PT DI

Bersama rombongan wartawan Istana, saya mengunjungi PT Dirgantara Indonesia di Bandung Jawa Barat, Rabu 26 November 2011. Kebetulan, Presien Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri penandatangan perjanjian PT DI dengan Airbus Military Industri dari Spanyol dan juga Kementerian Pertahanan RI.
Perjanjian itu adalah menyangkut kerjasama produksi dan pembelian pesawat CN 295. Jadi PT DI dan Airbus Military akan bekerjasama memproduksi CN 295. Sementara Kementerian Pertahanan memesan pesawat angkut itu untuk memperkuat postur pertahanan Indonesia.

Itu adalah pertamaklai saya mengunjungi PT DI. Sebelumnya, saya hanya mendengar nama salahsatu BUMN itu melalui pemberitaan, terutama soal demo ribuan mantan karyawannya yang terpaksa diberhentikan tanpa atau dengan pesangon kecil.

Ingatan saya soal PT DI juga lebih kental menyambung ke sosok Burhanuddin Jusuf Habibie. Dengar-dengar, teknokrat legendaris itu adalah orang yang membangun PT DI. Perusahaan produsen pesawat ini, seingat saya begitu prestisius. Dulu, namanya bukan PT DI, tetapi Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). Dibangun pada Oktober 1976 dengan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur. Pada 1985 berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara. Setelah direstrukturisasi namanya berubah lagi pada 2000 menjadi PT DI yang digunakan sampai sekarang.

Memasuki areal PT DI, yang pertama terlihat adalah gedung-gedung besar yang sudah tidak terawat. Dari jalan masuk, letaknya di sebelah kanan. Gedung-gedung itu terlihat kusam, catnya putihnya sudah luntur, berganti warna kream lusuh dengan noda-noda cokelat. Di sekeliling bangunan tumbuh liar rumput ilalang. Dari pinggir jalan juga terlihat lapangan sepakbola yang tidak terawat, rumput setinggi dengkul dan tiang gawang yang berkarat. Pembatas antara gedung dengan jalan raya adalah pagar kawat hitam berkarat.

“Padahal dulu tempat ini bagus banget,” celetuk seorang wartawan senior yang saya tidak tahu memang sudah pernah ke tempat ini atau berkomentar asal tebak saja.

“Dulu bangga sekali bisa kerja di sini. Mojang-mojang Bandung langsung lengket,” celetuk wartawan lain dengan yakin.

Saya menduga bangunan-bangunan besar itu adalah pabrik pesawat atau mungkin tempat parkir pesawat alias hanggar. Ada juga bangunan yang rupanya seperti kantor namun tanpa cahaya hidup sama sekali.

Mobil rombongan wartawan akhirnya memasuki kompleks PT DI tempat acara bakal dilangsungkan. Ternyata saya baru sadar, bangunan besar-besar nan kusam di pinggir jalan yang saya lihat hanyalah sebagian kecil saja dari luas keseluruhan areal PT DI. Di dalamnya masih banyak lagi gedung-gedung seperti perkantoran nan besar atau hanggar-hanggar pesawat. Tetapi kesan saya tetap sama. Gedung-gedung itu tampak muram. Tidak terawat. Bagai pria tua yang sekarat di ranjang.

Teman saya wartawan bahkan menyatakan, areal ini mungkin laku jika dijadikan tempat main paint ball (perang-perangan dengan peluru cat). “Biasanya kan main paint ball di gudang-gudang tua seperti ini,” katanya.

Biasanya, saya sering melihat jika presiden mengunjungi daerah atau kawasan tertentu, si penyelenggara kegiatan akan berusaha maksimal mempercantik lokasi-lokasi yang bakal dilewati kepala negara. Di PT DI ini saya melihat usaha itu ada. Yaitu dengan pemasangan spanduk sederhana bertuliskan ucapan selamat datang. Namun sisanya alakadarnya saja. Bangunan sepanjang 500 meter yaitu dari gerbang sampai ke hanggar tempat acara dibiarkan dengan warna cokelat lapuk. Kaca jendela yang tidak bening dan berdebu. Bahkan ada beberapa bagian tembok yang dibiarkan “coak” tidak diperbaiki.

Awalnya saya mengira gedung itu tidak terpakai. Namun ketika mengintip ke bagian atas terlihat orang-orang dari jendela mengintip penasaran. Saya menduga mereka adalah karyawan di situ.

Palupi Anisa wartawan surat kabar Republika biro Bandung mengatakan kunjungan Presiden membuat PT DI jadi ramai. Padahal pernah suatu kali dia datang untuk mewawancarai salah seorang pejabat PT DI. “Suasananya benar-benar sepi mencekam, seperti di pelabuhan yang tidak terpakai,” ujar Palupi.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengakui perusahaan itu pernah berada di titik nadir. Tetapi, kata Budi, PT DI masih tetap konsisten dengan bisnis utamanya sebagai satu-satunya industri dirgantara nasional yang memproduksi pesawat terbang dan helikopter.

Kebijakan pemerintah merevitalisasi industri pertahanan beberapa tahun terakhir telah membuat kondisi perusahaan semakin membaik. Misalnya memberikan dana mencapai Rp 675 miliar dan menghapus utang Rp 1 triliun lebih.

Dulu saya juga sempat mendengar kabar bahwa untuk tetap hidup, PT DI terpaksa harus memproduksi panci. “Tapi pancinya sejnis teflon, bukan panci murahan yang pantatnya hitam,” kata temanku Yudha wartawan Okezone.com sambil terkekeh. Entah benar atau tidak kabar itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan krisis eknomi yang mulai tahun 1997 memang telah menyulitkan industri pertahanan termasuk industri dirgantara. Uang yang ada tidak cukup untuk melakukan moderniasi persenjataan.

“Kita utamakan atau prioritaskan kebutuhan lain bagi  rakyat kita sehingga TNI  harus  lebih mengalah,” kata Presiden.

Kini, katanya, seiring perekonomian membaik, uang bisa lebih banyak dialokasikan untuk membeli senjata. Karena itu, TNI terus diperbarui senjatanya. Pemerintah sudah mengalokasikan sekitar Rp 150 triliun sampai 2014 untuk anggaran pengadaan serta perawatan alat utama sistem persenjataan (alutista).

Presiden memerintahkan pembelian senjata harus menggunakan produk dalam negeri. Begitu juga pembelian pesawat. “Manakala alutista bisa diproduksi di dalam negeri oleh indsutri pertahanan kita wajib hukumnya untuk membeli dari industri dalam negeri,” ujar Presiden.

 

Sampai semester pertama 2014, pemerintah berharap sebanyak sembilan buah pesawat CN 295 telah selesai dibuat PT DI.

 

Saya tidak mempunyai hubungan emosional apa-apa dengan PT DI. Setahu saya tidak ada satupun anggota keluarga yang bekerja di sana. Tapi saya ikut berharap perusahaan ini segera bangkit. Mengembalikan lagi kebanggan kita terhadap industri dirgantara nasional. Semoga. (vidi batlolone)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s