Makanan Kecil, Gerobak Kecil, Untungnya Gede

Air hujan langsung menyiram, begitu saya lepas dari pintu bus.  Segera saya mencari perlindungan agar tidak semakin kuyup.

Kebetulan di pinggir jalan itu ada sebuah gerobak jualan, lengkap dengan tendanya. “Permisi ya, numpang berteduh,” kata saya, pada seorang pemuda tanggung yang menjaga gerobak itu.

“Oh iya, geser aja ke sini bang. Masih kena hujan kalau di situ,” katanya sambil menyorongkan bangku plastik.

Hujan semakin deras. Seharusnya, bila tidak hujan, setelah turun dari bus Primajasa jurusan Tanjung Priok – Leuwiliang itu, saya menyebrang jalan dan naik ojek motor. Ongkos  ojek dari jalan raya M Nuh, Bogor Barat  ke rumah saya   sekitar Rp 3000.

Hujan membuat saya terlibat obrolan basa-basi dengan remaja penjaga gerobak tadi. “Jualan apa nih?” Tanya saya.

“Tutut,  bang”

Saya baru ” ngeh”. Memang saya perhatikan sebulan terakhir ini banyak gerobak seperti itu di sepanjang jalan M Nuh. Tiba-tiba saja, setiap 50 meter, nongkrong gerobak dagangan yang menjual makanan bernama tutut itu.

Saya sama sekali tidak tertarik mencicipnya. Tutut, itu sejenis keong kecil berwarna hitam. Dulu waktu kecil saya sering melihatnya di selokan dekat rumah. Sama sekali tidak terpikir menjadikannya makanan.

Entah apa nama panggilan tutut itu dalam bahasa ilmiahnya. Mungkin bekicot.

Karena heran tutut bisa menjadi panganan, saya pun bertanya. “Emang laku ya, banyak yang beli?”

Jawaban si  remaja  tanggung  membuat saya takjub. Ternyata bisnis makanan Tutut ini sedang booming dan menjadi tempat mencari nafkah ratusan atau bahkan ribuan orang.

Menurut Didit remaja 16 tahun itu, setiap hari dia bisa menjual 25 – 40  kilogram tutut. Itu artinya, dalam sehari ada pemasukan Rp 300 rb sampai Rp 450 rb.

Bahkan jika Sabtu – Minggu bisa mendapat uang hingga Rp 600 ribu.

Padahal, kata Didit, dia berjualan di tempat yang tidak terlalu ramai.  “Kalau  di depan Carefour Taman Yasmin bisa sejuta atau sejuta dua ratus sehari,” ujar Didit yang mengaku hanya bersekolah sampai kelas 2 SMP itu.

Didit hanya penjaga gerobak. Remaja asal Banten ini mengatakan diirinya mendapat gaji Rp 750 rb sebulan. Gerobak itu dimiliki seorang pedagang Tutut yang juga memiliki dua gerobak lain yang mangkal di jalan M Nuh.

Setiap pagi dia mendorong gerobak ke tempat yang sama. Membawa Tutut yang sudah dimasak dalam sebuah panci besar. “Kita cuma manasin aja. Yang masak Tutut bukan kita. Tapi ada tukang masaknya sendiri,” paparnya.

Perlengkapan di gerobak Tutut antara lain, panci tempat Tutut. Kompor gas kecil satu tungku untuk memanaskannya beberapa mangkok, sendok dan garpu, serta tusuk gigi yang biasanya digunakan untuk mengeluarkan daging kecil di dalam tutut.

Harga semangkuk Tutut Rp 3000. Pelanggannya beragam. Menurut Didit, kebanyakan pembeli di gerobaknya adalah warga perumahan Taman Yasmin. Di spanduk gerobak tertulis bahwa Tutut berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit, salahsatunya sakit kuning.

Didit mengatakan Tutut diambil dari sawah di daerah Cianjur. “Di sana kan masih banyak sawah,” urainya. Kemudian setiap pedagang memasaknya pagi hari. Menurut Didit (saya tidak tahu sumbernya dari mana) berat Tutut yang dijual di seluruh Jalan M Nuh mencapai 1 ton / hari!

Saking lakunya Tutut, Didit mengatakan ada salah seorang bos Tutut yang mempunyai tiga gerobak yang diparkir di sekitar Carefour Taman Yasmin mampu membeli dua buah sepeda motor hanya sebulan setelah mulai berdagang Tutut.

Sampai sebegitu jauh cerita Didit, tetap tidak terbit rasa penasaran saya untuk mencicipi Tutut. Masih terbayang bahwa makanan yang dijual itu cuma benda menjijikan yang dulu sering saya lihat di selokan dekat rumah. Hehehe

Setengah jam sudah saya mengobrol. Hujan mulai reda. Saya pamit kepada Didit. (Vidi batlolone)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s