Mematahkan Stigma Korban 1965

Partai Komunis Indonesia, alias PKI. Jika mendengar nama ini, pasti yang terpikir di benak sebagian besar orang Indonesia adalah bayangan orang-orang sadis, kejam, tidak beragama. Pokoknya Horor!

Dulu ibu saya pun jika mendengar cerita kejamnya seseorang, selalu menyamakan orang itu dengan anggota PKI. “Seperti PKI saja,” begitu pernah dia bilang ketika menyebut-nyebut orang yang berperilaku tercela.

Gambaran seperti ini, kita dapat kebanyakan melalui buku-buku sejarah kita waktu sekolah. Penekanan pada buku sejarah kita memang soal ganasnya upaya kudeta 30 September 1965 yang didalangi PKI dan melibatkan segelintir tentara.


Di situ diceritakan bagaimana secara sadis jenderal-jenderal dibunuh. Mereka dijebloskan ke sumur di daerah Lubang Buaya, sebelah timur Jakarta.

Namun yang tidak banyak dikisahkan (mungkin juga ditutupi) buku sejarah era orde baru ialah pengejaran dan pembantaian orang-orang yang diduga anggota dan simpatisan PKI, setelah peristiwa G 30 S. Biisa diasumsikan perlakuan terhadap anggota dan simpatisan PKI itu lebih kejam dan biadab dibanding kejahatan pembantaian para jenderal.

Setidaknya, jika dihitung dari jumlah korban, anggota dan simpatisan PKI yang dibantai jauh lebih banyak. Menurut beberapa penelitian mencapai lima ratus ribu orang. Malah ada yang mengatakan mencapai angka jutaan. Ini karena PKI pada masa itu merupakan salahsatu partai besar. Mereka peringkat ke tiga pada pemilu 1959. Jika dibandingkan dengan sekarang, kira-kira sama besarnya dengan Partai PDI Perjuangan.

Selain banyak yang dibunuh, ribuan anggota dan simpatisan dipenjarakan bertahun-tahun tanpa pernah diadili. Mereka itu berasal dari daerah seluruh Indonesia, lebih banyak di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yang buat hati miris, mereka sama sekali tidak terkait langsung peristiwa pembunuhan jenderal di Jakarta. Mereka warga kampung-kampung, jelas tidak mengetahui sama sekali rencana pembunuhan jenderal.

Bukan hanya itu. Anak, istri, suami, ayah, cucu, simpatisan dan anggota partai pun ikut kena sengsara. Mereka hidup dalam diksriminasi. Banyak peraturan yang membatasi ruang politik dan ekonomi mereka. Padahal, mereka tidak tahu apa-apa soal PKI dan Gerakan 30 September.

Setelah era reformasi, sejumlah peraturan diskriminatif terhadap para anggota dan simpatisan PKI maupun keluarganya, masih berlaku. Di mata masyarakat pun mereka masih dianggap momok menakutkan dan seringkali dipersalahkan jika ada gejokal sosial.

Stigma sebagai yang jahat, kejam, tidak bertuhan, dan ancaman permanen sudah terlanjur melekat pada anggota dan simpatisan PKI maupun keluarga mereka. Mereka yang sebenarnya juga korban, tetapi justru dicitrakan sebagai pelaku yang biadab dan jadi ancaman terus menerus.

Buku Kuasa Stigma dan Represi Ingatan karya Tri Guntur Narwaya ini mencoba menjelaskan bagaimana penguasa membuat simbol-simbol, jargon-jargon dan memberikanstigma tertentu kepada korban 1965 – 1966. Buku ini mencoba menggambarkan bagimana simbol dan stigmatisasi kepada korban bekerja, tidak lain untuk mempertahankan relasi dominasi, dan bagaimana stigma tersebut bertahan dalam benak masyarakat.

Tri Guntur mencoba menelusuri nalar dan dalih berbagai pelabelan negatif yang diberikan kepada korban 1965 – 1966. Dalam mengkaji simbol-simbol yang berkaitan dengan komunisme yang diproduksi penguasa itu, Tri Guntur memakai pendekatan Hermeunetika mendalam yang dielaborasi oleh Jhon B Thompson. Pendekatan ini melihat kecenderungan makna membangun dan mempertahankan relas dominasi.

Dia sampai pada lima cara kerja Ideologi yang ditawarkan Jhon B Thompson yaitu legitimasi, penipuan, unifikasi, fragmenatsi dan reifikasi.

Ideologi menciptakan legitimasi misalnya dengan narasi sejarah yang ditekankan bahwa PKI pernah memberontak pada 1926, 1948 dan kemudian mecoba kudeta pada 1965. Melalui narasi ini penguasa ingin menjelaskan bahwa pemberontakan dan kudeta ialah sesuatu yang integral dalam ideologi komunis. Padahal “pemberontakan” atau “kudeta” untuk kultur masyarakat jawa yang lebih menghargai keseimbangan ketimbang perbedaaan, adalah negatif.

Narasi bahaya laten komunisme yang terus menerus dimunculkan penguasa membangun legitimasi untuk melarang aktifitas-aktifitas masyarakat. Ketakutan terhadap PKI terus menerus dihidupkan meski sebenarnya terlalu dilebih-lebihkan. Dalam kasus pembunuhan siswi di Poso, pada 2003 misalnya, dengan begitu saja polisi menuding pelakunya adalah anasir-anasir komunis.

Penggambaran atau narasi PKI sebagai kejam tidak bermoral terus menerus dikumandangkan. Peristiwa G 30 S PKI dijadikan bukti yang tidak terbantah mengenai kekejaman PKI. Teks-teks media memberitakan soal bagaimana para jenderal dicungkil matanya, disiksa, dipotong kelaminnya dan dijadikan mainan oleh Gerwani yang dilukiskan sebagai perempuan-perempuan amoral. Padahal, bukti forensik resmi menunjukan tidak ada tanda-tanda penyiksaan berat terhadap para jenderal.

Narasi kekejaman PKI ini kemudan dipakai untuk melegitimasi dan membenarkan pembunuhan masal terhadap anggota dan simpatisan PKI oleh tentara dan kelompok masyarakat. Bahkan kaum agamawan merasa membunuh dan membantai PKI adalah hal yang benar untuk mencegah bangkitnya kekuatan komunis.

Buku ini jelas bukan merupakan buku sejarah. Tidak bermaksud ingin membongkar seluk-beluk dibalik pembunuhan para jendral maupun pembunuhan anggota dan simpatisan PKI. Buku ini lebih merupakan kajian bagaimana cara kerja ideologi menggunakan simbol-simbol dan narasi-narasi untuk membuat stigma tertentu, memaksakan ingatan kolektif kepada masyarakat demi langgenganya kekuasaan. (vd)

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s