Kontrakkan

Suara sepeda motor terdengar dari depan rumah. Menyusul kemudian bunyi pagar didorong. Agak kasar. “Braaaaakkk” terdengar si pendorong pagar agak memaksa

 

Aku yang sedang bersila di atas kasur tipis ruang televisi langsung bergegas menuju pintu. Tanpa melihat pun, aku sudah tahu yang datang itu Humto Ricardo Marbun.

 

Kubukakan pintu untuknya. “Bawa bungkusan nggak?” tanyaku. “Ah lagi tipis nih” jawab Humto sambil masuk ke kamarnya.

 

Pintu pagar kutarik agar menutup. Tetapi ternyata sulit, karena itu aku sedikit mengangkatnya. Entah sudah berapa tahun umur pagar berwarna hitam kusam ini. Saat kami (aku dan humto) pindah ke rumah ini sebulan lalu, pintunya masih enak ditarik dan didorong. Tetapi sekarang sulit menggerakannya. Mungkin karena roda atau relnya sudah berkarat.

 

Eh kok lu tutup sih? Motor gue masih di luar!” teriak Humto.

 

Astaga aku lupa, tidak menyadari Yamaha Vega miliknya masih ada di depan pagar.

 

* * *

 

Humto, yang bisa kupanggil Lae atau Hum, baru pulang kantor malam itu Sabtu (19/2) sekitar pukul 22.45 WIB. Dia wartawan desk olahraga di situs berita www.today.co.id. Masa kerjanya di tempat itu hampir sama dengan, masa kami tinggal di rumah kontrakkan ini. Kurang lebih sebulan.

 

Yah, sekitar satu bulan lalu, aku dan Humto memutuskan pindah ke rumah ini. Rumah dua lantai bercat krem, di Jalan Nanas, Kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Sebelumnya kami tinggal di kos-kosan, belakang Hotel Saleh, masih di Utan Kayu juga.

 

Untuk yang belum tahu. Humto itu kawanku sejak sembilan tahun lalu. Asli Tarutung, Sumatera Utara. Akhir tahun 2000 dia, dengan menumpang truk barang, merantau ke Jakarta. Lalu tahun 2001 mendaftar sebagai mahasiswa Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik.

 

Kami Pertamakali bertemu di acara Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Dia mahasiswa ilmu politik, tetapi menunjukkan minat yang lebih besar di bidang jurnalistik. Pernah meimimpin redaksi dua penerbitan mahasiswa. Dua kali gagal dalam pemilihan presiden Badan Eksekutif Mahasiswa IISIP.

 

Seminggu sebelum wisuda sarjana, dia diterima kerja di sebuah majalah gaya hidup. Hanya sekitar sebulan di sana, kemudian pindah ke Kantor Berita Radio 68H (KBR68H). Memasuki tahun ke empat di KBR68H, Humto mengajukan surat pengunduran diri. Kemudian bekerja sebagai news feeder (semacam kontributor) di Tabloid Bola yang kantornya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Meski demikian Humto tetap betah tinggal di Utan Kayu.

 

Aku mulai tinggal dengan Humto di satu kosan (tetapi beda kamar), belakang hotel Saleh sejak awal Desember 2011. Sebelumnya, aku kos di Gg Jamrud, Kramat raya. Hanya sekitar 10 menit jalan kaki dari kantorku di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Tetapi kemudian aku pindah. Kata bapak kosku, pak Once pria paruh baya keturunan Ambon-Cina, ada saudaranya dari Bogor yang mau tinggal di Jakarta. Jadi terpaksa dia memakai kamarku untuk menampung saudaranya itu.

 

Dalam keadaan kepepet, pusing cari kosan, aku akhirnya memilih ngekos di kamar samping kamarnya Humto, meskipun tempatnya lumayan jauh dari kantor.

