Tete Adam

Rabu pekan lalu, Nona adik perempuanku menelepon dari Bogor. Suaranya tersengak seperti menahan tangis. “Kak Tete Adam sudah meninggal,” ujarnya di ujung telepon sana. Aku terkejut, diam. Ada jeda beberapa saat, dan sayup-sayup dari sambungan telepon aku mendengar tangis ibuku yang sudah pecah.

Tete Adam adalah kakekku. Ayah dari ibuku. Tete dalam bahasa daerahku di tanah Maluku sana, berarti kakek. Adam adalah namanya, lengkapnya Adam Moriolkosu.

Kenanganku tentang Tete Adam adalah semua tentang kebaikan. Sejak aku kecil, ibuku selalu bercerita penuh kebanggan tentang ayahnya. Dia adalah petani kecil di Saumlaki Maluku Tenggara, kebunnya ada di atas bukit, ditanami jagung, singkong, memelihara beberapa ekor babi. Selain itu dia juga pegawai gereja yang tekun dan disiplin. Orang biasa memanggilnya Om Pena singkatan dari Penatua, sebuah jabatan di lingkungan gereja.

Kata ibuku, kakek bukan orang kaya. Penghasilannya dari bertani dan menjadi pegawa gereja kecil. Tetapi dia orang yang memiliki tekad kuat agar anak-anakanya mendapat pendidikan yang baik. Karena tidak punya uang buat beli buku, dia seirng mengumpulkan kertas-kertas sisa di gereja dan membuatnya menjadi semacam buku catatan. Membersihkan dan menjahitnya sendiri agar bisa ditulisi.

Dalam iklim keluarga yang menghargai pendidikan itu, ibuku kerap menjadi langganan juara kelas. Begitu juga kakak dan adik-adiknya jadi siswa berprestasi. Karena itu suatu saat pernah ada yang bertanya pada kakeku. “Om Pena kasih makang apa anak-anak jadi dong pintar-pintar (Om Pena anak-anakanya dikasih makan apa sehingga mereka jadi pintar),”

Seng kasih makang apa-apa. Makang hasil kabong saja (Tidak dikasih makan sesuatu, hanya makan hasil kebun),” ujarnya.

Tete Adam lahir tahun 1919 di desa Werain, Pulau Selaru yang berada dalam gugusan Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara. Aku tidak banyak tahu tentang masa mudanya, juga pertemuan dengan nenekku Dorsila Selarmanat. Tetapi aku pernah melihat fotonya sedang berpose bersama tiga orang temannya. Dia berdiri di tengah, paling menonjol dan paling tampan. Hidungnya mancung dengan tatap mata yang tegas. Ayahku menyebutkan foto hitam putih itu, dibuat ketika jaman pendudukan Jepang.

Dia adalah anak tertua, saudara lelakinya ada dua, saya tidak tahu berapa jumlah saudara perempuannya. Tete adalah orang yang menjaga kesehatan. Tidak merokok dan tidak makan daging. Dia hanya suka ikan laut. Mungkin itu sebabnya, ketika saya bertemu dengannya sembilan tahun lalu, dia masih tampak segar untuk ukuran lelaki berusia 80 tahun. Dia masih bertani, merawat babi, dan juga duduk berjam-jam membaca Alkitab. Nenekku juga demikian, masih bisa pergi ke pasar membeli ikan. Bertahun-tahun pasangan tua ini hidup hanya berdua saja, karena ditinggal anak-anakanya merantau. Baru beberapa tahun terakhir, bergantian para cucu-cucunya (sepupuku), tinggal serumah untuk menjaga mereka.

Ayah dan Ibuku pernah menwarkan kakek dan nenek agar menghabiskan masa tua di rumah kami di Bogor. Tetapi mereka menolak, tidak mampu meninggalkan kampung halaman.

Dulu kata ibuku, ketika anak-anak perempuannya beranjak dewasa dan banyak lelaki menggoda, setiap malam Tete Adam tidur di depan pintu kamar dan menyiapkan parang. Dia khawatir ada orang yang menjamah para putrinya.

Selalu dengan bangga dan mata berbinar ibuku mengenang masa kecilnya, dan tentang ayahnya yang sederhana.

Aku ingat sembilan tahun lalu, di Pelabuhan Saumlaki. Keluarga kami akan kembali ke Bogor usai berlibur sekitar tiga minggu. Kami sudah berpamitan di rumah kakek dan semua air mata tertumpah di sana. Kakek tidak dapat mengantar ke pelabuhan, karena angin malam tidak baik bagi kesehatannya.

Namun rupanya ada sesuatu yang tertinggal. Kakekku memutuskan untuk menyusul kami ke pelabuhan dengan membawa barang yang tertinggal tersebut. Lalu dia duduk di pinggir pelabuhan menatap kapal yang akan membawa kami ke Tanah Jawa.

Aku duduk di sampingnya, memeluk dan menciumi aroma badannya yang khas. Aku memandangi wajahnya terus. Dia tersenyum mengucapkan sejumlah nasehat sambil mengelus-ngelus kepalaku. Aku menikmati wajahnya. Dan itu adalah momen terakhir aku bersamanya.

Selamat Jalan Tete…

2 thoughts on “Tete Adam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s