Blues Merbabu, Perlawanan Cuek Anak PKI

Blues Merbabu

Bagaimana kehidupan anak-anak PKI? Pertanyaan itu diajukan seorang reporter muda cantik kepada Gitanyali, anak PKI.


Jawabannya kemudian mengisi seluruh isi novel Blues Merbabu. “Tak ada bedanya dengan anak-anak negeri lainnya, yang juga banyak mengalami kesulitan hidup,” kata Gitanyali.


Dan memang, sepanjang novel 186 halaman ini kita menemukan tokoh utama yang biasa-biasa saja. Jalan hidupnya tidak mendayu-dayu tragis (anak PKI dalam banyak literatur sering disebut serba sulit karena perlakuan diskriminatif”). Dia juga bukan pejuang politik.
Hanya orang biasa, yang tidak ambil pusing soal masa lalu orangtuanya yang aktivis komunis. Dia mungkin terluka, tetapi menerima dan menjalani hidup dengan ringan. Fokus hidupnya bukan soal PKI, tetapi soal perempuan dan sex.


Gitanyali, tokoh utama dalam novel, adalah putera bungsu Sutanto Singayuda. Dia adalah aktivis kiri utama di sebuah kota di Jawa Tengah. Nama kota tidak dijelaskan penulisnya. Yang bisa diketahui, bahwa dari kota itu bisa terlihat jelas lekuk-lekuk profil gunung Merbabu. Karena itu patut diduga kota yang dimaksud adalah Salatiga.


Ke”kirian” Sutanto dapat terlihat ketika memberi nama pada dua kakak Gitanyali lainnya. Paling tua ialah Tantra Merahbala atau bisa diartikan kawanan laskar merah. Kakaknya nomor dua, perempuan diberi nama Mirah Kencana. Serba merah menjadi gambaran ideologi si pemberi nama.


Rumah Sutanto merupakan sentral kegiatan komunis di kota itu. Gitanyali mengenang, rumahnya selalu ramai orang. Tempat berkumpul atau rapat bagi kader partai. Di halaman rumah terpampang papan besar bercat merah bertuliskan “Comite Seksi Partai Komunis Indonesia”


Gitanyali bersentuhan dengan seksualitas ketika menemukan tetangga-tetangganya mandi. Umumnya rumah-rumah mempunyai tempat mandi di bagian belakang dekat areal kebun. Gitanyali pun berpetualang dari kebun ke kebun demi melihat lekuk-lekuk tubuh perempuan. Entah itu si Mbak anu, si mbak itu atau Bulik anu. “Aku hapal betul sampai ketebalan rambut anunya,” kata Gitanyali.


Orgasme pertamanya terjadi saat tidur (bukan bersetubuh) dalam dekapan Mbak Kadar. Salahsatu aktivis partai yang tinggal di rumahnya. Rembulan terang yang nampak dari jendela terbuka, paha yang tersingkap, dan dia pun jatuh cinta.


Dalam satu episode sejarah penting negeri ini, perubahan besar-besaran terjadi dalam rumah dan seisinya. Dia masih di sekolah dasar ketika menyaksikan ayahnya, Sutanto “dijemput” tentara. Sampai kini tidak pernah kembali. Beberapa waktu kemudian giliran ibunya diambil dan ditahan di kantor Kodim.

Rumah besar itu sepi. Dia pindah ke rumah Eyang, yang selisih dua rumah. Di rumah itu dia tinggal sampai tingkat sekolah menengah pertama. Menjadi karib dengan teman sebaya bernama Roby Ganda. Saat anak-anak seusia masih mengejar layang-layang. Mereka terobsesi mengejar-ngejar perempuan. Mengirimkan ucapan cinta lewat radio kepada gadis-gadis paling cantik sekota. Bersama, mereka bersetubuh dengan Adila. Grandfunk (perek) terkenal di kota itu. Di atas perutnya tokoh utama kita hilang perjaka.


Soal hilangnya sang ayah, ibu yang mendekam di tahanan, dan lingkungan yang berubah bukannya tak berpengaruh. Namun Gitanyali mempunyai sikap mengambil jarak dengan apapun. Mekanisme ini justru melindungi dirinya. Dia tidak terlalu banyak perduli. Di matanya dunia hanya dagelan. Bisa jadi ini memungkinkan dia melalui dengan tenang dan cuek nasib sebagai anak PKI.


Hal yang mengesankan saya adalah ketika Gitanyali dewasa, kembali ke kota asalnya. Berusaha menemukan serpihan-serpihan memori di kota asalnya. Tetapi banyak hal telah berubah. Tidak ada pemandangan Merbabu biru emas, siluet nelayan dari atas kereta tidak sempat terlihat, Bioskop Rex salahsatu tempat favorit muda-mudi memadu kasih tidak ada lagi. Padahal dalam benak Gitanyali, Bioskop itu bukan sekadar pusat kota tetapi pusat jagad. Tugu Beatrix, Tamansari dan Kebon Binatang pun raib berganti bangunan mall. Sungai tak lagi berkilauan. Kota menjadi padat. Tidak ada lagi pekarangan belakang rumah, dan kebun yang dulu menjadi tempatnya mengintip perempuan mandi.


Dia bertemu Li Hwa, teman asmara masa remajanya yang dia juluki Malaikat Kecil. Namun tidak lama, karena merasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Dia juga kembali menjumpai Mbak Kadar, sang Dewi Pergiwa yang dulu tidur mendekapnya di bawah cayaha rembulan. Cinta pertama, di atas pahanya Gitanyali merasakan orgasme pertama. Pertemuan mengagetkan tapi tidak istimewa. “Seketika aku menangkap, agaknya tinggal di rumahku hanya episode sangat singkat dari gelombang besar hidupnya,….Mimpi kanak-kanaku bukan bagian mimpinya. Aku menghidupi mimpiku sendiri ” kata Gitanyali.


Novel ini bukan seperti novel kebanyakan yang membangun ceritanya mencapai klimaks dan anti klimaks. Tidak ada konflik yang berarti, Lebih miripcatatan harian, memoar. Di sebuah situs aku menemukan analisis bahwa Gitanyali sebenarnya adalah nama samaran wartawan budaya sebuah surat kabar nasional. Blues Merbabu adalah semacam biography berbentuk novel. Bahkan Roby Ganda sahabat Gitanyali waktu SMP yang ugal-ugalan sebenarnya adalah tokoh nyata yaitu aktor Roy Marten.


Cerita sederhana, dengan cara bertutur sederhana ini, sebenarnya bekisah juga soal perlawanan. Perlawanan a la Gitanyali yang cuek. Cara bertahan anak PKI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s