Tides

“Dulu, Sinar Harapan membuat berita, baru menteri bersuara, panglima TNI bersuara,” kata-kata itu keluar dari mulut Aristides Kattopo, wartawan senior dedengkot koran sore Sinar Harapan.
Tides demikian ia biasa disapa tidak sedang hendak bernostalgia dengan hebatnya Sinar Harapan di masa lalu. Dia sedang menitipkan harapan kepada kami para wartawan pemula.
Mungkin dia sedikit kecewa dengan model pemberitaan SH sekarang. Hanya menulis kembali apa yang dikatakan menteri, jenderal atau para pejabat. Bukan sebaliknya
“Itu juga koran lain sudah punya, untuk apa membuat tulisan yang juga dipunyai orang lain,” katanya.
Tides wartawan hebat. Dia pernah dan entah berapa kali meraih penghargaan Adinegoro. Penghargaan itu adalah penghargaan untuk wartawan yang membuat tulisan bermutu.
Meski demikian, kelihatan sekali dia sosok yang rendah hati. “Smart tapi tidak mempertontokan kehebatannya,” ujar salah seorang rekan, mengenai Tides.
Ketika dia mengatakan, SH harus membuat berita yang koran lain tidak memuatnya, saya langsung terkesiap. Seperti ada rasa malu menyentuh harga diri saya. Saya jadi teringat bagaimana ritme kerja saya. Datang setiap pagi, membaca koran pagi, dan kemudian mengembangkan kembali berita koran pagi. Saya hanya membeo.
Kadang rutinitas itu benar-benar membuat saya bosan. Hidup penuh petualangan ala wartawan seperti yang diceritakan komik Tin Tin tampaknya tidak akan pernah saya rasakan.
Pulpen dan note book saya hanya berpindah dari mulut pejabat ke pejabat. Itupun bergerombol dengan wartawan lain, seperti ikan bereunyit.

Dengan pola kerja seperti itu, saya sebenarnya tidak sedang mencari berita, tapi mengemis berita. Mencari adalah mengorek, menggali informasi seperti pemulung mengais tempat sampah. Mencari berarti pekerjaan seperti pengali sumur yang menggali sampai ditemukan air. Dalam makna kata mencari, ada usaha, ada kerja keras sampai Bingo! menemukan sesuatu.
Sesungguhnya dan seharusnya begitulah pekerjaan wartawan, begitulah pekerjaan jurnalis. Mencari dan menggali. Memberitahukan sesuatu yang tersembunyi dan disembunyikan. Bukan sekadar menulis omongan pejabat bagai murid SD yang didikte guru.
Mencari dan menggali, itulah yang membedakan pekerjaan wartawan dengan public relation.
Ah! Pak Tides membuat sore saya resah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s