Menerima Teknologi, Mempertahankan Tradisi

Sekitar pertengahan tahun lalu, saya  ke banten selatan untuk meliput kehidupan masyarakat adat kasepuhan. Pulang dari sana membuat beberapa tulisan, tapi tidak semua dimuat di Sinar Harapan. Tulisan di bawah ini salahsatu yang tidak terbit. Dibuang sayang.

Dusun Cicemet, Desan Sirna Resmi, Cisolok, Sukabumi, letaknya sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Dusun itu ada di sebuah lembah besar yang dikelilingi gunung yang merupakan bagian pegunungan Halimun.

Di sebelah Timur Gunung Kendeng, Di selatan Gunung Pangkulahan, di Di Barat ada Gunung Tapos dan Bongkok, di Utara ada gunung Cibarengkok.

Menuju kampung itu tidak mudah. Dari Pelabuhan Ratu terus ke arah Cisolok menuju utara ke  desa Sirna Resmi, sekitar satu jam dengan mobil pribadi. Kemudian jalan dari kantor desa Sirna Resmi ke Cicemet, tidak bisa dilalui sembarangan mobil.

Lebar jalan hanya sekitar tiga meter, permukaan jalan pun tidak rata,karena terdiri dari pasir dan batu sebesar sepatu. Medannya mendaki, menikung tajam dengan pemandangan jurang curam di kiri-kanan. Begitu terus sampai sekitar 17 kilo meter.

Karena itu disarankan melaluinya dengan  motor atau mobil jenis off-road. Jika menyewa mobil jenis ini, ongkosnya mencapai Rp 1,4 juta pergi -pulang.

Di kampung Cicemet itulah, terletak pusat komunitas adat tradisional sunda, Kasepuhan Ciptagelar. Kasepuhan adalah semacam lembaga adat yang menjadi panutan masyarakat terutama untuk yang berkaitan dengan pertanian.

Karena sejak dulu masyarakat sangat agraris, maka tradisi adat mereka pun sangat dipengaruhi dengan kegiatan pertanian. Kasepuhan mengatur segala macam hal mengenai pertanian. Mulai dari Kapan waktu mulai menabur benih, mananam, memanen, hingga pantangan-pantangan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan petani.

Kasepuhan Ciptagelar dipimpin Abah Sugriya Rakasiwi. Dia memimpin Kasepuhan sebagai warisan tradisi dari ayahnya Abah Anom yang meninggal 2006 silam. Usia  Ugi Rakasiwi   sekitar 26 tahun. Lelaki ini sangat terobesesi dengan elektronika. Hampir setiap malam dia begadang, untuk mengotak-atik peralatan elektronik.

Masyarakat anggota Kasepuhan Ciptagelar masih sangat memegang tradisi. Hampir semua hal yang berkaitan dengan pengelolaan padi punya upacaranya sendiri, mulai dari penentuan tanggal menanam, menyebar benih, sampai dengan upacara puncak Seren Taun yaitu upacara mensyukuri hasil panen. Larangan atau  pamali berkaitan dengan perlakuan terhadap padi, juga masih diyakini teguh. Misalnya, tidak boleh menjual padi, tidak boleh menanak nasi dengan kompor atau cosmos. Masyarakat yakin penuh siapapun melanggar aturan-aturan itu akan terkena kabendon atau kesialan. Bentuknya kabendon bisa macam-macam, misalnya melalui penyakit atau ketidaksejahteraan ekonomi.

Meski demikian, pada umumnya masyarakat Kasepuhan Ciptagelar  ialah masyarakat yang terbuka. Mereka ramah terhadap kunjungan tamu. Rumah abah, dan beberapa warga bahkan bisa digunakan sebagai tempat menginap. Tidak ada hotel atau cottage untuk tamu , karena memang masyarakat tidak pernah bermaksud melihat diri mereka sebagai obyek pariwisata. Tradisi dijalankan bukan untuk menarik wisatawan, tetapi murni sebagai aktualisasi  manusia berbudaya.

Masyarakat juga terbuka terhadap perkembangan teknologi informasi. Abah Ugi mengatakan ”  “Tidak semua teknologi bisa merusak tatanan adat,” katanya. Asal tak berkaitan dengan pengelolaan padi, beras, dan nasi, kemajuan  tetap disambut.

Masyarakat seputar kasepuhan, yang jauh dari pusat kota  dan tinggal di daerah pegunungan itu juga terbiasa dengan telepon genggam.  Bahkan banyak anak-anak masih   tingkat sekolah dasar punya telepon genggam. Kepemilikin televisi berantena parabola juga tampak biasa, setidaknya terlihat dari rumah-rumah masyarakat anggota Kasepuhan Banten Kidul, di desa Sirna Resmi.

