The President’s Barber (Tukang Cukur Presiden)

The President’s Barber. Gara-gara film korea ini, saya kehilangan 30 menit pertama pertandingan final liga champion eropa 2012.

Awalnya film ini disetel di Kineclub40, Lenteng Agung untuk mengisi waktu sebelum siaran langsung final sepakbola.. Teman-teman yang nongkrong, malas mendengar ulasan sok tahu komentator bola. Jadi mereka minta diputarkan sebuah film.

Jaka teman kampusku  yang mengelola Kineclub memilih The President’s Barber yang diproduksi 2004. Karena terpikat dengan film ini, kami rela menonton sampai adegan akhir dan melewatkan kick off Bayern vs Chelsea.

Film ini bercerita soal  tukang cukur bernama Seong Han Mo yang lugu, gampang dipengaruhi dan dibodohi. Dia tinggal di lingkungan dekat  Blue House, yaitu kediaman pribadi Presiden Korea Selatan.

Suatu kali dia kena dibodohi Cha Jhi Cul kepala keamanan presiden. Peristiwa itu malah membawanya menjadi tukang cukur pribadi presiden Park Chung Hee.

Menjadi tukang cukur pribadi orang nomor satu, ternyata malah membuat hidupnya runyam. Alih-alih senang dan bangga, jiwanya justru tertekan. Keluguannya tidak cocok dengan lingkungan kepresidenan yang serba kaku, otoriter dan penuh intrik. Salahsatu adegan berkesan adalah saat keluarganya dengan penuh semangat menghadiri undangan makan siang dari presiden. Tapi sampai di sana, putra satu-satunya berkelahi dengan anak sang presiden. Han Mo yang ketakutan terpaksa menggampar anaknya sendiri berkali-kali untuk menunjukan rasa bersalah. Meski demikian adegan sedih itu tetap menimbulkan tawa. Puncak Ironi nasib Han Mo ialah ketika anaknya ditahan karena kena diare, tetapi Seong tidak dapat berbuat banyak meski dia orang dekat presiden.

Daya tarik pertama film ini ada di tokoh utama yang tampangnya dungu dan kebodohannya bikin gregetan. Tampang si tokoh utama, mengingatkan saya pada  tokoh utama di film komedi vulgar Korea Sex Is Zerro. Hanya dengan melihat wajah memelasnya saja, sudah menimbulkan geli, dan si tokoh memang menunjukan wajah memelas hampir di semua adegan.

Daya tarik lain adalah ceritanya yang unik. Komedi, tetapi getir. Jalan ceritanya sebenarnya membuat sedih, soal  bagaimana seorang ayah terjebak dalam ironi. Sukses dalam karir sebagai tukang cukur presiden, tetapi justru jiwanya sebagai kepala keluarga tertekan. Ada bagian  ketika dia menggendong anaknya yang lumpuh berkeliling  seluruh negeri untuk mencari pengobatan, tetapi dialog-dialognya malah membuat lucu. Jadi, kalau mau nonton drama, menyayat hati, tetapi bertaburan komedi, ini salahsatu film yang tepat.

Nah dialog-dialog inilah jadi kekuatan yang membuatnya menjadi film komedi. Dialognya terasa wajar, tetapi menggelitik. Salahsatu dialog misalnya ketika presiden memuji Han Mo  telah cukup lama mengabdi jadi tukang cukur presiden.  Han Mo menjawab singkat “Anda juga (jadi presiden)” jawaban ini langsung membuat air muka presiden berubah tersinggung, dan mimik si tukang cukur pun berubah bodoh menyesali jawabannya.

Film ini menggambarkan secara parodi, masa-masa gejolak politik di Korea Selatan. Diantaranya masa peralihan kekuasaan  1960 sampai terbunuhnya Presiden Park, pada 1979.

Tokoh tukang cukur dan jalan hidupnya  tentu fiktif. Tetapi soal konstelasi politik korea yang menjadi latar, faktual. Presiden Park Chung He adalah tokoh nyata. Seoraang diktator yang 18 tahun lebih berkuasa. Soal bagaimana perseteruan Direktur Dinas Intelijen Korsel Kim Jae Kyu dan Kepala Keamanan Presiden Cha Ji Chul itu juga benar-benar terjadi. Begitu juga soal terbunuhnya presiden Park ditangan Direktur Kim itu peristiwa nyata. Di Korsel  dikenal sebagai tragedi 1026 yang merujuk tanggal pembunuhan yaitu 26 Oktober.

Hal lain yang menggelitik  adalah soal pengaruh komunis di Korsel, yang dalam cerita ini dilukiskan sebagai wabah diare marxus. Siapapun yang terkena diare, dicap telah terkena pengaruh komunis dari Utara. Semua yang diare, dibawa ke kamp tahanan dan diinterogerasi, salahsatunya anak si tukang cukur itu.

Ketika Jaka menanyakan apakah saya menyesal melewatkan sebagian pertandingan final liga champion demi menonton The President’s Barber, saya jawab spontan. “Tidak!” (Vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s