Kenalan di Bus Damri

Di atas bus Damri jurusan Bandara Soeta-Gambir, saya berkenalan dengan Pak Prayitno. Dia duduk di sebelah saya, dan dengan ramah membuka pembicaraan.

“Mau ke mana?” Tanyanya.

Saya melihat dan sepersekian detik sempat merasa bingung. Maklum sekian lama naik angkutan umum, sangat jarang disapa orang yang duduk di sebelah. Biasanya hanya saling senyum, setelah itu sibuk dengan pikiran dan urusan masing-masing.

Saya menjawab seadanya. “Gambir”. Sempat terbersit sesal, mengapa saya membalasnya dengan ketus. Tentu saja saya ke Gambir. Karena memang bus ke Stasiun itu tujuan saya.

Kemudian dengan cepat, sambil senyum seadanya saya meralat. “Mau ke kantor pak di Cikini,”

Jawaban saya yang sempat ketus, itu respon wajar. Hidup di Jakarta, alam bawah saya dilatih untuk waspada. Gerak-gerik dan perkataan orang yang tidak dikenal di angkutan umum, secara reflek saya pandang curiga.

Maklum berita-berita kejahatan dalam angkutan umum bukan sekali dua kali saya dengar. Pembiusan, penipuan, penodongan sudah jadi berita sehari-hari.

Saya tetap berusaha ramah, meskipun tetap waspada. Kemudian obrolan basa-basi itu pun mengalir.

Prayitno bercerita dia baru saja menyelesaikan pekerjaan di Medan, Sumatera Utara. Dia naik bus ke Gambir untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta ke Cirebon, Jawa Barat, kota tempat tinggalnya.

“Kalau naik bis ke Cirebon, lama. Naik kereta lebih cepat,” ujarnya.

Prayitno mengaku bekerja di Kompas Gramedia Group. Dia tidak menyebutkan jabatannya. Tetapi menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah mengaudit keuangan di berbagai perusahaan milik Kompas Gramedia Group.

Dia mengatakan baru saja tiba dari Medan, setelah enam bulan bertugas di sana. Dia mengaudit keuangan Hotel Santika  yang merupakan anak usaha group Kompas Gramedia.

Prayitno orang yang senang bercerita. Dia menggambarkan suka-duka, tantangan pekerjaannya. Dengan bangga dia bercerita pernah menerima pembayaran langsung dari orang  Sekretariat Negara usai suatu kegiatan Presiden SBY. “Nomor telepon  saya ini saja dikasih langsung sama SBY,” ujarnya.

Di suatu kota, Prayitno bercerita ada orang-orang dinas pajak yang ingin memeras salahsatu perusahaan Group KKG. Mereka meminta uang dengan berbagai alasan. Prayitno karena merasa benar, menolak permintaan itu. Orang pajak menggertaknya dan meminta nomor telepon. Orang pajak itu memuji nomor telepon yang unik itu. Prayitno pun mengatakan nomor itu pemberian langsung SBY. “Langsung kalah gertak mereka..hahaha,” ujar Prayitno.

Sebagai orang yang mengurusi keuangan, bukan sekali-dua kali Prayitno mengaku diperas orang-orang pemerintah. Modusnya biasanya dengan meminta uang  agar perusahaanya diberi ijin. “Mintanya puluhan juta. Tetapi saya nggak pernah kasih sebanyak itu. Ada yang pernah minta sampai Rp 20 juta. Enak aja. Saya tahu ijin itu tidak ada biayanya. Makanya saya kasih Rp 600 ribu saja,” ungkapnya sambil tertawa.

Setelah yakin Prayitno bukan orang berbahaya yang melakukan penipuan atau pembiusan, saya pun meminta nomor teleponnya. Ternyata benar, nomor handphonenya unik.

“Kalau kapan-kapan mau menginap di Hotel Santika, telepon saya ya. Nanti saya usahakan dapat diskon,” katanya mengakhiri percakapan kami. (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s