Arogansi Satpam KPK

Jumat (19/11) sore , saya mengalami kejadian tidak mengenakkan dengan anggota  satuan pengamanan (satpam) gedung Komisi Pemberaantsan Korupsi (KPK). Mereka bersikap sangat arogan bahkan mengancam-ngancam akan memukul saya.

 

Kejadiannya bermula sekitar pukul 15.30 Wib, ketika saya dengan menggunakan motor hendak keluar dari gerbang belakang gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena bengong ( saya akui ini kesalahan saya) saya lupa memberikan karcis parkir ke petugas satpam. Baru keluar tidak sampai satu meter dari gerbang, saya sadar karena ada suara memanggil. Motor langsung saya berhentikan. Saya menyerahkan karcis kepada anggota satpam. Kata pertama yang saya ucapkan adalah maaf. Bahkan saya menyebutkannya berkali-kali. “Maaf maaf maaf…”

 

Tetapi, bukannnya menerima permintaan maaf saya, si satpam mulutnya malah terus menyerocos mengomel-ngomeli saya. Padahal, saya sudah minta maaf. Ketika saya hendak menjalankan motor, masih saja satpam itu marah-marah. “Main nyelonong aja luh, tamu juga,” katanya.

 

Perkataan itu terus terang mengganggu saya. Saya berhentikan motor. Dari atas motor saya bilang. “Bos slow aja, gue udah minta maaf. Gue nggak sengaja.”  Ucapan itu rupanya menyulut amarah si satpam.

 

“Gue sikat juga lu! Tamu juga”! Katanya dengan nada yang kasar.

 

Saya terkejut. Terusik harga diri saya. Langsung saya turun dari motor. Ingin tahu apakah satpam itu berani membuktikan kata-katanya. “Ayo sikat,” saya bilang sambil membuka helm. Dua petugas satpam yang lain lalu datang  mengerubungi saya. Petugas yang tadi, terhalang temannya, tetapi masih memelototi saya. “Gue gibeng juga nih” katanya berkali-kali.

 

Salah seorang petugas meminta saya menjelaskan masalahnya. Tetapi sikapnya sangat mengitimidasi. Saya menjelaskan kejadiannya. Tetapi dia malah menghardik saya. “Tanggannya nggak usah nunjuk-nunjuk, taruh aja di kantong,” berkali-kali.

 

Ketika saya mulai bercerita dengan gerakan tangan, dia menepis tangan saya. Jelas saya tersinggung. Saya bilang, “Lo jangan permasalahin gaya gue bicara, ini udah nggak bisa diubah. Lo dengar aja masalahnya,”. Setelah itu si satpam diam.

 

Setelah selesai, dia cuma bilang. “Ya udah, saya cuma nggak suka aja abang tunjuk-tunjuk teman saya. Udah selesai masalahnya” kata dia.

 

Tanpa ada permintaan maaf karena telah memperlakukan orang  dengan tidak sopan,  mereka kembali ke pos. Saya juga langsung tancap gas, karena teringat masih ada urusan mendesak.

 

Sungguh sangat saya sesalkan sikap petugas satpam gedung KPK. Sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa bisa diperlakukan sekasar itu. Apa karena saya hanya menggunakan motor jelek yang tiga minggu belum dicuci? Atau karena saya tidak pakai mobil, sehingga tidak laik diperlakukan sopan.

 

Ancaman akan memukul sungguh sangat tidak pantas. Saya ini bukan maling, bukan tersangka. Saya hanya khilaf lupa memberi karcis parkir. Dan kesalahan itu rasanya sudah sangat cukup ditebus dengan ucapan maaf berkali-kali.

 

Saya mengerti tugas pengamanan memang perlu waspada. Waktu kuliah, saya juga sering dapat job jaga tanah sengketa. Tetapi, rasanya pengamanan juga bisa dilakukan dengan santun dan tidak memperlakukan orang seenaknya. (vidi vici)

Catatan:  Pada pukul 19,16 WIB, tulisan di atas saya posting di milis wartawan yang ngepos di Komisi Pemberantsan Korupsi. Reaksi dari teman-teman wartawan beragam. Ada yang ikut kesal, dan berniat memuat tulisan itu jadi berita dan juga surat pembaca di media mereka.  Ada yang menanggapinya becanda, dan ada juga yang berusaha membantu saya  meredakan emosi.

Pihak KPK juga merespon. Sekitar pukul 21.30 WIB, Pak Ipul, salahseorang pimpinan security menelepon saya. Dia menanyakan kejadiannya, bertanya juga soal ciri-ciri satpam tersebut. Terakhir, Pak Ipul atas nama securty KPK meminta maaf. “Mungkin anak buah saya sedang kesal karena saya marahi tadi, atau sedang ada masalah di rumahnya,” ujarnya.

Terus melanjutkan “Nanti, kalau ada masalah  apa-apa langsung ke saya aja mas. Saya ngga enak nih, pimpinan pada tahu semua”

Intinya teman-teman, kalau merasa diperlakukan tidak adil, atau kecewa dengan pelayanan public, jangan ragu untuk menuliskan dan menyebarkannya. Kalau perlu, bikin surat pembaca di media massa. Insya Allah akan diperhatikan, dan setelah itu ada perbaikan pelayanan. hehehe

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s