Seribu Kesan Kepulauan Seribu (4/habis)

Buat saya, berwisata laut berarti harus berenang. Karena itu, begitu sampai di Pramuka saya langsung berusaha mencari-cari tempat yang ideal untuk berenang. . Penginapan kami, kebetulan sangat dekat dengan pantai. Sayang, airnya terlalu dangkal. Sepanjang garis pantai itu juga tumbuh banyak tanaman bakau.


Tujuan Bang Coki dan Barata beda lagi. Mereka lebih tertarik memancing. Karena itu, kepada penduduk mereka bertanya tempat yang bagus untuk memancing, sedangkan saya bertanya tempat untuk berenang.


Setelah menyusuri pantai, Bang Coki menemukan lokasi memancing. Letaknya sekitar 200 meter ke timur Pelabuhan. Di sana tampak juga beberapa orang yang sedang memancing. Sedangkan aku, dan para wanita bermain di aera air dangkal di ujung pulau itu.


Tempat kami bermain adalah perairan dangkal, paling dalam hanya setengah meter. Aku berjalan sampai seratusan meter ke arah laut. Tetapi kdealaman air tetap sama. Di situ banyak ikan-ikan kecil, dan tanaman hijau. Entah tanaman apa itu. Karena kebelet pengen berenang, saya paksa saja bermain air di situ. Iseng-iseng saya mencipratkan air ke arah Naomi, Ka Nita dan Riana. Ester sibuk menagmbil gambar.


Mungkin salahsatu kekurangan Pramuka (dan juga pulau-pulau di kepulauan seribu umumnya, ialah airnya yang terlampau tenang. Nyaris tidak ada debur ombak. Saat malam pun bahkan tidak terdengar adanya gelombak dari laut yang mencumbu bibir pantai. Kita jadi merasa tidak seperti ada di laut, melainkan di pinggir empang atau danau yangluas belaka.


Nggak dalam
Dangkal

Bosan di tempat itu, kami menuju ke lokasi Bang Coki dan Bang Barata memancing. Mereka tampak serius tidak mau diganggu. Saya sempat berpikir mungkin mereka sudah dapat banyak ikan. Tapi coba tebak saudara-saudara, mereka tidak bisa memancing ikan satu pun.hahaha. Padahal, Bang Barata sudah membawa alat pancing profesional. Sedangkan, pemaning-pemaning kelas kampung di dekat mereka yang hanya mendalkan umpan dan tali sederhana, berhasil mendapat beberapa ekor ikan.


Dengan perasaan jengkel, kami pindah tempat. Saya jengkel karena tidak puas berenang, Bang Coki mungkin dongkol karena tak dapat ikan. Kali ini ada darmaga kosong. Airnya lumayan dalam. Tidak sabar, aku loncat. Ah, senang sekali rasanya bisa terjun dan berenang di sekitar situ. Nikmat rasanya berada dalam air. Aku ketagihan.


Bang Coki mengajak kami kembali bergerak, karena di situ katanya, tak ada ikan. Kami pun menuju pelabuhan. Hati saya girang bukan main, karena di darmaga kecil di samping pelabuhan ada belasan anak kecil yang asyik berenang. Pasti tempat ini jadi wahana bermain mereka tiap sore. Airnya kelihatan bersih, dalam tapi jernih. Mereka bermain dengan riang, tertawa, melompat ke air dengan berbagai macam gaya. Aku tak mau kalah, lompat. Ah senangnya berenang di laut, di pinggir pelabuhan.Dari situ aku sadar, bagaimanapun aku ini anak Maluku. Laut adalah nafas dan cinta pertama kami.hehe lebay lagi.


Nyebur
Nyebur di Pelabuhan Pramuka

Akhirnya Dapat Ikan


Belum puas berenang, Bang Coki kembali rewel. Meraka masih belum dapat ikan. Kali ini dia mengajak menyeberang dengan ojek perahu. “Kita ke tempat pemancingan, di seberang,” katanya.


Rupanya di Paramuka itu ada ojek laut yang melayani rute Pulau Pramuka – Tempat Budi Daya Ikan – Pulau Karya – Pulau Panggang. Sekali jalan Rp 3000.


Kami ikut kemauan Bang Coki. Jarak tempuh dari Pramuka ke tempat Budi Daya Ikan hanya sekitar 15 menit. Bang Coki berhenti di situ, kami melanjutkan perjalanan lagi lewat Pulau Karya dan kemudian ke Pulau Panggang. Namun sampai di Panggang kami kecewa. Menurut penuduk situ, tidak ada tempat wisata atau tempat yang enak buat berenang di Pulau Panggang, yang ada hanya rumah penduduk. Kami disarankan kembali ke Pulau Karya. Tapi karena sudah semakin sore, kami kembali ke tempat Budi Daya Ikan itu.



