Michael Sumacher Jakarta

Seniorku di kantor suka banget naik gunung. Dia pernah bilang, paling enak mendaki gunung pada Oktober or November. Pada bulan itu, dia bilang gunung sepi gak ada yang jaga.

“Loch bukannya gak aman mas?” tanyaku.
“Kalau soal gak aman, di Jakarta juga gak ada tempat yang aman vid” jawabnya.
“Ach lebay lo,” kataku (yang itu,tentu saja diucapkan dalam hati)
Meski berbau lebay (ungkapan indiy barens dan indra bekti di ceriwis) tetapi aku pikir ada benarnya juga dia, terutama menyangkut keselamatan teransportasi.
Tadi sore misalnya. Pulang dari liputan naik bis 213 menuju kantor. Bisnya lumayan lega. tetapi buatku tetap aja gak enak karena semua bangku terisi dan aku doang yang diri.
Aku milih berdiri dekat anak-anak SMA, cewek-cewek pula. Bukan karena aku genit mau nyikat ABG, tetapi menurut perhitunganku anak SMU naik bis gak pernah jauh.
Aji mumpung, salahsatunya senyum-senyum ngelirik gue (sumpeh bukan geer), gue senyumin lagi aja.
Ada tukang koran naik. Biar kelihatan nambah intelek, gue pura-pura beli koran. Kenapa gue bilang pura-pura, karena yang gue beli Sinar Harapan yang duminya udah gue lihat sebelumnya.
Des, bis kota pun melaju. Pertama lumayan pelan. Koran gue rentangkan, nyari halaman ekonomi, sekali lagi biat dikira intelek. Ntuh anak SMU yang item manis ngobrol ama teman-temannya. Suara mereka kenceng banget. Sesekali gue lirik-lirikan.
Halaman politik gue buka, mau cari tulisan sendiri dan tiba-tiba…. Ngiit-ngiit tuch bis sambil oleng, maksain berhenti di depan halte. Alhasil gue meluncur beberapa bangku ke depan. Nyaris nyusuruk, tapi untungnya sempat megang-megang bangku. Kalau gak pegangan, bisa telentang di lantai bis gout. Udah gituh, kebiasaan latah kalau panik keluar…eh eh eh adaapapapaan nich!!!
Semua penumpang bis ngeliat prihatin. Yang kurang ajar, tuch anak-anak SMU ngetawain gue kenceng banget.
Kepalang malu gue tegap lagi, melancarkan umpatan-umpatan kecil sama sopir. Serba salah jadinya, mau marah tapi salah sendiri gak pegangan. Tetapi tuch sopir memang pantas dimarahin. Setelah itu, dia kebut-kebutan selip sana selip sini. Akhirnya gue pegangan yang kenceng. Penumpang yang juga kebagian berdiri, anehnya santai santai saja. Sedangkan gue benar-benar kepayahan. Setiap si sopir meklakukan manuver nyelap-nyelip, gue limbung. Tuch ABG-ABG gue pelototin (ngomongnya jadi pelan).
Bukan satu dua kali gue nyaris terjerembab ke lantai bus loch. Udah lumayan sering, kalau gue ceritain satu-satu bakal panjang. Anehnya, gue selalu merasa belum terbiasa menyesuaikan diri. Kadang ada bis yang pelan banget. sampai-sampai kita bisa diri dengan satu kaki. Tetapi kadang juga ketemu sopir gila yang punya hasrat terpendam mau jadi Michael Sumachernya angkutan kota.

One thought on “Michael Sumacher Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s