Film “Soegija” yang Tidak Mengungkap Soegija

Malam ini saya mau cerita kesan soal film Soegija karya Garin Noegroho. Saya menontonnya bersama  teman-teman,  Kamis  7 Juni lalu, di bioskop 21, Atrium, Senen.

Hari itu memang pemutaran perdana Soegija. Saya yakin bisa dibilang sukses. Minat masyarakat terhadap film yang bercerita soal uskup pribumi pertama di Indonesia itu ternyata cukup besar. Itu terlihat dari antrian tiket.

Saya yang antri  pukul lima sore, baru bisa menonton untuk pemutaran pukul 21.15 WIB.  Atrium pun sebenarnya pilihan terakhir setelah tiket bioskop lain yang kami pantau, sudah habis.

Soal film Soegija ini, pertamakali saya ketahui lewat broadcast blackberry masengger seorang teman. Katanya, ada film soal uskup pribumi  pertama yang dibuat Garin dan jika penontonnya tidak mencapai 1000, akan ditarik dari peredaran. Disebutkan juga, semua umat Katolik, Kristen dan  Budha sudah menyatakan dukungan kepada film ini.
Saya cuek-cuek saja bacanya. Tidak merasa “terprovokasi” untuk menontonnya. Buat saya film ya film, kalau memang bagus ya layak diapresiasi, dan penonton akan datang sendiri. Ngapain ngajak orang-orang nonton, kalau filmnya ternyata jelek.

Tapi karena nama besar Garin, saya merasa perlu juga mencari tahu soal film ini. Ternyata thrillernya menarik. Ada adegan perang, dan juga terlihat keseriusan membangun suasana tahun 1940-an. Apalagi dari yang saya baca, ini merupakan film berbiaya produksi terbesar yang pernah dibuat Garin.

Sebagai persiapan menonton, seminggu sebelum peluncuran film itu, saya mencari tahu dulu tentang sosok Soegija yang nama lengkapnya Albertus Soegijapranata. Bukan hanya mencari di google,  saya juga membeli biografi mini Soegija yang ditulis novelis Ayu Utami. Harganya Rp 60 ribu. Nampak jelas, biografi itu memang bagian strategi mempromosikan film itu.

Film Soegija dibuka dengan adegan kebaktian atau missa yang dipimpin pastur  Soegija di sebuah desa. Jemaat yang kebanyakan warga desa, duduk bersama jemaat bule orang belanda. Buat saya ini menggambarkan, bahwa dalam Katolik, semua orang dipersatukan oleh iman, tidak mengenal status atau warna kulit. Bahkan, yang bule pun mau dipimpin seorang pastur pribumi.

Kemudian adegan berpindah lagi ketika Soegija menerima surat pengangkatan dirinya menjadi uskup danaba Semarang.  Dalam perjalanan sebagai uskup itulah, dia memimpin umat di tengah masa-masa sulit. Mulai dari  pendudukan Jepang, hingga masa pasca kemerdekaan ketika Belanda yang membonceng pasukan sekutu kembali ke tanah air dan melancarkan agresi militer.

Salahsatu adegan yang menunjukan karakter Soegija adalah ketika dengan berani dia  mengusir komandan Jepang yang ingin mengambilalih gereja. “Ini tempat yang disucikan. Kalau tuan mau menggunakannya. Penggal dulu kepala saya,” kata sang Uskup.

Soegija juga digambarkan menjadi penengah untuk menyelesaikan perang antara Pasukan Jepang dengan para pemuda Pribumi.

Di masa pasca kemerdekaan, film mencoba menggambarkan karakter Soegija yang komitmen terhadap Republik. Dia ikut memindahkan kantor keuskupannya dari Semarang ke wilayah pemerintahan Indonesia di Jogjakarta. Dia memimpin umat memberi dukungan kepada republik. Senantiasa mendampingi dalam kesusahan umat. “Ayo Layani rakyat, jangan layani saya,” begitu perintahnya.

Dari ukuran keseriusan membuat film yang menggambarkan era 40-an, film ini top punya. Suasana latar gedung-gedung, properti hingga kostum benar-benar membawa kita kembali ke era itu.