 

Sebenarnya aku mulai betah tinggal di situ. Tempatnya bersih. Setiap pagi ada pekerja rumah tangga yang membersihkan area sekitar kosan. Kamar mandi, teras, tangga, disapu dan dipelnya. Baju-baju kotor kami juga dicucinya. Kami tinggal menaruhnya dalam keranjang. Dia akan mengambilnya setiap dua hari sekali. Setelah itu pakaian kami yang telah bersih, rapi jali bisa diambil di ruang setrika.

 

Kamar kos yang berukuran sekitar 3 x 3,5 itu juga lumayan adem. Seingatku, aku tidak pernah merasa kegerahan. Sirkulasi udaranya lebih baik di banding kamar kosku sebelumnya yang terasa sumpek. Mungkin karena ada ruang terbuka, cahaya matahari pun cukup. Dan yang paling penting, tidak ada nyamuk, baik siang maupun malam Selalu dapat tidur nyenyak.

 

Yang mungkin sedikit mengganggu, adalah seorang tetangga kosku di lantai yang sama namun dipisahkan satu kamar. Dia perempuan berusia sekitar 55 tahun ke atas. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa namanya.

 

Perempuan ini mungkin seorang pebisnis. Entah apa yang dibisniskannya. Namun kalau bicara soal bisnis dengan tamunya atau dengan orang di telepon, suaranya keras. Cempreng. Logat Sumateranya pun tak enak ditelinga. “Kalau bapak nggak mau ya sudah. Saya kan sudah menghubungi penyalur. Nanti dua setengah persen ada bagian. Sudah limaratus juta bagaimana ini!!!” kira-kira begitu kalau dia ngomong.

 

Parahnya lagi, mungkin ibu ini sedang sial, atau rugi berbisnis. Hampir setiap bicara, dia selalu dengan nada tinggi. Nada kesal.

 

Tetapi ibu bisnis ini tampaknya sadar kalau dia mengganggu tetangga kos yang lain. Pernah suatu kali, ketika aku bangun pagi dan hendak ke kantor, tiba-tiba dia menyapa ku. “Maafin ya dek, ibu jadi nggak enak nih, kalau ngomong sering keras-keras, jadi ngebangunin” katanya. Aku menjawab sekenanya. “Ah nggak apa-apa kok bu, aku bangun karena emang mau kerja”

 

Menurut Humto, ibu itu sebenarnya kaya. Dia datang dari Batam untuk mengurus bisnisnya di Jakarta. Awalnya dia tinggal dari hotel ke hotel. Setelah itu pindah ke apartement. Namun karena bisnisnya belum berhasil, dan uangnya habis, terpaksa dia tinggal di kos-kosan.

 

Ketika aku baru pindah ke kosan itu, Humto justru mengungkapkan rencana untuk tinggal di kontrakkan. Menurutnya, pindah ke rumah kontrakkan bakal lebih menyenangkan. Lebih banyak ruang menyimpan barang-barang dibanding di kamar kos kami yang mungil. Dan, menurut perhitungannya bakal lebih murah. Dia mengajakku.

 

Maka pada suatu sore di pertengahan Desember 2010, aku bertemu dengan Jungjungan Tobing. Pria yang juga dari Tarutung ini, mantan pacarnya Deytri. Mereka berpacaran sekitar tiga bulan, waktu masih sama-sama mahasiswa di Universitas Gadjah mada, Jogjakarta. Jungjungan atau biasa disapa Jungjung bekerja di perusahaan minyak, yang aku lupa namanya. Di Jakarta, dia tinggal bersama tiga temannya si sebuah rumah kontrakkan.

 

Aku tanya dia. “Apa ada kontrakkan kosong di sekitar kontrakkanmu?”

 

Nanti aku tanya-tanya dulu bro” kata Jungjungan

 

Beberapa hari kemudian Jungjung memberi kabar. Dia mengirim sms berisi nomor telepon temannya, yang bisa ditanya soal rumah kontrakkan.

 

Aku beritahu Humto yang kemudian memfollow-up-nya.

