Cuma Cerita Soal Mimpi

 

 

Tulisan ini mungkin nggak menarik. Ceritanya cuma soal mimpi ketika saya lagi tidur bermalas-malasan di siang bolong. Nggak menarik, ceritanya tidak istimewa, karena semua orang juga pernah bermimpi saat tidur siang. Saya saja yang kurang kerjaan, begitu bangun, langsung menulis mimpi barusan.hehehe

 

Saya baru saja bangun dari tidur siang dan mendapat mimpi yang aneh. Sebenarnya tidak tepat juga dibilang aneh. Karena rasanya, semua mimpi memang aneh, mengejutkan, ganjil, baik itu plot ceritanya, orang-orangnya, naik ke panggung alam mimpi dengan mengejutkan.

Panggung alam mimpi itu bikin cerita yang suka-suka dia, tidak perlu masuk akal, tidak perlu sesuai logika. Karena itulah mungkin ejekan terhadap orang yang berangan-angan tinggi, sering diungkapkan..”Mimpi kali loeee!”

Nah, siang tadi saya bermimpi ada dalam sebuah markas besar gerakan pemberontakan. Mungkin seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Markas itu letaknya di puncak sebuah bukit. Di posisi lebih bawah terdapat alat-alat, markas-markas pertahanan gerakan itu. Namun, semuanya sudah hancur dihajar kekuatan operasi militer  Tentara Nasional Indonesia. Nah markas itu jadi sasaran yang operasi TNI yang terakhir.

Bentuk markas itu  seperti rumah biasa. Bukan tangsi militer.Ada ruang tamu, ruang tidur, dapur, ruang belakang. Mirip rumah BTN tipe 42, yang pernah ditempati  keluargaku dulu.

Markas berbentuk rumah itu dipimpin seorang wanita. Badannya tinggi besar. Memakai pakaian militer. Sayang wajahnya tidak sempat kulihat.  Dia hanya tampak sebagai sosok yang kharismatik. Semua orang menghormati dan takut padanya. Dia juga punya kekuatan ajaib yaitu kebal terhadap peluru, mortir, granat, roket atau apapun itu.

Pendampingnya seorang jenderal. Lelaki, dan mengaku sebagai pengatur strategi. “Saya panglima tertinggi di sini,” ujarnya dengan suara tegas. Kutipan itu bener-bener saya dapat dari alam mimpi juga  lohh.

Saya ada di markas itu bukan sebagai bagian dari gerakan pemberontakan. Tetapi lebih sebagai tawanan. Saya tampak sebagai jurnalis yang terjebak, kemudian ditawan. Kemudian saya dicurigai, sebagai mata-mata lawan. Anggota TNI.

Anehnya bukan saya saja yang disitu. Anggota keluarga saya yang lain. Mama, nona, riko, bahkan ada istri sepupu saya juga di situ membawa bayinya (kalau bayi ini pasti tokoh fiktif karena istri sepupu saya sudah tidak punya anak bayi saat ini). Mereka juga jadi tawanan. Diperkejakan di markas itu.

Markas dalam keadaan genting. Peluru-peluru, mortir, meriam terus menghujani tempat itu. Kami bisa melihatnya dari jendela. Namun demikian, peluru dan bom-bom yang dilepaskan tersebut tidak ada satupun yang dapat menghancurkan tempat itu. Kami hanya melihat bagaimana peluru-peluru dan meriam menghajar jendela transparan. Tetapi jendela itu tampak kokoh dan hanya bergetar saja.

Hampir semua orang, termasuk sang panglima tertinggi, bergidik ngeri melihat pemandangan tersebut. Hanya satu orang, sang wanita ketua gerakan yang kelihatan tenang saja, menatap peluru dan bom yang menghujani markasnya.

Di situ juga ada bapak-bapak tua yang dari penampilannya seperti dukun. Wajahnya culas dan penuh kecurigaan. Dia menenteng kuas dan kaleng berisi cairan seperti salep warnanya serupa selai nanas, dan baunya aneh.

Dia mengoleskan salep berbau aneh itu ke urat kaki yang dibelakang lutut. Ke persendian antara paha dan betis. Dia melakukan itu untuk mencari mata-mata TNI yang telah menerobos masuk ke markas. Kaki semua orang dioleskannya.

Saat tiba giliranku, dia tersenyum tampak seperti tidak terjadi apa-apa. Aku sebenarnya risih. Mungkin karena dalam mimpi itu, ternyata aku mata-mata. Ketika dia balik lagi dan ingin sekali lagi mengoleskannya, aku menghindar sambil mengusirnya. Tapi dia malah nekat dan memaksa. Aku kabur,  dia marah dan mengejar.

Sampai di ruang belakang yang terbuka tempat cuci piring (tampak seperti pekarangan belakang rumah di film “Si Doel Anak Sekolahan”), emosiku tidak terkendali. Aku menatap ke rak yang ada wajan penggorengan. Maka sekali tebas, putuslah leher si dukun. Ambruk ke bumi, bergelimang darah.

Uhh…aku takut setengah mati. Mungkin (ini hanya mungkin loh) ketakutanku  seperti. ketakutan Musa setelah membunuh seorang mandor Mesir yang menyiksa bangsa Israel. Bingung, panik, takut ketahuan.

Tubuh dan kepala yang terpisah itu kemudian aku bawa ke hutan-hutan tidak jauh dari pekarangan belakang rumah. Pohon-pohon yang tinggi dan lebat, menutupnya, dan semoga saja menghilangkan baunya.

Aku balik lagi ke dalam rumah. Suasana semakin gawat. Peluru dan dentuman meriam semakin menjadi-jadi. Dan dari jendela tampak pasukan TNI semakin mendekat.

Sementara itu aku dengar, sepupuku kehilangan bayinya. Tiba-tiba saja hilang, ketika dia sedang menyusui di kamar. Perfect! Tiba-tiba saja aku dapat alibi kuat dan alasan bagus untuk menghindar dari tuduhan pembunuhan. Orang-orang pasti menyangka si Dukun yang sebenarnya telah aku bunuh itu, sudah pergi membawa kabur si bayi.

Rumah itu tampaknya tidak lama lagi akan jatuh ke tangan anggota TNI. Memang peluru dan bom bahkan tidak dapat meruntuhkan jendela rumah itu. Tetapi jumlahnya semakin banyak dan tanpa perintang lagi. Pemberontakan di garis depan sudah dilumpuhkan semua, dan sekarang tinggal markas besar, sebuah rumah itu yang jadi bangunan terakhir.

Akhirnya anggota TNI sampai di depan rumah. Mendobrak pintu dan langsung menahan semua anggota gerakan pemberontakan. Si wanita pemimpin yang kebal peluru dan telah membuat seluruh rumah itu kebal peluru pun dborgol. Begitu juga panglima tertinggi sang pengatur strategi.

Saya tidak ditangkap, tidak diborgol, karena diakhir cerita, ternyata benar dugaan si dukun .Saya ini adalah jurnalis tawanan tetapi orang TNI juga. Saya melihat seorang anggota gerakan pemberontak sengaja membunuh rekannya, agar TNI mengira dia bukanlah pemberontak, melainkan milisi yang membantu TNI. Mhmm.

Setelah seluruh keluarga telah dibebaskan, saya bercerita sejujurnya kepada Mama  bahwa saya telah membunuh dukun dan si bayi sepupu saya itu benar-benar sudah hilang. Itulah akhir mimpi saya. (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s