Senandung Ayu

Anak perempuan berumur 2,5 tahun itu seperti alarm. Pada pagi hari, dia selalu membangunkan saya dengan senandungnya waktu sedang dimandikan ibunya. Tapi saya tidak pernah merasa terganggu, malah merasa lucu setiap mendengar suara cemprengnya yang cadel, dan dengan nada tidak beraturan.

Setelah bangun, beberapa saat saya simak dulu, senandung tidak beraturan. Tidak bisa tidak, pasti saya merasa geli, senyum-senyum sendiri demi mendengar anak itu. Kalau sudah begitu, biasanya saya keluar kamar menuju tempat mandinya. Langsung menggodanya, “Ayu… Ayu Ting-Ting lagi ngapain?”. Biasanya yang spontan menjawab ibunya si Ayu itu. “Maaf ya bang, ngebangunin
abang yaa?” katanya kikuk.

Saya senyum-senyum saja, lalu menggoda si Ayu lagi. Anak itu kalau sadar melihat saya, langsung saja menyebut saya dalam nyanyiannya yang kenes dan tidak beraturan itu. “Tulang Pidi… Tulang… Pidi Tulang Pidi….”

Dia akan menyayikan nama saya lama sekali. Meski saya sudah kembali lagi ke kamar, dia akan tetap menyebut nama saya itu. Saya cekikikan lagi pagi-pagi. Dia baru berhenti, kalau menemukan ide lain untuk dinyanyikan.

Salahsatu yang paling sering dinyanyikan adalah tentang domba kartun “Shaun The Ship…”. Si Ayu punya mainan kecil Shaun The Ship yang sangat disukainya.Karena belum fasih dengan huruf “S”, dia akan menyanyikannya dengan menyebut “Ton De Tip”. Nadanya sama saja dengan ketika dia menyanyikan nama saya. Begitu di semua lirik asal yang dia temukan.

Suasana pagi seperti itu yang hampir setiap pagi saya temukan selama sebulan. Yahh…Ayu dan Ibunya yang saya panggil Kak Ruth sempat sebulan tinggal bersama kami, saya dan Humto, di rumah kontrakan kamidi Utan Kayu, Jakarta Timur.

Kak Ruth yang usianya sudah 40 lewat itu ialah bekas tetangga Humto di Tarutung, Sumatera Utara. Beberapa bulan lalu, dari Medan dia membawa Ayu datang ke Jakarta untuk mengurus sengketa rumah warisan ibunya di Jalan Utan Kayu.

Sempat luntang-lantung, kehabisan biaya, akhirnya Humto temanku yang baik hati (serius baik. bahkan Humto pernah mengajukan ide revoluisoner, mengajak gelandangan yang sering dilihatnya tidur di pembatas Jalan Pramuka, untuk tinggal di tempat kami, tapi orang itu tidak mau meski sudah dirayu) mengijinkan Kak Ruth dan Ayu untuktinggal di rumah.

Kak Ruth, seperti lazim orang yang menumpang, sangat kikuk terhadap kami. Semua yang dikerjakannya di rumah itu, dilakukannya dengan hati-hati dan takzim. Selalu meminta ijin untuk apapun. “Bang, aku pakai pengering mesin cuci yahh…” atau “Bang aku bikin the ya…abang mau saya bikinin juga?”

Sedangkan Ayu, tidak butuh lama untuk segera merasa akrab. Hanya sebentar menggodanya, langsung keluar manja yang khas anak-anak. Langsung menggelendot di pundak saya. Minta digendong, memainkan mimik lucunya di depan wajah saya sambil berharap saya mengikutinya.

Kalau saya pulang kerja, dan Ayu belum tidur dia bakal langsung memangil saya. Meminta gendong atau kalau saya duduk, dia langsung saja duduk di pangkuan saya. Energi anak-anaknya luar biasa, seringkali saya sudah merasa ngantuk, tetapi Ayu tetap mengajak bercanda. Ibunya yang tidak enak hati, biasanya akan segera menegurnya. “Ayu tulang cape itu, tulang mau tidur,”. Tetapi Ayu tidak
pernah puas dengan pemberitahuan ibunya. Dia akan menatap mata saya dan langsung mengkonfirmasi. “Tulang cape yahh? Tulang mau tidur?” dengan nada bertanya yang sungguh sungguh.

Mengenai panggilan tulang itu entah dari mana dan siapa yang mengajar, dia begitu saja menyebut saya Tulang. Padahal ibunya, malah menyuruh Ayu memanggil saya Abang. Sempat memanggil saya Abang beberapa saat, tetapi selalu kembali lagi memanggil saya Tulang. Saya pun merasa senang saja dipanggil Tulang.

Selain aku, Ayu punya teman lain lagi. Namanya Fitri, putri satu-satunya Mas Hans, penjaga kontrakan kami. Fitri usianya hanya sehari lebih tua. Badannya lebih montok, tetapi kalau berbicara tidak sejelas Ayu.

Fitri punya wajah yang cakep, bulat, rambutnya merah awut-awutan. Sekilas seperti anak keturunan Indo.

Saya perhatikan kalau mereka bermain, Fitri selalu bertindak sebagai kakak yang ngemong. Dia kadang memanggil Ayu, ade. Sebaliknya Ayu memanggilnya Kakak. Mereka berlari-larian, kejar-kejaran. Menyenangkan betul terdengarnya kalau mereka tertawa bersama. Saya sering menggoda mereka, berlagak jadi raksasa yang berusaha menangkap mereka. Kalau sudah begitu mereka menghindar sebisa-bisanya sambil tertawa-tawa kegelian.

Seperti anak-anak, mereka sering juga berkelahi. Biasanya Fitri lebih sering terdengar menangis, karena Ayu memang lebih dominan, manja dan galak. Dia sering mendorong Fitri dengan kasar. Tetapi marahan itu memang khas anak kecil, biasanya sebentar saja mereka kemudian akur lagi, lari-lari lagi.

Kini Ayu dan ibunya tidak tinggal bersama kami lagi. Seminggu lalu, mereka pindah ke kamar kosan, di gang, tidak jauh dari kontrakanku.

“Di dekat SMK 113. Main-main yah bang Vidi,” kata Kak Ruth.

Setelah Kak Ruth dan Ayu pindah, saya sering mendapati Fitri tiba-tiba nongol di depan pintu kontrakan kami. Penuh tanya di wajah lucunya itu, dia mencari Ayu. “Ayu ayu ayu..na (mana maksudnya)?” (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s