Masyarakat  juga menelan simbol-simbol yang dipopulerkan televisi. SH misalnya pernah mendengar candaan seorang anak lelaki ke kawannya, “Terus gue harus bilang wow gituh” istilah khas candaan remaja perkotaan yang populer belakangan ini.

Efek teknologi komunikasi ini pernah diungkapkan Sandi Fauzia Rahmat, Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjajaran yang pernah meneliti efek teknologi komunikasi kepada  Masyarakat Adat kasepuhan Ciptagelar. Menurutnya televisi sedikit banyak telah mempengaruhi selera berpakaian, generasi yang lebih muda, misalnya untuk lelaki tidak terlalu hirau lagi mengenakan kain penutup kepala atau pakaian yang menjadi ciri identitas lelaki Kasepuhan.

Anak – anak juga begitu fasih dengan telepon genggam. Sibuk dengan permainan-permainan elektrionik dalam gadget. “Akhirnya semakin jarang melakukan permianan-permainan kelompok, yang sudah jadi tradisi di sini,” kata pemuda yang dalam waktu luangnya kerap mengunjungi Kasepuhan Ciptagelar ini

Memang ada kekhawatiran persentuhan dengan teknologi komunikasi, siaran televisi-televisi swasta yang memuat budaya-budaya komersil, bakal menggerus tradisi Kasepuhan.

Tetapi bukannya menolak, Ugi Rakasiwi memimpin komunitasnya untuk beradaptasi dan bahkan mengelola teknologi untuk kepentingan masyarakat.

Pada 2008 dia memprakarsai pendirian stasiun televisi lokal komunitas Kasepuhan Ciptagelar. “Awalnya abah iseng-iseng aja ngoprek-ngoprek,” katanya merendah.

Materi siaran Siga TV, ialah menyangkut semua kegiatan masyarakat tradisonal sunda itu. Terutama yang berkaitan dengan pertanian. . Mulai dari menanam sampai puncak peringatan Seren Taun. Hampir semua kegiatan yang berkaitan dengan pertanian ada upacaranya. Itulah yang menjadi sasaran peliputan Siga Tivi. Televisi lokal itu juga meliput kegiatan-kegiatan masyarakat mulai dari olahraga, tradisi sunatan, sampai hajatan perkawinan.

Hebatnya, Kasepuhan Ciptagelar bukan cuma punya staisun televisi. Mereka juga punya stasiun siaran radio. Materi siaran juga dari kegiatan warga. Pendengar bisa meminta lagu-lagu kepada penyiar. “Sebagai terimakasih karena lagunya sudah diputarkan, pendengar biasanya memberi oleh-oleh cemilan kue atau dari kebun,” kata Sodong, salahseorang pemuda yang aktif jadi penyiar radio

Stasiun televisi komunitas kasepuhan Ciptagelar diberi nama Siga TV. “Siga TV, itu artinya mirp televisi. Jadi ini televisi-televisian” kata Yoyo Yogasmana, warga Kasepuhan yang mengelola operasional sehari-hari televisi ini.

Stasun televisi ini memang dikelola sangat sederhana. Kamera perekamnya hanya satu, dipakai bergantian oleh bocah-bocah dusun yang sudah dilatih oleh Yoga. Karena tidak banyak warga yang paham tenologi, praktis hanya Yoga sendiri yang melakukan editing gambar, memasukan suara, sampai mengoperasikan penayangannya ke seluruh warga. “Malah saya sendiri juga yang jadi presenter televisinya,” ujar seniman pertunjukan asal Bandung yang sudah memutuskan menghabiskan hidupnya sebagai warga Kasepuhan Ciptagelar.

Jadwal siaran siga TV juga tidak menentu. Sangat bergantung pasokan listrik dari turbin air milik Kasepuhan. Di musim kemarau, televisi ini sering tidak tayang karena daya listrik yang tidak cukup.

Siga Tivi, kata Yoga disiarkan dengan alat transmisi yang dibuat dari kepingan compact disc (CD) bekas. Bisa diterima dengan antena biasa di saluran VHF. “Jangkauannya 40 kilometer,” ujarnya

Radio dan televisi komunitas di dusun Cicemet itu menjadi bagian kontra budaya . Yoyo Yogasmana mengatakan siaran  televisi dan radio itu adalah  upaya  menjaga keseimbangan dari serbuan tayangan-tayangan televisi komersil. “Masyarakat sekarang sangat televisi. Orang gandrung sinetron, tetapi tetap perlu ada televisi yang menggambarkan sawah, dan orang-orang yang mencangkul,” kata Yoyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s