Bukan Tempat Magang…

Pemikiran saya sederhana saja dan tidak berbelit-belit. Begini Lucky yang manis. Menurut saya, kampus itu seharusnya menjadi tempat pengembangbiakan ilmu pengetahuan.
Namun saat ini fenomenanya adalah, betapa kegiatan akademis yang seharusnya memicu perkembangan keilmuan telah disimpangkan sedemikian rupa menjadi sebuah kegiatan yang mengarahkan kita untuk menjadi manusia-manusia pekerja.
Contoh, mahasiswa jurusan jurnalistik di IISIP, sejak dari masuk kuliah, hanya berpikir untuk menjadi wartawan (di media besar dan terkenal). Padahal, tidak selalu seperti itu. Tidak selalu mahasiswa jurusan jurnalsitik harus berakhir jadi wartawan di media ternama, top, dan bla-bla.
Ilmu pengetahuan seharusnya mengabdi, pada kemanusiaan dan bukan pada kekuasaan. Lihat, skripsi mahasiswa jurnalsitik, tahun-tahun terakhir ini banyak menggunakan paradigma kritis. Mereka membongkar parktik-praktik licin media untuk menipu khalayak. Skripsi anak IISIP yang membongkar praktik-praktik relasi sosial yang timpang.
Kelihatannya bagus-bagus. Tetapi apa? berapa banyak mahasiswa IISIP yang mau mendalami studinya setelah lulus. Berapa banyak mahasiswa IISIP yang mau kembali bergulat dengan kegiatan akademis lanjutan dan terus menelanjangi fenomena media. Berapa banyak mahasiswa Jurnalsitik IISIP yang mau mengembangkan ilmu teoritis untuk mengkoreksi dunia praktis.
Tak banyak Ki, bahkan mungkin sudah tidak ada. Karena, seperti yang saya bilang, Paradigma kita kuliah hanya sebatas mencari kerja di perusahaan besar. Kita sudah menyiapkan diri kita, mimpi-mimpi kita hanya menjadi sekrup, untuk mesin uang bos-bos media.
Saat mahasiswa sedari bangku kuliah, sudah menyerahkan diri pada kepentingan modal, maka menurut saya gak ada lagi yang bisa dilakukan untuk pengembagan keilmuan.
Lucky saya percaya, pengembangan ilmu komunikasi untuk kepentingan kemanusiaan, tidak mungkin bisa dilakukan di perusahaan media. Karena perusahaan media, hanya bergerak berdasarkan uang. Di mana ada uang ada, di situ ada media.
Makanya, di televisi kita dijejali gosip, sinteron-sinetron menjual mimpi, seks, idol-idolan yang gak jelas dll.
Tempat yang bisa diandalakan, ya cuma kampus. Tetapi, kalau semua mahasiswa, belum apa-apa masuk kuliah sudah punya pikiran yang begitu materialistis, lama-lama ilmu pengetahuan akan mandek, gak bisa mencapai tujuannya yang sejati.

Mika yang Gelisah
Pemikiran seperti ini pun berdampak di Mika. Di mana mahasiswa hanya menjadikan Mika seperti tempat magang. Mika secara sadar atau tidak, menjadikan dirinya sub perusahaan bos-bos media.

Lantas, bagaimana dengan cita-cita luhur nan murni membagi kasih, berkat lewat tulisan or bla-bla-bla. Bukankah, itu hanya embel-embel identitas saja?Inilah yang saya maksud dengan mimpi Mika yang rendah.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis surat buat Quinawati Pasaribu. Suratnya saya beri judul “Surat buat adik, si wartawan kampus”. Saya bilang,

menjadi pers mahasiswa adalah kesempatan beridealis ria. Sebab, di luar sana sulit untuk tetap jadi idealis.

Jangan jadikan Mika hanya sekadar tempat magang, tetapi jadikan Mika alat perjuangan. Jadikan Mika alat untuk menggugat ketimpangan-ketimpangan di sekitar kita. Ada banyak ketimpangan di sekitar kita, mulai yang dilakukan diri sendiri, PMK, Gereja, Pemerintah. Ada begitu banyak. Dan kalau anak Mika, hanya menjadikan Mika tempat magang. Bukan main sedih hati, saya, karena pasti mereka tidak bisa melihat apa-apa.
Demikianlah Lucky, saya harap kau pun mengerti kegelisahanku (vidi vici)

One thought on “Bukan Tempat Magang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s