Ikut Presiden

Tulisan lama…baru dipos sekarang

10 Juni 2011 perjalanan pertamaku sebagai wartawan dalam rombongan Kepresidenan. Kami menuju Den Pasar Bali. Presiden membuka Pesta Kesenian Bali.

Biro Pers sehari sebelumnya sudah memberi tahu setiap wartawan yang diundang agar berkumpul di Base Of A Bandara Halim Perdanakusuma pukul 07.30 wib.

Soal waktu sangat ketat di lingkungan istana. Presiden setahu saya tidak pernah telat, datang ke suatu acara. Wartawan harus lebih dulu datang sebelum presiden. Sebab, kalau telat sedikit saja di belakang kepala negara, tidak akan diijinkan masuk ke ruangan yang sama dengan presiden.

Saya mengalaminya ketika meliput Pembukaan Pekan Raya Jakarta. Saya sudah datang ke lokasi setengah jam sebelum acara. Tetapi karena ingin mencari teman, saya keluar. Kemudian sempat makan pula. Ketika ingin masuk kembali ke tempat acara, petugas Pasukan Pengamanan Kepresidenan (Paspampres) tidak mengijinkan. “Tolong kita sama-sama saling menghargai, saya melaksanakan tugas,” kata Petugas itu ketika saya menunjukan sikap kesal.

Karena itu subuh pukul 05.00 Wib, saya sudah bangun. Dari rumah kontrakan di Utan Kayu, Jakarta Timur saya berangkat sebelum pukul 06.00. Sebenarnya jarak Utan Kayu Bandara Halim tidak terlalu jauh, sekitar 15 sampai 20 menit jika menggunakan Taxi. Saya naik Bus Transjakarta ke UKI. Setelah itu naik ojek ke base off. Pukul 7 kurang saya sudah tiba di gerbang Halim.

Ternyata ada penundaan. Kami baru berangkat pukul 11.30 Wib. Rombongan menggunakan pesawat carteran Garuda Indonesia jenis Boeing 737 800. Menurut Irianto wartawan Koran Jakarta yang lebih dulu ngepos di Istana, rombongan Presiden memang selalu menggunakan pesawat itu.

Rombongan presiden sangat besar. Meliputi beberapa menteri, para staf, paspampres dan juga wartawan. Ada 12 wartawan  ikut. Saya jarang naik garuda Indonesia, kalau tak salah baru satu kali. Nah bersama presiden itu untuk kedua kali. Dalam penerbangan 1 jam 20 menit itu, aku menikmati makanan yang disajikan, hingga nonton film.

Sampai di Bali, para pejabat setempat sudah menunggu. Pemimpin bangsa turun dan semua pejabat itu berjejer di depan tangga pesawat. Mereka membungkuk memberi tangan, dan presiden menyalami satu per satu. Semua orang di sekitar itu tampak sibuk dan tergesa-gesa. Termasuk wartawan yang segera dihimbau naik bisa yang sudah disediakan.

Itu adalah pertamakali aku lkmenjejakan kakiku di tanah Bali. Provinsi tujuan utama pariwisata Indonesia, yang cerita tentang pemandangan alam dan jiwa seni sudah penduduknya sudah  melegenda.

Kami menginap di Hotel Laguna Nusa Dua Bali. Hotel bagus, mungkin bintang 4 atau 5. Kalau ikut rombongan menteri, biasanya wartawan menginap di hotel murah yang tarifnya sekitar Rp 500 ribu sampai satu juta semalam. Meski kamar kami tampak mewah, aku yakin, itu kamar yang paling murah. Rasanya mustahil biro pers istana menyewakan kamar mahal untuk wartawan. Kamar itu sebenarnya, untuk dua orang. Tetapi  dipasang ekstra bed. Aku tidur di ekstra bed itu.

Dari brosur yang kudapat kemungkinan kamar itu bertipe deluxe. Tarifnya US$ 350 per malam. Jika dihitung ke rupiah dengan kurs Rp 9000. Maka harga kamar itu sekitar Rp 2.8 juta. Lumayaaaannn.

Hotel itu sangat luas. Sebagian besar areanya adalah kolam renang. Kolam melingkari gedung hotel dan kamar2nya. Jadi kalau kita menyewa kamar di lantai dasar, bagian belakangnya langsung kolam renang. Tinggal “lup” saja kalau mau berenang. Taman dan pohon juga ditanam sangat asri. Bahkan ada pantai pasir putih buatan di beberapa tempat.

Ketika kami makan siang di hotel, tampak bule-bule sedang berenang dan  berjemur. Perempuannya mengenakan bikini. Terus terang baru di Bali, aku melihat begitu banyak perempuan bule berpakaian minim. Dari kamar hotel pun aku bisa melihat langsung ke kolam dan memerhatikan mereka.

Kalau tak jadi wartawan, mungkin tidak pernah aku menikmati faslitas mewah ini. Mungkin juga bisa, tetapi tidak gratis.

Kadang aku berpikir, prestasi sekolahku biasa saja. Bukan yang terhebat. Anak biasa di Bogor, dari keluarga biasa-biasa. Ada ratusan teman di SD, SMP, STM. Tetapi yang pernah merasakan “kemewahan” satu pesawat dan satu hotel dengan Presiden Republik Indonesia, ya cuma aku. Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s