Tempat Budi Daya ikan, bukanlah sebuah pulau. Dia seperti pulau buatan. Fondasinya menembus ke dasar laut. Di pulau itu ada restoran terapung. Kami juga sempat melihat kolam ikan hiu. Cukup membuat begidik, karena kolam itu tidak ada pagar pembatasnya sama sekali. Kalau tak sengaja kecebur, wassalam tamat riwayatmu.:-)


Hiu
Kandang Hiu...Syereem!!

Bang Coki dan bang Barata akhirnya berhasil mendapat ikan. Maklum saja mereka langsung mancing di keramba. “Ikannya memang sengaja di buat lapar, jadi kalau ada umpan pasti langsung di makan.hahaha,” kata Naomi bisik-bisik. Aku jadi geli dengarnya. Tapi lumayanlah, ikan bandeng seberat 2,5 kilogram yang ditangkap itu kemudian menjadi makan malam kami.


Pamer
Bang Coki berhasil mancing di keramba:-)

Menjelang matahari tenggelam, kami kembali ke Pramuka dengan ojek laut. Udara hangat. Cahaya mentari yang mulai tenggelam di barat sungguh indaah, bulat keemasan, perlahan ke bawah seperti ingin mencium air. Aku duduk di ujung depan perahu. Woww sensaninya ruaar biasa. Aku terus meresapi suasana dan pemandangan itu, ingin menelan sebanyak-banyaknya ke dalam memori. Aku takjub, sekaligus merasa kecil dan tak berarti. Untuk liburan hari ke dua itu, aku memberi nilai sendiri. Sembilan!


Beranjak Petang
I am King Of The World (Leonardo Di Caprio - Titanic)

Sampah Jakarta


Esoknya, Rabu 8 September, pagi-pagi benar aku sudah bangun. Sengaja ingin melihat terbitnya sang surya. Awalnya aku bingung memperkirakan di sebelah mana timur itu. Tetapi anak-anak kecil yang bermain di pinggir pantai membertahuku. “Dari mana kau tahu matahari akan terbit di sebelah sana,” tanyaku.


Karena kita sudah sering lihat di sana” jawab mereka. Hehe Dialog yang lucu.


Momen yang ditunggu itu pun tiba. Cahaya emas muncul di langit timur yang mendung Langit mendung. Perlahan. Seperti baru ditarik ke luar dari dalam air. Tapi sayang, belum lagi ke luar penuh, ujungnya sudah tertutup awan. Tapi lumayanlah, saya sudah lama tidak melihat langsung kemucnculan matahari. Dan pagi itu cukup berkesan.


Sebelum balik ke Jakarta, kami sempat mengunjungi pulau Karya. Bukan sekadar singgah. Kami bahkan mengitarinya. Berjalan di sepanjang pantainya yang berpasir putih dan tenang. Luasnya ku perkirakan sama dengan mengelilingi Stadion Gelora Bung Karno , Senayan. Setelah mengelilingi, kami baru tahu ternyata sebagain besar area Pulau Karya digunakan sebagai pekuburan bagi warga kepulauan seribu. Jadi mungkin lebih tepat Pulau Karya ini dinamakan sebagai Pulau Kuburan🙂


Sebenarnya di hari terakhir itu kami semua berencana berenang kembali di dekat pelabuhan Pulau Pramuka. Namun kami terpaksa menahan niat itu. Pagi itu pemandangan sangat buruk terhampar depan mata kami. Air laut sangat kotor. Sampah memenuhi seluruh area pelabuhan.


Warga Kepulaun Seribu yang sempat kami tanya mengatakan, sampah-sampah yang mengotori pelabuhan itu datang dari Jakarta. Dia bilang, hal itu memang sering terjadi. Jika Jakarta hujan lebat atau banjir, keesokan harinya, biasanya perairan di Pramuka dan Kepulauan Seribu langsung diserang sampah.


Amat disayangkan. Saya sampai heran. Laut begitu luas. Tetapi betapa teganya sampah Jakarta, memilih mampir ke pulau ini.ckckckck.


Kiriman sampah dari Jakarta ini benar-benar berpotensi merusak pariwisata Kepulauan Seribu. Dalam perjalanan kembali Ke Jakarta, di sekitar Pulau Untung Jawa, kami juga melihat pemandangan yang tidak elok. Ada area laut yang tampak hampir sepenuhnya tertutup sampah. Huh, andai saja tak ada sampah, liburan kami tentu lebih sempurna. (selesai)


Siluet
Maksudnya mau silouhete dengan latar sunset🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s