Para Priyayi

Novel lama. Terbit pertamakali tahun 1992.  Salahsatu yang terbaik dari sastrawan besar yang sudah mangkat, Umar Kayam. Saya baru selesai membacanya sampai dua kali.

Para Priyayi, ditulis Umar Kayam di New Haven, Conecticut Amerika Serikat

Novel ini bercerita soal Soedarsono, pemuda desa di Jawa awal abad 20, yang membangun dinasti keluarga priyayi. Dia adalah anak petani, nenek moyangnya semua petani. Tetapi orangtuanya ingin Soedarsono tidak ikut jadi petani, melainkan menjadi orang berpendidikan,  pegawai gubernuran (pemerintahan), seorang priyayi.

Soedarsono berhasil. Dia menjadi guru, sebuah pekerjaan yang disegani, dan dianggap tinggi stratanya dalam masyarakat. Namanya pun berubah menjadi Sastrodarsono. Nama yang lebih gagah dan berwibawa. Ternyata orangjawa punya kebiasaan memberi nama besar yang berbeda dengan nama kecil seseorang.

Novel ini sepenuhnya bercerita soal liku-liku kehidupan sebuah keluarga priyayi jawa. Menceritakan soal kebiasaan-kebiasaan, keyakin,   falsafah hidup orang jawa yang meresap menjadi nilai-nilai keluarga. Salahsatu misalnya bagaimana, Sastrodarsono menampung banyak keponakan di rumahnya untuk disekolahkan. Ini tidak lepas dari pandangan turun-temurun dari keluarganya bahwa rezeki tidak boleh dikekep sendiri.

“Kami adalah priyayi Jawa, bahkan petani Jawa, yang tidak pernah akan tega dan puas menikmati makan rejeki kami hanya oleh keluarga pokok, kami saja,” kata Sastrodarsono

Konflik-konflik yang dialami juga sangat khas keluarga. Misalnya soal kenakalan salahsatu keponakan, perjodohan Soemini, anak perempuan Sastrodarsono. Soal kebingungan keluarga ini menyikapi hubungan asmara beda agama, perselingkuhan, hingga hamil di luar nikah.

Latar cerita ini adalah Indonesia mulai dari jaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang yang seumur Jagung, kemerdekaan hingga, kekacauan 1965. Tak heran, diceritakan keluarga ini juga bergesekan dengan dinamika jaman itu.

Misalnya soal bagaimana pemerintah Belanda (Gubernuran) mengekang aktifitas pendidikan pribumi. Lalu bagaimana Sastrodarsono ditempeleng perwira Jepang. Kisah Noegroho si sulung yang jadi opsir Peta,  serta bagaimana Sastrodarsono yang pegawai pemerintah itu nyaris dijagal oleh pemberontak komunis di Madiun 1948, hingga kisah Harimurti cucu mereka yang pada 1965 ditahan karena terlibat Lekra.

Gaya bercerita novel ini menggunakan orang pertama (aku)  dengan tokoh yang berganti-gantian setiap bab. Pertama diawali bab cerita Soedarsono yang baru lulus sekolah dan menjadi guru magang, kemudian bagaimana dia dijodohkan dengan Siti Aisah. Berikutnya giliran Lantip bercerita, dia  anak penjual tempe di desa Wanalawas, yang kemudian ditampung oleh keluarga Sastrodarsono.

Lantip boleh dibilang tokoh utama. Banyak bab yang menggunakannya sebagai pencerita. Dia dikisahkan semakin menghargai keluarga Sastrodarsono. Masa lalunya gelap. Anak dari ibu yang miskin, dan bapaknya bajingan anggota gerombolan rampok. Tetapi Ndoro Kakung Sastrodarsono tetap berrtanggungjawab dan menampungnya dalam keluarga itu. Dia bertekad untuk menjunjung keluarga itu “Mikul Duwur Mendhem Jero,” yang artinya menjunjung tinggi-tinggi keharuman nama keluarga, menanam dalam-dalam aib keluarga.

Karena itulah setelah dewasa, Lantip selalu merasa terpanggil membela anggota keluarga besar Sastrodarsono. Dia tampil paling depan, dalam permasalahan hamil di luar nikah “Marie”, putri Paman Noegroho, dan juga ketika Hari, adik angkatnya,  dituduh terlibat komunis.

Lantip juga yang akhirnya menutup kisah ini di bab akhir, ketika seluruh keluarga besar Sastrodarsono, membawa Sastrodarsono ke tempat pembaringan terakhir. Dia tampil berbicara mewakili keluarga besar.  Memberi pandangan tentang  makna hidup seorang priyayi. Apa arti kata  priyayi? “Sesungguhnya saya tidak pernah tahu Pakde. Kata itu tidak terlalu penting bagi saya.” Ujar Lantip. (Vd)

NB: Kalau ingat gaya bercerita novel ini, saya jadi ingat kisah yang saya tulis sendiri. Jauh sebelum membaca novel para priyayi ini, saya pernah menulis kisah nyata bagaimana saya menyatakan cinta pada seorang perempuan. Lalu di bagian lain saya tulis cerita dengan menggunakan sudut pandang perempuan itu waktu “ditembak” oleh saya. Tulisan yang menarik dan kreatif, sayang sekarang sudah hilang.

About these ads

3 responses to this post.

  1. kalo aku sih cuma penasaran sama kisah penembakan itu. hihihi…

    Balas

  2. Posted by dms on Oktober 1, 2012 at 6:00 pm

    Novel Para Priyayi karya Umar Kayam ini ngingetin gw sama perpustakaan SMA. Janjinya minjem sehari dua hari tapi seinget gw tuh novel akhirnya gak balik ke sekolah juga… Dan bagi gw sampai saat ini novel Priyayi terbukti paling apik dalam menyajika rentetatan cerita konflik dan perjuangan kelas khas golongan jawa sekolahan…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: