Bukan Roman Picisan

Pernah dengar istilah Roman Picisan? Saya yakin pembaca budiman pasti pernah dengar. Kalau belum dengar berarti belum budiman. Hehehe.  Nah saya baru saja menyelesaikan membaca salahsatu karya yang masuk kategori Roman Picisan ini. Saya juga yakin, ini merupakan karya roman picisan pertama yang saya baca. Bukannya sombong, hanya sekadar pamer aja, biasanya saya beli buku sastra yang berat-berat, yang dapat penghargaan international dan penulis-penulisnya top.

Bacaan ringan sudah saya tinggalkan sejak jaman SMP. Dulu waktu SMP saya lumayan suka stensilan. Buku-buku tipis itu membuat saya mengenal beberapa kosa kata baru dalam bahasa Indonesia. Misalnya, “menggelinjang”, “mendesah”,  “klimaks” dan satu lagi “jleb!”

Tetapi ketika muncul Video Compact Disc, piringan atau cakram yang bisa diselipkan di balik baju, stensilan mulai saya tinggalkan. Karena VCD mengalihkan kebutuhan saya akan bacaan stensilan. Namun setelah beranjak dewasa dan merenungkan arti hidup serta untuk menjaga hati yang bersih, akhirnya VCD juga saya tinggalkan. (ada DVD yang lebih jernih gambarnya ).

Kembali ke roman picisan tadi. Jadi roman picisan itu kira-kira untuk menggambarkan suatu roman atau cerita yang kualitas kesastraannya  tidak terlalu baik. Hal ini bisa jadi, karena kemunculan roman picisan ini dulu berawal dari cerita-cerita yang dimuat di surat kabar. Dituntut untuk terbit berkala, jadi roman digarap dengan cepat, tergesa-gesa, dan untuk lebih didasarkan keinginan untuk memuaskan  selera pembaca.  Jangan dibandingkan dengan Tetralogi Pulau Buru dari Pramoedya Ananta toer yang benar-benar hasil buah pikir dan permenungan dalam penulisnya saat di pengasingan.

Tetapi karya-karya Roman Picisan ini  pernah booming di suatu masa yang lampau, kira-kira di Indonesia tahun 1930-an. Sebuah cerita yang dimuat di suratkabar, selalu ditunggu dengan penasaran oleh khalayak keesokan harinya. Cerita-cerita yang diminati waktu itu ialah roman detektif, dibumbui dengan spionase, intrik, pengkhianatan, peristiwa misterius dan tentu saja romantika.

Roman picisan yang baru selesai saya baca kemarin berjudul Pacar Merah Indonesia . Judulnya memang rada nggak lazim kalau kita artikan kata per kata.  Ketika saya pertama saya baca judul itu, saya berpikir apa maksudnya orang indonesia punya pacar warna merah?  Apa hubungannya dengan PMI (Palang Merah Indonesia) ? Tetapi bukan itu. Pacar Merah, adalah nama tokoh utama di roman itu. Dan ternyata, Pacar Merah Indonesia  ialah cerita tentang petualangan salahsatu tokoh besar bangsa ini. Tan Malaka.

Mungkin tidak banyak kita yang tahu Tan Malaka. Nama ini nyaris tidak pernah disebut dalam buku-buku resmi pelajaran sejarah kita. Ketokohan Tan Malaka, lebih banyak dikaji dalam forum-forum terbuka pasca reformasi, setelah orde baru tumbang. Tidak sedikit yang sepakat, peran, pemikiran dan konsistensi perjuangan Tan Malaka bagi bangsa Indonesia yang merdeka tidak kalah dengan Soekarno, Hatta atau Sjahrir. Mungkin namanya dipinggirkan orde baru  karena dia pernah jadi kader Komunis International.

Pacar Merah Indonesia ditulis oleh Matu Mona. Ini juga bukan nama yang lazim, nama sebenarnya penulis adalah Hasbullah Parindurie wartawan Pewarta Deli yang terbit di Medan. Saat itu memang hal yang biasa seorang penulis menggunakan nama samaran.

Pacar Merah Indonesia ditulis sebagai cerita bersambung di Pewarta Deli sekitar  tahun 1930-an. Pemimpin surat kabar itu ialah Adinegoro, tokoh pers yang namanya diabadikan dalam bentuk penghargaan bergengsi bidang jurnalistik di Indonesia.

Hasbullah kepada Harry A Poeze ilmuwan yang meneliti soal Tan Malaka, mengaku dia mendapat bahan tulisan Pacar Merah Indonesia dari Adinegoro.  Jadi ketika itu Tan Malaka yang sedang dallam pelarian di tanah asing, aktif berkorespondensi dengan Adinegoro. Dari surat-surat Tan Malaka itulah Hasbullah atau Matu Mona membuat novel sejarah ini.

Roman ini bertaburan cerita seru bagaimana Pacar Merah alias Tan Malaka lolos dari jeratan polisi rahasia kolonial. Dia tidak pernah aman ke manapun pergi, tetapi dengan cara yang cerdik dan juga ajaib, selalu dapat lolos dari penangkapan. Pacar Merah juga merekam bagaimana pergerakan orang-orang kiri buangan dari tanah Hindia Belanda. Misalnya ada tokoh-tokoh PKI yang hidup di eropa. Namun dalam cerita ini nama mereka disamarkan. Hanya saja, pengkaburan nama tokoh itu, tampak nggak niat. Orang bisa menduga nama itu ialah sebutan untukseorang tokoh.

Matu Mona misalnya menulis soal tokoh Alminsky yang bisa diduga sebagai Alamin. Mussote yang bisa diduga sebagai Musso, bekas Ketua PKI. Darsonoff ialah nama buat Darsono. Dan Semaunoff untuk Semaun. (ini menyamarkan, untuk ketahuan.hehehe). Sahabat-sahabat kental Tan Malaka juga sangat kentara dalam cerita ini yaitu Soe Beng Kiat untuk menyamarkan nama Soebakat dan Djamaludin Tamin yang disamarkan dengan Djalumin.

Sosok Pacar Merah juga ditulis sebagai bukan sembarang manusia. Selain cerdas dan bercita-cita mulia, Pacar Merah juga sakti. Dia bisa melihat masa depan, dan juga kebal peluru. Ada adegan Pacar Merah ditembak seorang pria pencemburu, tetapi dia tetap berdiri dan malah tersenyum.

Rupanya buku PMI yang setebal 271 halaman ini hanya salahsatu roman picisan mengenai Tan Malaka. Di jaman itu ternyata masih banyak lagi cerita-cerita soal tokoh yang diduga lahir di tanah Minang pada 1894 itu. Roman-roman soal Tan Malaka itu  tentu saja ceritanya sudah bercampur antara fakta, imajinasi, gosip dan desas-desus. Namun dari kumpulan cerita itulah nama Tan Malaka menjadi legendaris, bahkan ketika dia masih dalam pelarian.

Yang menarik, roman-roman ini walaupun picisan, tetapi bukan hanya menggambarkan serunya cerita Tan Malaka. Bukan hanya ingin memuaskan penasaran pembaca yang selalu menunggu lanjutan ceritanya. Para penulisnya sebenarnya menampilkan dimensi politik masing-masing. Mereka menggambarkan bahwa di luar sana ada tokoh hebat yang berjuang agar bangsa ini lepas dari belenggu kolonial.

Penulisan cerita ini bukannya tanpa resiko.   Pemerintah kolonial sangat aktif melakukan tekanan kepada pers dengan meneliti berita dan pendapat yang ditulis. Tidak segan-segan penulis yang dianggap berbahaya, dikirim ke pembuangan. Untuk menghindari sensor kolonial, cendekia cendekia masa itu  akhirnya menyampaikan cita-cita dan pendapat mereka dalam  roman-roman ini.

Lama-lama penguasa menyadari bahaya yang terkandung . Akhirnya tukang sensor kolonial pun mendapat tugas baru mengawasi roman-roman ini. Hasbullah Parindurie, sang penulis kita, termasuk salahsatu yang juga sempat dikirim ke penjara.

Saya jadi ingat kata-kata terkenal, kalau nggak salah dari  sastrawan Seno Gumira Adjidarma. Kira-kira bunyinya begini. “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara,”

Jauh  sebelum Seno menulis atau mengucapkan itu, cerdik -cendekia kita di masa lampau  sudah melakukannya. Tidak bisa menulis fakta dalam berita, mereka berpindah ke genre penulisan fiksi. Jadi kalau Roman-Roman  ini disebut picisan dalam arti murahan, saya tidak setuju. Karena menulis dengan cita-cita mulia dan mempertaruhkan nyawa itu benar-benar mahal. Aih aihh..(vd)Image

2 thoughts on “Bukan Roman Picisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s