Sekitar dua hari setelah itu, Humto memberi kabar. Dia sudah datang langsung ke rumah itu. “Pokoknya Vid, brrrrrrrrrrrrr!!!” ujar Humto agak lebay, sambil mengangkat dua jari jempolnya.

 

Cara penggambaran Humto dengan dua jempol, ternyata tidak berlebihan. Rumah itu memang bagus. Bahkan lebih bagus dari yang aku bayangkan. Satu-satunya kelemahan rumah itu adalah terasnya sempit. Selebihnya, bagian dalam rumah itu cukup nyaman.

 

Aku kurang pandai memperkirakan ukuran. Berapa meter luas dan panjangnya rumah itu, aku tak tahu pasti. Tetapi deskripsi rumah itu, kira-kira seperti ini. Ada ruang tamu yang luasnya bisa untuk memarkir 15 motor. Satu kamar tidur di lantai bawah, lebih besar dari kamar kos kami sebelumnya. Kemudian di lantai bawah juga ada ruang menonton televisi, tepat di bawah tangga. Kemudian ada dapur yang dilengkapi wastafel, serta kamar mandi.

 

Di lantai atas, ada dua kamar tidur yang luasnya hampir sama dengan kamar di bawah. Ada ruang tempat menjemur pakaian, berdekatan dengan kamar mandi. Oh ya, tangga ke atas terbuat dari beton yang kokoh serta pegangan tangan dari besi yang diukir elegan. Rumah ini sebenarnya lebih cocok bagi pasangan suami istri dengan tiga orang anak. Bukan buat kami yang masih bujang.

 

Akhirnya kami sepakat pindah ke rumah itu. Untuk itu, kami mesti membayar Rp 15 juta. Itu uang kontrakkan untuk satu tahun. Dengan cepat, tergesa-gesa, kami pontang-panting mencari uang sebanyak itu.

 

Namun hanya satu hari sebelum jadwal pindah, aku disergap keraguan. Aku malah khawatir, kami tidak bisa mengurus diri di rumah itu. Maklum rumah itu, bagiku terlalu besar. Sulit mengurusnya.

 

Aku dan Humto sama-sama wartawan. Jadwal kerja kami tidak menentu. Aku kadang baru selesai kerja pada pukul sebelas malam. Kadang sampai pukul 01.00 WIB dini hari, dan kemudian kerja lagi pagi harinya. Lalu siapa yang akan mengumpulkan dan mencuci baju kami?

 

Di kosan belakang Hotel Saleh, aku dimanjakkan oleh PRT yang rajin mencuci dan menyetrika. Pakaian tak pernah menumpuk, rapih di dalam lemari. Kamar mandi selalu bersih. Tetapi bagaimana di kontrakkan yang baru? Apa kami harus menambah biaya lagi untuk menyewa pembantu?

 

Kepusingan lain adalah soal biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk membeli kasur, membeli lemari. Membeli peralatan-peralatan lain yang seharusnya ada dalam sebuah rumah. Belum lagi harus membayar air dan listrik sendiri. Itu pekerjaan-pekerjaan ibu rumah tangga yang sepertinya aku tidak siap untuk melakukannya.

 

Pertimbangan lain adalah soal interaksi dalam rumah yang besar itu. Aku membayangkan rumah itu pasti akan sepi dan menyeramkan kalau malam. Karena itu aku bilang sama Humto, aku terpaksa akan kembali ngekos jika dlam waktu sebulan ternyata pakaianku menumpak, rumah itu menjadi kotor, serta jika tidak ada kawan baru yang kami dapatkan untuk mengisi kamar yang kosong.

 

Kalau sebulan lo nggak betah, gue yang angkat barang-barang lo balik lagi ke kosan,” kata Humto menjawab tantanganku.

 

Sekarang, sudah lebih dari sebulan sejak kami memindahkan barang-barang ke rumah baru. Apakah aku betah?