Film ini misalnya, jauh melebihi trilogi film “Merah Putih” yang disutradarai Yadi Sugandi. Di  Merah Putih, pasukan Indonesia terlihat ganteng-ganteng, rapih jali,  bersih,  dengan seragam tidak kotor, dan persenjataan seperti pasukan yang sudah mapan.  Nahh, di  Soegija, para laskar ini benar-benar mengambarkan tentara dari negara yang baru seumur jagung. Mereka berkaos compang-camping, dekil, kumuh, telanjang kaki. Sangat pas dengan gambaran tentara Indonesia masa itu.

Sayang, keunggulan film ini, buat saya hanya di situ. Cuma sampai membangun nuansa dan  suasana 40-an.

Tetapi dari segi cerita, terus terang saya tidak menikmati film ini.  Seperti sayur yang terlalu banyak bumbu, begitulah kesan saya soal Soegija

Ceritanya terlalu terpencar dan tidak fokus. Terlalu banyak tokoh yang ditonjolkan, dan terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan melalui tokoh-tokoh tersebut.

Kita bakal bertemu dengan cerita Ling-Ling dan ibunya yang terpisah karena perang. Kita juga bakal melihat Suzuki Komandan Jepang yang mudah tersentuh hatinya jika mengingat anaknya. Juga akan bertemu dengan Hendrik wartawan Belanda dan Mariem gadis pribumi Katolik, juga akan bertemu sosok Lantip pemuda Katolik yang mengangkat senjata memimpin pasukan. Dia selalu meminta nasehat Soegija. Selain itu, ada juga Robert serdadu Belanda yang gila perang, tetapi menjadi melo saat menemukan seorang bayi korban perang.

Untuk semua tokoh itu ada adegan-adegannya sendiri yang terlalu dipaksakan untuk membawa sebuah pesan ke penonton. Misalnya,  Ling-Ling yang Tionghoa dengan adegannya bertanya kepada Soegija soal mengapa orang Tionghoa selalu menjadi korban penjarahan.

Meski film berjudul Soegija, tokoh Soegija malah tampak bukan menjadi yang utama. Terbagi dengan karakter-karakter fiktif yang terlalu banyak diceritakan.

Dalam film ini, saya tidak mendapat gambaran soal bagaimana sososk Soegija pada masa itu, peran pentingnya, pengorbanan pribadi yang harus dilakukannya sebagai pemimpin umat di negara yang tengah bergejolak. Dilema-dilema yang harus dihadapinya sebagai uskup dan juga sebagai pendukung republik.

Misalnya adegan dia berunding dengan pemimpin tentara Jepang dan Sekutu terjadi begitu saja. Sebagaimana juga adegan dia bertemu wakil Vatikan dan Presiden Soekarno terasa hambar saja. Padahal alangkah lebih baiknya diungkap lebih dramatis  bagaimana perjuangan Soegija mengusahakan dukungan Vatikan, sehingga negara itu menjadi negara eropa  yang pertama mengakui kedaulatan Indonesia.
Menurut saya, lebih bagus jika film ini hanya terfokus pada sosok Soegija saja. Sebagaimana film-film tentang kisah hidup orang yang inspiratif. Misalnya seperti  film tentang musisi Ray Charles Robinson, Muhammad Alie atau Nelson Mandella. Bahkan saya lebih puas menonton film The Rise of  Evil yang menceritakan  kisah hidup Pemimpin Nazi Adolfi Hitler,  mulai dari lahir sampai kematiannya.  Buat saya, penggambaran karakter di film-film tersebut sangat kuat. Di The Rise of Evil contohnya, penonton diajak memahami bagaimana pengalaman hidup, lingkungan, yang akhirnya membentuk Hitler jadi seorang tiran.

Ekspektasi saya, sebenarnya Soegija dibuat seperti film-film bertema biografi seperti itu. Penyampaian pesan-pesan pluralisme, kemanusiaan, kebangsaan, 100 persen katolik dan 100 persen Indonesia, saya kira bakal bisa lebih lugas digambarkan hanya melalui kisah seorang Soegija saja. Tidak perlu lagi menaruh banyak karakter fiktif yang malah seperti dipaksakan. (Vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s