Naik Pesawat

Beberapawaktu lalu saya mendapat tugas meliput latihan gabungan Tentara
Nasional Indonesia 2008 di Batam, Kepulauan Riau dan Singkawang,Kalimantan Barat.  Karena tugas itu, akhirnya saya tahu bagaimanarasanya naik pesawat terbang dan helikopter.

Sebelumnya saya cukup penasaran, ingin naik pesawat terbang. Tetapi kebetulan tidak pernah ada kesempatan. Tidak mungkin dong saya iseng buang-buang duit rautusan ribu bolak balik Jakarta – Ambon, hanya untuk iseng nyobain pesawat.

Rasa penasaran ingin naik pesawat hampir sama sensasinya seperti ketika saya penasaran ingin naik busway. Ketika baru dioperasikan dan digembar-gemborkan di media massa, busway jadi  salah satu obsesi saya. Akhirnya dalam salah satu kesempatan di tahun 2004 saya merasakan juga naik busway dari Halte Monas sampai Blok M. Pengalaman ini saya ceritakan dengan bangga kepada semua anggota keluarga, mama, adik Nona dan Riko. “Ajak kita dong sekali-kali kak!” rengek mereka.

Namun rasa penasaran naik pesawat dan busway sedikit berbeda sensasinya. Bila naik busway, saya nothing to lose, tidak ada kekhawatiran. Maka penasaran mencoba pesawat diikuti oleh bayangan-bayangan menakutkan. Saya sering berpikir, bagaimana pesawat itu jika jatuh dari ketinggian. Dan bagaimana rasanya orang di dalam pesawat yang sedang jatuh, teriakan mereka, keputusasaan dan ketidakberdayaan, karena tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu remuk menghantam bumi. Selain menjerit dan berdoa tidak ada lagi yang bisa dilakukan penumpang pesawat.

Karena itu, beberapa jam sebelum terbang ke Batam, hati saya tidak tenang. Di satu sisi saya senang karena bisa naik pesawat dan meliput latihan perang. Di sisi lain saya dibayangi ketakutan, ketidakberdayaan, “keder” kalau kata orang betawi.

Selain saya, ada sembilan  wartawan lain dalam rombongan. Mereka pasti sering berpergian dengan pesawat, karena itu tidak setegang saya, yang bergeming di kantin tunggu, dan hanya bersuara kalau ditanya. Setiap detik menuju waktu pemberangkatan, saya merasakan adrenalin yang semakin deras, perut sedikit mulas. Sebenarnya saya sadar kekhawatiran ini terlalu berlebihan. Indy Barends bilang, “lebay”. Toch, jumlah kecelakaan pesawat tidak sebanyak kecelakaan di jalan
raya, dan korban jiwa akibat rokok (yang sedang saya hisap) jauuuuuh lebih besar daripada jumlah korban akibat kecelakaan di angkasa. Namun tetap saja, pikiran positif itu tidak mampu mengusir gundah.

Saya menarik nafas dalam-dalam, ketika iring-iringan Panglima TNI Joko Santoso tiba di lapanagan terbang. Rombongan bersiap. Seoarang perwira berpangkat letnan kolonel, memberi isyarat kepada kami untuk bergerak menuju pesawat. Momen ini bersejarah, sahabat-sahabat saya harus tahu. Maka saya mengeluarkan handphone sambil berjalan menuju pesawat, saya tulis pesan singkat. “Sebantar lagi aku ke Batam, Ini pertamakalinya aku naik pesawat, sekarang berjalan menuju tangga…” setelah tepat di depan tangga, pesan saya tambah satu kata.. “Hop” pesan terkirim ke Bang Coky. Di pintu pesawat, senyum ramah dua pramugari cantik tetap tak mampu mengusir gundah.

Maksud hati, SMS buat Bang Coky, mau saya lanjutkan ke teman yang lain, tetapi niat itu urung. Pasalnya, saya pernah mendengar bahwa penumpang pesawat tidak boleh mengaktifkan handphone. Jadi begitu duduk, HP langsung saya matikan. Ternyata penumpang lain masih banyak yang sibuk telepon dan ber-sms ria. Prajurit di samping juga tidak mematikan HP-nya sama sekali. Saya tidak peduli, kalaupun pesawat ini celaka, asal bukan karena saya. Begitu dalam hati.