 

Sebagian ramalanku terbukti. Banyak pakaian kotor menumpuk di kamarku. Tiga minggu sekali, aku bawa ke tempat laundry. Hasil cuciannya tidak terlalu baik bila dibanding cucian Mbak Nining, PRT di kosan belakang Hotel Saleh. Rumah kadang-kadang berantakkan, sepatu, baju, bantal, botol minum yang terserak sana-sini. Bila ada waktu saja, kami bersihkan. Humto memang lebih rajin dari aku, mungkin karena dia terbiasa hidup ngekos.

 

Aku sendiri hanya rajin kadang-kadang saja. Maklum sejak kecil aku sudah terbiasa enak. Banyak saudara yang tinggal bersama keluargaku waktu di Bogor. Biasanya mereka yang mengerjakan semua, mulai dari sapu-sapu rumah, mencuci bajuku, kamarku dan isi lemariku pun masih dibereskan mama sampai sekarang. Kadang aku heran, Mama sering marah-marah kalau melihat kamar dan lemariku berantakkan. Padahal, aku sendiri nggak merasa keberatan jika kamarku berantakkan.hehehe. Tapi itulah ibu-ibu, selalu mau anaknya rapi jali bersih love u mom.

 

Deytri juga mirip ibuku. Kalau dia datang ke kontrakkan, tangannya nggak bisa diam. Pertamakali, dia ke kontrakkan tangannya langsung gatal melihat noda bekas cat di lantai. Dua jam dia habiskan untuk mengerok bekas-bekas noda itu. Lain kali dia datang, gagang sapu di pegangnya. Di waktu lain lagi, dia memaksaku melaundry pakaian kotor. Lalu lain kali dia datang melihat kamar yang berantakkan, mukanya langsung cemberut dan tiba-tiba tidak mau diajak bicara.

 

Kalau malam juga memang terasa sepi mencekam. Humto sering dapat tugas malam. Aku sendirian. Kadang sampai tertidur di depan televisi. Saat aku berangkat kerja, Humto belum pulang. Dan saat aku pulang, Humto sudah berangkat. Kalau sedang sama-sama di rumah, juga tak banyak interaksi, karena kami sering sama-sama kelelahan sesudah kerja.

 

* * *

 

Woi lu mau nonton MU nggak?” suara Humto memanggil dari ruang televisi.

 

Bentar gue sikat gigi dulu” jawabku, sembari menutup buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosentiel yang kudapat dari kursus menulis narasi di Eka Tjipta foundation beberapa bulan lalu.

 

Setelah membersihkan diri, aku langsung menuju ruang televisi. Humto bersila dengan pandangan menuju layar kaca. MU alias Manchester United yang adalah tim kesayangannya bertanding melawan klub non liga di piala FA.

 

Sambil nonton, kami ngobrol ringan soal pekerjaan. “Tadi rapat besar redaksi, gue bilang mereka biar ngurangin kesalahan-kesalahan ketik,” katanya.

 

Oh iya, di ruang depan itu tagihan air kita ya. Gimana bayarnya tuh?”

 

Oh iya ya, nanti gue cari tahu deh”

 

Pemain MU yang bekas pemain terbaik pidala dunia tunawisma itu yang mana sih?”

 

Itu si Bebe yang sayap kanan. Ferguson kan beli dia, padahal belum lihat mainnya, cuma denger cerita-cerita orang aja,”

 

Tiga puluh menit kemudian, aku lihat Humto sudah tutup mata. Kepalanya mendekap bantal. Pertandingan belum usai, tapi mataku juga semakin berat. Televisi bangun, kami tidur.

 

 

 

 

One thought on “Kontrakkan

  1. barangkali aku cuma iri dengan hidupmu yang terlalu enak. Apa-apa diurusin Mama. Barangkali aku cuma khawatir, tiga atau lima tahun lagi aku kerepotan ngurus rumah-impian kita. hehehe…
    Tapi aku senang ada namaku di sini. hihihi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s