Rumah

Saya terpesona pada rumah wartawan senior Sinar Harapan Aristidess Katoppo di Mega Mendung, Bogor. Tempat tinggal yang ideal untuk menikmati hidup. Hampir mirip dengan mimpi-mimpi saya tentang rumah untuk menghabiskan hari tua.

Saya berkunjung ke sana akhir pekan lalu. Datang bersama rekan-rekan kantor, setelah liburan sekaligus rapat pembentukan koperasi karyawan Sinar Harapan. Rumah Aristides atau yang kami sapa Pak Tides, ada di sebuah desa yang letaknya cukup jauh. Mungkin sekitar 8-10 kilometer dari jalan utama, jalur Bogor-Puncak.

Pekarangan Belakang

Rumah itu cukup besar. Terdiri dari empat lantai dan tanpa pagar besi. Di Jakarta, jangan harap kita menjumpai bangunan empat lantai yang tidak ada pagar dan atau pos satpam. Rumah pak Tides hanya dilindungi oleh tumbuhan dan pohon-pohon. Satpamnya adalah anjing-anjing hitam dalam kandang yang trus menyalak mulai dari keluar pintu mobil sampai masuk ke rumah.

Di mata saya, rumah bercat krem itu indah bukan sekadar karena besarnya, tetapi letaknya yang ada di tengah-tengah sawah. Redpel Krisman Kaban bilang sawah itu milik Pak Tides. Luasnya mungkin sekitar satu hektar. Sangat luas, ke mana mata memandang hanya ada sawah dan serta bukit. Begitu hijau dan tenang. “Pak Tides tidak pernah makan beras dari luar, dia hanya makan beras dari sawahnya sendiri,” begitu cerita Pak Krisman Kaban.

Hawa dalam rumah sangat sejuk, adem. Padahal, di rumah itu sama sekali tidak ada pendingin udara (air conditioner). Sirkulasi udara lancar, karena banyaknya jendela besar. DI tempatkan di hampir semua ruangan.

Pak Tides penyuka seni. Banyak sekali pajangan-pajangan yang unik-unik. Saya ingat di dekat ruang tamu ada hiasan setir kapal laut seukuran aslinya. Lukisan-lukisan keren, foto-foto menarik.

Saat kami datang, Pak Tides sedang di lantai dua. Di situ, dia biasa bersantai. Tempatnya seperti saung, tanpa dinding. Ada bale-bale rotan yang besar, serta dua tempat tidur ayun yang digantung di pilar-pilar saung itu.

Pak Tides mungkin sedang membaca. Sebab di mejanya masih ada dua buku, yang sengaja dibalikan halamannya untuk menandai. Saya sempat mengintip dua buku itu, A Splendid Exchange karya William Bernstein dan The Power Of Less. Dia pasti melanjutkan membaca begitu kami pergi.

Dengan ramah lelaki yang saya taksir berusia sekitar 65 tahun-an ini menyambut kami. Berkumpul di saung, kami menikmati hidangan jagung rebus, singkong rebus, kacang kedelai, pisang. Semuanya diambil dari kebun di sekitar rumah.

Yang menarik, di rumah itu ada lantai khusus perpustakaan. Bukan main! Siapapun pencinta buku, pasti betah tinggal di situ. Bukunya terawat baik, begitu juga raknya, tidak ada debu-debu tebal di atas permukaan. Ada ribuan buku di situ. Banyak majalah dan klipingan koran. Buku-buku dicatat dengan baik, diberi nomor seperti di perpusatakaan umum.

Pak Tides jelas pecinta buku. Itu terlihat dari wajahnya yang tampak keberatan ketika Asredpel Fransisca Ria Susanti dan Natalia menyatakan keinginan meminjam buku. Dia mengijinkan, tetapi semua harus dicatat. Mbak Santi dapat dua buku mengenai penulisan non fiksi, sementara mbak Natalia dipinjami biografi Presiden AS Barack Obama, The Audicity Of hope. Saya dapat buku tentang Teologi Pembebebasan. Statusnya bukan pinjaman tetapi dikasih, karena pak Tides masih punya empat buku serupa.:-)

Saya sungguh menikmati tempat itu. Sawah, bukit, dan angin sepoi-sepoi. Rumah saya nanti tidak perlu sebesar itu. Cukup satu lantai, tetapi tanpa pagar. Sekelilingnya kebun sendiri yang juga tidak perlu luas-luas. Letaknya harus di kampung, di mana orang masih pergi ke sawah memanggul cangkul. Ah, saat saya seumur pak Tides mudah-mudahan masih ada sawah.

Rumah

Saya terpesona pada rumah wartawan senior Sinar Harapan Aristidess Katoppo di Mega Mendung, Bogor. Tempat tinggal yang ideal untuk menikmati hidup. Hampir mirip dengan mimpi-mimpi saya tentang rumah untuk menghabiskan hari tua.

