Hanya Satu Kekalahan Lagi

Saya terpaku menatap televisi layar datar yang dipasang di ruangan kantor. Melalui kotak ajaib itu, saya melihat tim nasional sepakbola Indonesia ditekuk Malaysia. Drama menengangkan selama dua jam, berakhir adu pinalti.Kita, Indonesia, gagal meraih emas.

Saya masih terpaku. Sejenak rasa hampa menghampiri. Ini tidak berlebihan. Kalau Anda bukan penggila sepakbola seperti saya, pasti sulit memahami. Betapa rindunya punya tim nasional sepakbola yang sanggup menjadi juara. Berprestasi. Perasaan yang campur aduk antara hobby dan kebanggan sebagai bagian dari suatu bangsa.

Ada jutaan orang seperti saya. Mungkin Anda yang salahsatunya yang sedang membaca. Kita duduk di depan layar kaca, Senin malam itu. Marah ketika gambar mulai bergoyang, Kesemutan. Atau ada yang datang ke stadion menjadi bagian dari 100 ribu orang. Penuh semangat, bernyanyi “Garuda di Dadaku”

Kita berharap. Separuh yakin. Inilah saatnya jadi juara walaupun hanya kelas Asia Tenggara. Memang sudah lama kita puasa. Hampir 20 tahun. Bahkan sebelum Andik Vermansyah, pemain utama tim nasional usia 23 itu lahir.

Pertandingan usai. Medali tertinggi untuk Malaysia. Negara yang selama ini kerap dibicarakan dengan cibiran.

Dari layar kaca itu pula saya melihat seorang suporter garuda menangis tersedu-sedu. Tak beranjak dari bangkunya meskipun pertandingan sudah usai. Hati saya ikut pilu. Duka dia, duka saya. Perasaan senasib sepenanggungan yang ganjil.

Satu per satu kamera menyoroti wajah lesu penonton beratribut timnas Indonesia. Anak-anak, perempuan cantik. Laki-laki tampan. Wajah-wajah yang masih tidak percaya, belum rela. Wajah-wajah kecewa seperti saya.

Kemudian saya terkesiap. Deytri mengajak pulang. Tetapi saya “paksakan” melihat medali buat Malaysia dikalungkan. Bendera yang mirip punya Amerika Serikat itu dikerek Lagu kebangsaan “Negaraku” dinaikan.

Sudahlah. Tidak terpikir lagi menyalahkan pemain. Walaupun hampir sepanjang pertandingan saya jengkel pada Oktvianus Maniani yang individual. Atau barisan belakang yang sering gugup. Bagaimanapun mereka telah memberikan segalanya.

Untuk kali ini gagal pun tak mengapa. Duka saya bersama jutaan rakyat. Sesama penggila olahraga rakyat. Sekali lagi gagal bukan masalah. Kita sudah sering kecewa, dan satu lagi kekecewaan di Senin malam, bukan masalah. Kita sudah terbiasa dengan duka yang lebih dari ini, tapi tetap melaluinya dengan teguh.

Mana ada duka lebih berat dari Tsunami 2004? Mana ada yang lebih melecehkan dibanding ketika mendengar sesama anak bangsa diperkosa di Arab Saudi, disetrika di Malaysia? Mana ada yang lebih menakutkan dari kenyataan hampir setiap bulan kita mendengar ada pesawat udara jatuh? Tawuran di mana-mana. Perampok, pembunuh lengkap mulai dari preman sampai berseragam.

Rakyat Indonesia sudah terbiasa diperas birokratnya sendiri. Ditinggalkan wakilnya. Dicurangi penegak hukum. Diperlakukan semena-mena dan tidak adil oleh aparatnya. Untuk yang sepilu itu saja sudah terbiasa, apalagi hanya untuk satu kekalahan lagi. Hanya satu lagi. (vd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s