Pulang

 

Mama merentangkan kedua tangannya lebar-lebar saat aku muncul di depan pintu. “Kakak, Mama kangen” katanya sambil langsung mendekapku.

Dia mencium kedua pipiku bergantian dengan hidung. Setiap menyentuh pipi dia menarik napas kuat sampai terdengar bunyi seperti menarik ingus. Seolah ingin meresap semua bauku.

“Lapar Ma” kataku sambil menuju ruang makan. Di kulkas ada pepaya, aku mengambil sepotong. Kemudian membuka tudung di meja makan. Ada daging bumbu, dan ikan goreng.

“Mau makan apa sayang?” tanya mama.

“Udah mama istirahat aja, biar vidi nanti yang siapin makan sendiri,” kataku sambil berjalan ke luar rumah untuk membayar tukang ojek yang aku suruh menunggu di pertigaan jalan dekat rumah kami.

Balik lagi, ternyata mama sudah ada di dapur. Aroma ayam goreng menyapa hidung. Tak lama kemudian Mama menghidangkannya di meja.

Aku makan dengan lahap.

“Riko ke mana ma?” Tanyaku.

“Dia mah biasanya pulang malam” kata Mama.

“IP (Indeks Prestasi)-nya, katanya turun ya?,” tanyaku lagi.

“Iya, biasanya IP-nya di atas tiga, tapi semester ini 2,85”

Cita-cita Riko

Riko adik laki-lakiku. Kuliah di Institut Pertanian Bogor. Lahir 19 Desmber 1990. Pandai bergaul, tidak merokok. Beberapa waktu lalu dia pasang status di blackberry massenger soal IP-nya yang turun.

Riko itu satu-satunya anggota keluarga yang sejak kecil sudah merasa pasti dengan cita-citanya. Sekarang boleh dibilang, cita-citanya sudah tercapai.

Apa cita-cita Riko? Waktu kecil kalau ditanya, Riko cita-citanya apa? Dengan lantang dia menjawab, “Mau jadi Pemuda Pancasila!” Semua tertawa mendengar jawaban Riko. Meski diberitahu bahwa ada cita-cita seperti polisi, tentara, dokter, presiden, tetapi Riko bergeming. Dia tetap ingin jadi anggota Pemuda Pancasila (PP).

Nah impian masa kecilnya itu sudah tercapai. Sekarang dia pengurus Satuan Pemuda dan Mahasiswa Pemuda Pancasila kota bogor. Mantap.hahaha.

Keluargaku memang sepertinya punya hubungan emosional dengan organisasi Pemuda Pancasila. Alamarhum ayahku dulu adalah ketua PP pertama di Kabupaten Bogor. Waktu umurnya sekitar 25 atau 26 dia menerima mandat membentuk kepengurusan PP di Bogor.

Ayahku bercerita, ketika melantik pertamakali pengurus sebuah kecamatan, dia diarak seperti raja ke lokasi pelantikan. Dibonceng diatas motor dan dikawal puluhan motor lain yang berpawai dan berparade.

Selesai acara, ayah menunggu sampai semua peserta pulang. Setelah lapangan tempat pelantikan sepi, barulah dia pulang.Ayahku gengsi kalau orang lain tahu dia tidak punya kendaraan pribadi. “Malu dong, masa ketua, sudah diarak seperti itu, eh pulangnya jalan kaki,” begitu cerita ayah dengan geli.

Waktu itu gaji ayah sebagai guru SD pas-pasan. Awal 1980-an, kata mama yang juga guru, gaji mereka hanya Rp 15000 per/bulan. Sekitar tahun 1986 dia mengundurkan diri dari PNS dan membangun karir sebagai kontraktor. Ayah meninggal 19 Juni  2000, karena serangan jantung. Usianya baru 44 tahun.

Om ku, Rony Moriolkosu, kakak sepupu ibuku juga aktifis Pemuda Pancasila. Dia sekarang Ketua PP Kota Depok. Entah sudah berapa tahun dia memegang jabatan itu. Sepertinya sejak aku SMP dia sudah memimpin PP Kota Depok. Karena seringnya om-om PP berkegiatan di sekitar kami, membuat kami terbiasa. Riko kagum dengan gagah-gagahnya anggota PP. Itu yang membuat dia sejak kecil bercita-cita jadi anggota PP.

Aku, biarpun bangga ayahku pernah jadi ketua PP Bogor. Tapi entah kenapa tidak pernah ada niat di hati untuk aktif di PP. Secara sinis aku memandangnya hanya sekadar organisasi gagah-gagahan an saja. Dan, aku tak tertarik untuk gagah-gagahan.

Riko sering protes kalau aku bilang PP itu organisasi preman. “Itu dulu. Citra itu ingin kita hapus. Kita juga punya kegiatan intelektual kok,” belanya sangat diplomatis. Ckckck. Semoga adikku itu nanti bisa menggantikan Pemimpin Abadi PP Yapto Soerjosoemarno.hehehe

Kembali ke ruang makan. Setelah menanyakan Riko, aku bertanya soal Nona.

“Nona gak pulang, dia tidur di mana?”

“Tidur di sekolah itu (mungkin maksudnya asrama)” kata Mama.

Nona, nama lengkapnya Nine Novantri Batlolone. Dia adikku yang paling cantik (karena satu-satunya perempuan.hehehe). Usia kami beda 3 tahun. Dia lahir 9 November 1985 di Saumlaki, Maluku Tengara. Sekarang mengajar di Play Group di Citeureup Bogor. Nona tampaknya cocok dengan pekerjaan itu. Dia menyenangi anak-anak. Dan anak-anak pun menyukai dia. Hampir semua keponakan maupun saudaraku yang masih anak-anak menyenangi Nona. Mungkin itu karena ukuran tubuh dia juga seperti anak2. Hehe. Nona memang imut. Saya berani sumpah, kalau Nona dipakaikan seragam putih biru, pasti banyak orang yang tidak menyangka kalau usianya sudah seperempat abad.

Nona partnerku paling the best untuk bikin lelucon-lelucon di depan mama. Kalau kami beraksi, bikin cerita konyol, atau menggerakan tubuh dengan jenaka. Mama pasti ketawa sampai sakit perut.

Duet

Sambil ngobrol, mama membuka tasku. Diambilnya tiga lembar kemeja kotor, lalu memasukannya ke mesin cuci. Mama memang  meminta agar aku membawa pakaian-pakaian kotorku. Dia tidak rela bajuku dibawa ke laundry. Menurutnya cucian di laundry sama sekali tidak bersih.

Tapi karena aku malas membawa semua pakaian kotor ke Bogor, dan juga tidak mau merepotkan mama, jadi kubawa beberapa potong saja. Terutama yang warnanya putih. Cucian mama sempurna. Kaos putih yang berubah kecoklatan dan nodanya tak huilag di lanudry, kalau di tangan mamaku bakal balik lagi ke warna semula. Seperti baru.

Selesai makan, aku ke ruang keluarga. Kuambil gitar yang tergeletak di sofa. Mulai bersenandung. Setelah membereskan dapur, mama menyusul. Kami menyanyikan beberapa lagu. Aku main gitar, mama bernyanyi. Lagu-lagu maluku sampai lagu-lagu rohani kristen kami tembangkan. Salahsatunya lagu faforit Mama berjudul “Bapa Engkau Sungguh Baik”

…Selalu baru dan tak pernah, terlambat pertolongan Mu. Besar setia Mu di sepanjang hidupku…” Merdu sekali suara Mama. (vd)

One thought on “Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s