Seribu Kesan Kepulauan Seribu (1)

Pada 6 – 8 September lalu, bersama beberapa kawan, aku berlibur di Kepulauan Seribu. Menghindar sebentar dari rutinitas dan hiruk pikuk Jakarta. Tidak ada Anggodo, tidak ada Bibit-Chandra, Patrialis Akbar atau Febri Diansyah. Hehehe:-)

Aku memang merasa membutuhkan liburan. Otak rasanya sudah panas. Sekali-kali harus diistirahatkan untuk tidak melakukan hal yang itu-itu lagi. Butuh menikmati suasana baru.

Karena itu ketika ada ajakan dari Bang Coki untuk menghabiskan waktu tiga hari, menikmati laut di kepulauan seribu, aku langsung mengiyakan. Kuambil cuti berdekatan dengan libur lebaran. Sehingga waktu libur makin panjang. Cuti plus libur lebaran. Jadi totalnya delapan hari.

Dari dulu aku sudah sering mendengar nama kepulauan seribu. Tetapi terus terang sama sekali belum pernah pergi ke sana.  Dari berbagai informasi, aku mendapat kesan kabupaten di utara Jakarta tersebut kurang mendapat perhatian pemerintah DKI Jakarta.Mungkin karena pemda sudah terlampau sibuk dengan semua masalah dan juga potensi metropolitan. Jadinya, kepulauan seribu pun seperti anak tiri.

Kesan anak tiri semakin kuat setelah aku membaca artikel di sebuah suratkabar pada musim pemilu legislatif 2009 lalu. Di situ ditulis,  banyak calon legislatif yang tidak  mau berlelah-lelah kampanye di kepulauan seribu. Biaya kampanye di sana mahal. Tranportasi sulit. Lagipula, potensi suara yang mungkin didapat pun kecil karena penduduknya jauh lebih sedikit, dibanding wilayah lain Jakarta. Kemungkinan, para pembuat kebijakan saat ini pun tidak banyak memberi perhatian, karena memang pada pemilu, tidak bersentuhan dengan para penduduk kepulauan seribu.

Kalau soal pariwisata laut, Kepulauan Seribu juga masih kalah dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Kalah populer  dibanding kawasan Bunaken, Sulawesi Utara, Bali, Nias, Anyer.

Tetapi mungkin beberapa tahun terakhir ini, pariwisata di sana sudah mulai digalakkan. Aku semakin sering melihat foto-foto liburan teman-temanku ke Kepualaun Seribu yang diunggah ke Facebook. Salahsatu pemandangan yang sering aku lihat adalah jembatan kayu di Pulau Tidung.

Maka, pagi itu Senin 6 September 2010, ke sanalah tujuan pertama kami. Pulau Tidung. Kami berangkat dengan Kapal Kerapu yang berkapasitas 20 orang. Kapal kerapu ini berangkat hanya satu kali sehari, setiap jam 8 pagi, dari dermaga 23, pelabuhan Marina, Taman Impian Jaya Ancol.

Meski berangkat jam delapan pagi, tetapi sebaiknya penumpang datang beberapa jam sebelumnya. Maklum saja, karena kapasitas yang terbatas, jadi setiap penumpang harus mendaftar terlebih dahulu. Biasanya sekitar jam setengah tujuh pendaftaran sudah ditutup. Kalau sudah begitu, kita harus menunggu sehari lagi untuk bisa ke Tidung. Atau opsi lain, naik kapal kayu dari Muara Angke. Tetapi dari cerita yang aku dengar, kapal kayu dari mauara angke itu beberapa hari sebelum lebaran sedang tidak  beroperasi

Aku sendiri datang sekitar pukul 5.10 WIB. Hari masih gelap. Ternyata aku  calon penumpang yang pertama. Saat datang, satpam penjaga loketnya pun masih tidur. Sekitar lima belas menit kemudian muncul Naomi Elisabet dan dua teman kantornya di Ganesha Operation yang ternyata cukup seru Anita (Kak Nita) dan Riana.

Sekitar pukul enam pagi, Bang Coki dan kekasihnya Ester Sondang pun muncul. Diikuti tiga teman kantor  Ester, yaitu Yeta, Wisnu dan Anti. Lengkap sudah rombongan kami. Sembilan orang.

Ongkos dari Pelabuhan Marina ke Pulau Tidung Rp 32.000. Kapal kerapu itu mulai bergerak  pukul 8.15. Kami singgah dulu di beberapa pulau antara lain Pulau Untung Jawa, Pramuka, Pulau Lancang dan terakhir baru ke Pulau Tidung. Karena Kerapu dipacu dengan kecepatan tinggi, jadi goncangannya cukup kuat. Apalagi bila menabrak gelombang, kapal kecil itu terasa seperti meloncat. Sebagaian penumpang justru berteriak kegirangan setiap kali kapal meloncat.

Di dalam kapal aku sempat ngobrol dengan salah seorang pegawai kantor Kelurahan Tidung. Dia bercerita, selalu berangkat ke Tidung setiap senin pagi dan kembali ke rumahnya di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Rabu atau Kamis pagi. Menurut catatan kelurahan, Pulau Tidung berpenduduk sekitar 5000 orang.

Dia juga mengatakan total pulau di Kepulan Seribu ada 110. Tetapi, hanya 11 pulau yang berpenduduk.

Pelabuhan-pelabuhan di kepulauan seribu tidak seperti Tanjung Priok atau dermaga-darmaga yang besar dan kokoh seperti yang sering saya lihat. Pelabuhan-pelabuhan  di sana hanya seperti halte bis. Hanya cukup untuk bersandar tiga atau empat kapal motor ukuran kecil.

Kapal Kerapu ini tidak pernah singgah lama. Setiap selesai menurunkan penumpang, lima menit kemudian langsung jalan. Dia tidak pernah ngetem, menunggu penumpang sampai penuh.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kami tiba di Pelabuhan Pulau Tidung. Banyak perahu nelayan parkir di sekitar pelabuhan. Lautan tenang, tapi langit mendung.

Dari sana kami ke sebuah rumah di dekat depan pelabuhan. Di sana sudah menunggu orang yang mengurus penginapan. Kami ditempatkan di sebuah rumah warga, yang untuk sementara ditinggal penghuninya. Terdiri dari empat kamar tidur yang masing-masing dilengkapi kamar mandi. Ada juga ruang nonton tv, dan dapur. Cukup muat untuk kami. Harga sewa penginapannya Rp 300 ribu satu malam. (bersambung ke bawah)

Duet
Duet Maut Marnonong-nonong Adventure Team. Hajar Bleh!:-)

2 thoughts on “Seribu Kesan Kepulauan Seribu (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s