karena ingin ikut-ikutan mengungkapkan simpati secara Islam, dia pun bermaksud meniru ucapan “Inallilahi Wainalilahi Roziun,” kepada istri yang meninggal.

Tetapi ketika bersalaman, menunjukan wajah duka yang sungguh-sungguh, di kepalanya bermaksud mengungkapkan “inallilahi” tapi mulutnya yang tidak  biasa itu malah mengucapkan “Allhamudlilah yah bu,”

Ibuku yang mendengarnya jadi  sewot juga. “Makanya,  kalau nggak bisa nyebutnya jangan makasain!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s