Seribu Kesan Kepulauan Seribu (3)

Esoknya, tanggal 7 September, jam tujuh pagi kami kembali ke jembatan cinta. Bang Coki masih penasaran karena sejak sore sebelumnya memancing, tapi tak mampu mendapat cumi seekor pun. “Kalau cuminya sudah dapat, baru kita bikin jadi umpan untuk mancing ikan,” katanya.


Kalau aku hanya sekadar ingin jalan-jalan. Pagi itu di jembatan, baru aku sadar, tidakbanyak yang bisa ditawarkan Pulau Tidung. Praktis hanya snorkeling dan pemandangan di atas jembatan eksotik yang sudah mulai lapuk itu. Tidak ada ombak yang menderu-deru, atau pantai pasir putih yang panjang. Terlalu kalem dan tenang.


Di atas jembatan kami menghabiskan banyak frame, berbagai pose. Bang Coki terus menerus memancing. Dia rewel kalau kami berisik. Takut mengusir cumi, katanya. Menjelang siang, kami kembali ke penginapan. Yeta, Wisnu dan Anti harus balik ke Jakarta. Bang Coki tetap tak mendapat cumi seekor pun.🙂


berpose
Berpose di atas jembatan eksotik tapi lapuk

Sekitar jam sebelas kami berkemas. Kini ada peserta baru, seniorku di kampus Bang Barata Krisna. Dia membawa alat pancing lengkap, pesis seperti pemancing profesional. “Di mana aja nih yang banyak ikannya,” tanyanya waktu pertama datang.


Tetapi Bang Barata tidak sempat “ngetes” laut Tidung. Ketika tengah hari kami sudah ada di perahu nelayan yang disewa Rp 300 ribu, menuju tempat petualang kami berikutnya, Pulau Pramuka.

Tertidur
Tertidur di atas perahu yang menuju Pramuka

Saya terkesan dengan pelabuhan Pulau Pramuka. Air di bawahnya jernih, sekitar tujuh meter dan dapat melihat tembus ke dasar. Aku berpikir seandainya bukan pelabuhan, pasti aku berenang di sini.


Di Pramuka kami menyewa penginapan Rp 350 ribu semalam. Ini rupanya penginapan baru. Masih bau cat. Pemiliknya bilang, kami adalah tamu pertama. Penginapan itu hanya terdiri dari satu kamar tisur seluas 6×4 meter, dilengkapi kamar mandi.


Pemerintah Memang Tega


Oh ya, kini peserta tinggal tujuh orang. Yeta, Wisnu dan Anti sudah kembali ke Jakarta. Sorenya, kami jalan-jalan. Pertama kami ke tempat penangkaran penyu sisik . Sampai di sana sangat sepi. Kandang penyu masih digembok. Hanya ada seorang pria yang terdengar sibuk memotong sesuatu.


Ester bertanya pada bapak-bapak tua tersebut, bagaimana agar kami bisa masuk melihat penyu. Tetapi dijawab ketus. “Nggak lihat ya, saya sedang kerja”


Kemudian, Riana mencoba menanyakan lagi. Kali ini sambil menggerutu bapak itu membuka kandang. Rupanya si bapak tua itu sedang memotong-motong daging untuk memberi makan penyu, dan itu aktivitas yang sama sekali tidak boleh diganggu. Kami masuk melihat si bapak memberi makan. Ada sekitar 10 bak yang masing-masing berukuran sekitar 2 x 1 meter. Setiap bak terdapat penyus sesuai ukuran. Ada yang ditempat puluhan kura-kura ukuran imut, sampai bak yang berisi dua ekor penyu berukuran jumbo. Bau hanyir daging langsung memenuhi kandang.


Si bapak tua yang kemudian kita ketahui bernama Salim itu kemudian menjelaskan. Kebanyakan penyu, dalam penangkaran tersebut, sakit. Dia mencontohkan dengan mengangkat sebuah kura-kura yang bagian tangannya patah. Setelah dirawat dan sehat, penyu kemudian akan dilepas kembali ke alam.


Dari yang sebelumnya ketus, pak Salim itu tiba-tiba bersemengat. Dia juga bercerita soal riwayat pekerjaannya, termasuk ketika pertama kali datang ke Pramuka tahun 1970-an. Bekerja merawat binatang dan tanaman laut.


Percaya diri dia bilang, profesor di bidang kelautan dengan modal puluhan juta belum tentu bisa mengalahkannya yang hanya modal beberapa ratus ribu dalam mengerjakan proyek kelautan. “Karena saya langsung belajar dengan praktek,” ujarnya bangga. Di dinding kandang memang tampak foto Salim bersama beberapa pejabat, mulai dari Gubernur Fauzi Bowo bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Ah itu hanya foto main-main,” ujarnya merendah.


Kepada saya, Salim bilang honor dari pemerintah untuk mengelola penangkaran penyu itu hanya Rp 250 ribu sebulan. “Siapa lagi yang mau cape ngerjain dengan honor segitu,” katanya. Ah sungguh teganya pemerintah ini. Padahal penagkaran penyu sisik merupakan salah satudaya tarik pulau Pramuka.


Tempat Kemping


Pulau Pramuka, menurut yang saya baca di situs http://www.pulaupramuka.com meruapakan pusat pemerintahan Kabupaten Aministrasi Kepulauan Seribu. Memang di sana, saya melihat ada kantor bupati, mesjid yang bagus, serta rumahsakit yang lumayan besar. (di Tidung saya tak melihat mesjid atau rumah sakit).


Daya tarik utamanya adalah gugusan terumbu karang yang indah, serta air laut yang jernih, jika dangkal dan biru di kedalaman. Bandingkan dengan air laut di pantai Ancol yang cokelat.


Rumah-rumah di Pramuka, relatif lebih tertata dan rapih dibanding Pulau Tidung. Jalan-jalan penghubungnya lebih besar ketimbang Tidung yang jalannnya lebih tepat disebut gang.


Penjelajah
Siap menjelajah Pramuka

Situs lain menyebutkan luas pulau Pramuka sekitar sembilan hektar. Jumlah penduduknya mencapai empat ribu orang .yang sebagian besar berprofesi nelayan. Pulau ini sedang berkembang untuk sepenuhnya menjadi pulau wisata. Kenapa bisa dinamakan Pulau Pramuka? Nama asilnya sebenarnya Pulau Elang karena banyaknya elang laut yang tinggal di pulau ini. Sekitar tahun 1970-an pulau ini sering dipakai sebagai tempat kemping anggota-anggota parmuka dari Jakarta. Pulau yang gelap dan tidak terawat ini kemudian mulai dibenahi, terutama setelah kerap dikunjungi rombongan Pramuka. Akhirnya, namanya pun diganti menjadi Pulau Pramuka. (bersambung ke bawah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s