Kami naik pesawat Boeing 737 milik TNI Angkatan Udara dengan fasilitas kelas pertama, tempat duduknya cukup nyaman dan saya sengaja mengambil kursi dekat jendela agar bisa melihat langsung bagaimana rasanya terbang di atas pulau dan melihat awan. Selain Panglima TNI, dalam rombongan kami juga terdapat para Jenderal penting dalam struktur TNI. Sebut saja, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Subandrio, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Sumardjono dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Agustadi SF.

Degup jantung saya main cepat ketika burung besi Boeing 737 itu mengambil posisi lepas landas. Suara tajam dan bising terdengar. Lalu pesawat dipacu dalam kecepatan tinggi. Nafas tertahan, saya dapat merasakan ketika roda pesawat tidak lagi menginjak bumi. Pandangan saya pasrah keluar, tiba-tiba terlintas berbagai peristiwa kecelakaan pesawat yang pernah saya dengar. Adam Air hilang, Lion Air, Garuda yang patah, Pesawat Pemain Manchester yang jatuh, Kecelakaan Helikopter di
kampung saya yang sayak saksikan sendiri.

Peristiwa berkelabatan itu membuat nyali saya benar-benar ciut. Saking parnonya, saya membayangkan, mungkin besok headline seluruh surat kabar adalah “Petinggi-petinggi TNI Tewas dalan Kecelakaan Pesawat.

Sambil larut dalam pikiran jelek, tetapi saya juga takjub ketika pesawat mulai mengudara, saya melihat jalan-jalan, atap rumah, sawah, bahkan gedung saya kira pasti mall pusat grosir cililitan. Dari atas, saya mencoba menerka-nerka daerah mana yang sedang saya lihat. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena pesawat terus naik, sawah-sawah, jalan, atap rumah semakin hilang tertutup selaput udara putih, kabur, saya tak dapat melihat apa-apa. Kemudian pesawat terus naik, sampai akhirnya saya sadar sedang melintas di atas awan.

Ruarrr Biasa. Saya nyaris tidak berkedip. Melihat barisan awan. Ada gugusan awan besar, sangat luas. Tiba-tiba jadi teringat  dongeng tentang negeri di awan. Tentang dewa-dewi yang membangun kerajaan di atas awan, atau teringat cerita doraemon dan nobita yang bertamasya ke negeri di langit.

Hari itu langit memang cerah. Gumpalan awan seputih kapas, tersusun berarak. Bila biasanya saya memendang awan dari bawah, kini saya menyaksikan awan dari atas. Terlihat sangat dekat. Seolah bisa melemparkan diri dan berbaring di sana. Ketika orang lain acuh dan bahkan tertidur, mata saya tak bisa lepas dari jendela.

Dalam kekaguman dan ketakjuban saya melupakan ketakutan dan kekhawatiran akan kematian akibat kecelakaan pesawat. Bahkan saya menyesal pernah merasa takut. “Tuhan saya lebih besar daripada kematian. Masa sich, saya takut,”

Menjelang pesawat turun di Bandara Hang Nadim, saya juga terpesona dengan pulau-pulau Mereka tampak seperti lukisan. Pantai yang putih, gunung, bukit dan air laut yang biru dan tenang. Kapal yang melintasi selat dan laut juga tampak berjalan lambat. Saya sepertinya, ingin cepat turun dan merasakan hidup di tengah mereka, di antara rumah-rumah, perahu, dan jalan yang kusaksikan dari atas.

Pesawat melakukan manufer membelok tajam sebelum melintas menuju Hang Nadim. Saya merasa sakit di telinga, sperti ada yang menyumbat dan menusuk langsung ke otak. Berdenging kencang. Hampir-hampir saya merasa telinga akan mengeluarkan darah. Belakangan saya tahu ternyata ini akibat tekanan udara yang berbeda, dan saya tidak mampu menyesuaikan diri.

Pesawat mendarat dengan mulus di Han Nadim. Upacara militer menyambut Panglima TNI, sedangkan kami, rombongan langsung menuju aula ruang tunggu bandara. Di depan Aula, saya memandang langit, menara pengontrol, landasan pacu dan pepohonan. “Oh inilah rasanya naik  pesawat dan ternyata inilah kota Batam itu,” (vid)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s