Saya berkunjung ke sana akhir pekan lalu. Datang bersama rekan-rekan kantor, setelah liburan sekaligus rapat pembentukan koperasi karyawan Sinar Harapan. Rumah Aristides atau yang kamis sapa pak Tides, ada di sebuah desa yang letaknya cukup jauh. Mungkin sekitar 8-10 kilometer dari jalan utama, jalur Bogor-Puncak.

Rumah itu cukup besar. Terdiri dari empat lantai dan tanpa pagar besi. Di Jakarta, jangan harap kita menjumpai bangunan empat lantai yang tidak ada pagar dan atau pos satpam. Rumah pak Tides hanya dilindungi oleh tumbuhan dan pohon-pohon. Satpamnya adalah anjing-anjing hitam dalam kandang yang trus menyalak mulai dari keluar pintu mobil sampai masuk ke rumah.

Di mata saya, rumah itu bercat krem itu indah bukan sekadar karena besarnya, tetapi letaknya yang ada di tengah-tengah sawah. Redpel Krissman Kaban bilang sawah itu milik pak Tides. Luasnya mungkin sekitar satu hektar. Sangat luas, ke mana mata memandang hanya ada sawah dan serta bukit. Begitu hujau dan tenang“Pak Tides tidak pernah makan beras dari luar, dia hanya makan beras dari sawahnya sendiri,” begitu cerita Pak Krisman Kaban..

Hawa dalam rumah sangat sejuk, adem. Padahal, di rumah itu sama sekali tidak ada pendingin udara (air conditioner). Sirkulasi udara lancar, karena banyaknya jendela besar. DI tempatkan di hampir semua ruangan.

Pak Tides penyuka seni. Banyak sekali pajangan-pajangan yang unik-unik. Saya ingat di dekat ruang tamu ada hiasan setir kapal laut seukuran aslinya. Lukisan-lukisan keren, foto-foto menarik.

Saat kami datang, pak Tides sedang di lantai dua. Di situ, dia biasa bersantai. Tempatnya seperti saung, tanpa dinding. Ada bale-bale rotan yang besar, serta dua tempat tidur ayun yang digantung di pilar-pilar saung itu.

Pak Tides mungkin sedang membaca,.Sebab di mejanya masih ada dua buku, yang sengaja dibalikan halamannya untuk menandai. Saya sempat mengintip dua buku itu, A Splendid Exchange karya William Bernstein dan The Power Of Less. Dia pasti melanjutkan membaca begitu kami pergi.

Dengan ramah lelaki yang saya taksri berusia sekitar 65 tahun-an ini menyambut kami. Berkumpul di saung, kami menikmati hidangan jagung rebus, singkong rebus, kacang kedelai, pisang. Semuanya diambil dari kebun di sekitar rumah.

Yang menarik, di rumah itu ada lantai khusus perpustakaan. Bukan main! Siapapun pencinta buku, pasti betah tinggal di situ. Bukunya terawat baik, begitu juga raknya, tidak ada debu-debu tebal di atas permukaan. Ada ribuan buku di situ. Banyak majalah dan klipingan koran. Buku-buku dicatat dengan baik, diber nomor seperti di perpusatakaan umum.

Pak Tides jelas pecinta buku. Itu terlihat dari wajahnya yang tampak keberatan ketika Asredpel Fransisca Ria Susanti dan Natalia menyatakan keinginan meminjam buku. Dia mengijinkan, tetapi semua harus dicatat. Mbak Santi dapat dua buku mengenai penulisan non fiksi, sementara mbak Natalia dipinjami biografi Presiden AS Barack Obama, The Audicity Of hope. Saya dapat buku tentang Teologi Pembebebasan. Statusnya bukan pinjaman tetapi dikasih, karena pak Tides masih punya empat buku serupa.:-)

Saya sungguh menikmati tempat itu. Sawah, bukit, dan angin sepoi-sepoi. Rumah saya nanti tidak perlu sebesar itu. Cukup satu lantai, tetapi tanpa pagar. Sekelilingnya kebun sendiri yang juga tidak perlu luas-luas. Letaknya harus di kampung, di mana orang masih pergi ke sawah memanggul cangkul. Ah,saat saya seumur pak Tides mudah-mudahan masih ada sawah.

2 thoughts on “Rumah

  1. Mirip rumah idamanku juga Vidi, mungkin juga rumah idaman banyak orang lain yang menyukai gaya hidup sehat dan tenang..
    Smoga saat Vidi seusia Pak Tides nanti, justru orang smakin sadar menjaga kelestarian lingkungan..dan sawah2 justru tambah banyak…udara bersih dan sehat, air dan energi tersedia cukup dan dikelola secara baik tanpa mengabaikan kepentingan generasi mendatang..
    salam peduli lingkungan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s